Assalamualaykum

Sabtu, 14 Januari 2012

Jangan Malu Hidup Sederhana

Jangan Malu Hidup Sederhana

9/1/2012 | 14 Shafar 1433 H | Hits: 3.704
Oleh: kiptiah hasan
Kirim Print
Ilustrasi (pheezank.blogspot.com)
dakwatuna.com - Kemarin, secara tak sengaja saya menonton acara “Mamah Dedeh on the street” dan dengan tema yang cukup menarik perhatian saya yaitu Jangan malu hidup sederhana. Mungkin terdengar tak bermakna apa-apa atau bahkan hanya menjadi lalu lalang bagi yang tak memperhatikannya. Tapi sesungguhnya makna kalimat tersebut sangatlah dalam.
Kalimat itu mengingatkan saya akan kesederhanaan yang teramat sangat yang di alami oleh Junjungan kita Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalaam.
Dalam suatu kisah Rasulullah :
Suatu hari ‘Umar bin Khaththab RA menemui Nabi saw. di kamar beliau, lalu ‘Umar mendapati beliau tengah berbaring di atas sebuah tikar usang yang pinggirnya telah digerogoti oleh kemiskinan (lapuk).
Tikar membekas di belikat beliau, bantal yang keras membekas di bawah kepala beliau, dan kulit samakan membekas di kepala beliau.
Di salah satu sudut kamar itu terdapat gandum sekitar satu gantang. Di bawah dinding terdapat qarzh (semacam tumbuhan untuk menyamak kulit).
Maka, air mata ‘Umar bin Khaththab RAmeleleh dan ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi Nabi saw..
Lalu Nabi saw. bertanya sambil melihat air mata ‘Umar RA yang berjatuhan, “Apa yang membuatmu menangis, Ibnu Khaththab?”
‘Umar RA menjawab dengan kata-kata yang bercampur-aduk dengan air mata dan perasaannya yang terbakar, “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas di belikat Anda, sedangkan aku tidak melihat apa-apa di lemari Anda? Kisra dan kaisar duduk di atas tilam dari emas dan kasur dari beludru dan sutera, dan dikelilingi buah-buahan dan sungai-sungai, sementara Anda adalah Nabi dan manusia pilihan Allah!”
Lalu Nabi saw. menjawab dengan senyum tersungging di bibir beliau, “Wahai Ibnu Khaththab, kebaikan mereka dipercepat datangnya, dan kebaikan itu pasti terputus. Sementara kita adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?”
‘Umar menjawab, “Aku rela.” (HR. Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad)
Dalam riwayat lain disebutkan: ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sebaiknya Anda memakai tikar yang lebih lembut dari tikar ini.”
Lalu, Nabi saw. menjawab dengan khusyuk dan merendah diri, “Apa urusanku dengan dunia? Perumpamaan diriku dengan dunia itu tidak lain seperti orang yang berkendara di suatu hari di musim panas, lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)
******
Jika kehidupan tauladan kita saja sangat sederhana, bahkan jauh di bawah kita,  mengapa kita yang masih dapat memikirkan makanan apa yang akan di makan besok lalu mengeluh mengenai kekurangan secara materi yang terkadang tak beralasan. Karena kata Rasulullah pun kebaikan sejati untuk umat muslim di tunda atau bukan di dunia melainkan di akhirat kelak. Karena Allah Maha Mengetahui, bahwa dunia adalah persinggahan. Jadi tak perlu menggadaikan akhirat yang lebih kekal dengan kebaikan yang berlimpah yang telah Allah persiapkan bagi orang beriman dengan kemewahan dunia yang hanya sementara.
Jauh berbeda apa yang saya lihat di zaman ini, pemimpin (yang notabene adalah wakil rakyat) justru mendapat fasilitas yang sangat mewah. Terlebih lagi dengan apa yang di dapat, mereka tak pernah merasa cukup. Bahkan terus menerus berusaha memperkaya diri dengan berbagai cara. Berbeda dengan rakyat yang mereka pimpin, begitu menderita. Bahkan tembok harta telah membuat batas yang tak bisa di bendung saking tebalnya. Sangat berbeda dengan pemimpin kita Rasulullah Muhammad Shallahu’alaihi wassalaam.
Salah satu penyebab mengapa banyaknya ketimpangan sosial yang terjadi adalah sifat malu yang teramat sangat. Memang benar malu adalah sebagian daripada iman. Tapi malu yang bagaimana? Jikalau malu untuk berbuat maksiat kepada Allah itu bisa di sebut malu yang merupakan sebagian daripada iman. Tapi malu yang tidak diperbolehkan yaitu malu untuk hidup sederhana. Mengapa ?? karena bisa saja dengan bersikap sederhana meskipun Allah menganugerahkan harta yang berlimpah dapat mengurangi kesenjangan sosial. Misalnya, tak ada lagi ajang pamer kemewahan di jalan raya dengan berlomba mengendarai transportasi yang canggih, pakaian-pakaian mewah dengan perhiasan mentereng atau telepon genggam mahal yang berseliweran di jalan yang mampu mengundang para penjambret dadakan (karena terkadang mereka para penjambret bukan sengaja melakukan kejahatan tapi terpaksa karena terdorong ekonomi yang sulit) untuk beraksi. Karena sederhana bukan berarti hina. Dengan kesederhanaan kita mampu merasakan apa yang terjadi pada orang-orang yang kurang beruntung di banding kita. Selain itu akan melatih hati kita untuk peka akan keadaan sekitar. Sesungguhnya ujian bukan hanya melalui kesulitan tapi juga bisa melalui harta berlimpah. Jika tak pandai kita mengelolanya maka bencana yang akan di dapat.
Karena Allah hanya melihat seseorang dari ketaqwaannya dan bukan dari melimpahnya harta yang di miliki. Orang yang sebenarnya kaya adalah orang yang sederhana namun memiliki sifat mulia. Bahkan harta tak mampu membuatnya berpaling dari Allah.
Allahua’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17387/jangan-malu-hidup-sederhana/#ixzz1jRoz2Ufb

Aktivis Dakwah Kampus dan Romantismenya

Aktivis Dakwah Kampus dan Romantismenya

26/9/2011 | 26 Syawal 1432 H | Hits: 4.572
Oleh: Fajar Fatahillah
Kirim Print
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)
dakwatuna.com - Dua tahun silam, masih teringat tajam kisah perjalanan sekelompok manusia ‎yang mewakafkan dirinya untuk umat. Kisah manusia pilihan yang hidup untuk memperbaharui peradaban.
Mereka dipersatukan sejak awal masuk kampus, namun ada juga yang datang kemudian. Mereka belajar bersama, mereka berjuang sama, mereka bergerak bersama, dalam satu cita, Islam.
Perjalanan dakwah tak selamanya dihiasi ukhuwah yang indah, kadang adakalanya timbul pertengkaran kecil, kadang hadir cinta dan persahabatan yang kekal. Semua kejadian, semua problema, semua konflik antar aktivis dakwah, bukan menandakan dakwah menghancurkan ukhuwah, justru dakwah ini telah mempererat ukhuwah.
Di tengah perjalanan masa perkuliahan, ketika tanggung jawab dan amanah sudah waktunya diberikan, mereka pun dengan semangat memilih jalan masing-masing, ada yang memilih jalur siyasah ( BEM) , LDK, DKM, Himpunan, dan lembaga-lembaga lainnya baik yang internal ataupun eksternal.
Sejak saat ini, mereka mempunyai tugas dan peran yang berbeda, meskipun tetap berada pada halaqah yang sama.
Roda perjalanan pun berputar seiring jaman. Berbagai masalah dan konflik mulai berdatangan. Inilah ujian keimanan dan tujuan kita dipertemukan dengan tarbiyah.
Ketika ukhuwah mendapat ujian, mulailah timbul ketidakpercayaan, ketika agenda-agenda dakwah berantakan dan saling bertabrakan, mulailah mereka saling menyalahkan. Ketika banyak tantangan dan ujian, tidak sedikit mereka berjatuhan, mundur lantas menghilang dari pentas dakwah.
Ketika halaqah, yang seharusnya menjadi ajang untuk konsolidasi, memperbaiki dan menyatukan arah dakwah, digunakan sebagai ajang perdebatan, halaqah yang biasanya dipenuhi cinta dan ketenangan, berubah menjadi tangis dan kekacauan.
Perbedaan yang sebenarnya kecil, bisa berubah menjadi besar dan berujung konflik antar lembaga dalam menentukan arah dan strategi dakwah.
Namun sekali lagi, ini bukanlah kehancuran, karena pada hakikatnya, ini adalah proses menuju kedewasaan dalam mengelola perbedaan.
Dakwah kampus memang memiliki keunikan, dinamis dan memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Maka, tidak heran jika permasalahan dan tantangan juga tinggi dan beragam. Namun, di sinilah letak dari proses pembelajaran, pendewasaan dan persiapan yang matang sebelum terjun ke masyarakat.
Pertengkaran kecil itu akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan, menjadi perekat yang sangat kuat dalam persaudaraan. Menjadi sebuah kerinduan.
Dan akhirnya, kelulusan seakan menjadi akhir dari perjalanan, mereka mulai berpisah, ada yang tetap istiqamah melanjutkan dakwah dan tarbiyahnya, baik di kampus atau di masyarakat, namun ada juga yang berhenti dari dakwah dan tarbiyah, dan memilih jalannya sendiri.
Itu semua pilihan, yang pasti romantisme dakwah kampus telah membuat mereka dewasa, mempererat ikatan hati mereka, mengekalkan cintanya, bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan.
Semoga Allah membimbing, memberi keistiqamahan dalam langkah mereka, dalam jalan mereka, mengekalkan cinta mereka, memberikan azam dan tekad dalam dakwah dan tarbiyahnya, dan mempersatukan mereka di dunia dan di surgaNya.

* Didedikasikan kepada Aktivis Dakwah Kampus di seluruh Indonesia, Forum Silaturahim Lembaga Dakwah (FSLDK), dan khusus kepada sahabat perjuangan di kampus putih biru, Bandung Selatan
Dakwah tak akan mati, tapi kita akan mati.
Kita akan mati sebagai pengemban Dakwah atau Mati sebagai beban bagi Dakwah?
Bergerak, dan terus bergerak, untuk kebangkitan Dakwah Kampus.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/09/14971/aktivis-dakwah-kampus-dan-romantismenya/#ixzz1jRoWVTo2

Sedikit Tentang Ukhuwah

Sedikit Tentang Ukhuwah

28/10/2011 | 01 Zulhijjah 1432 H | Hits: 1.589
Oleh: catur edi gunawan
Kirim Print
Ilustrasi (w4hyud1.wordpress.com)
dakwatuna.com - Dakwah seperti telah kita ketahui akan selalu ada di bumi ini, tinggal diri kita yang menentukan apakah akan bergabung di dalamnya atau tidak. Dakwah kampus juga demikian, namun lebih ditekankan pada proses belajar tentang dakwah pasca kampus. Dakwah kampus ibaratnya prototipe dari dakwah setelah di kampus. Masalah-masalah yang dihadapi, tantangan dan ujian di dalam dakwah kampus menjadi kawah candradimuka bagi kader-kadernya. Sehingga setelah pasca kampus akan lebih siap menghadapi rintangan dan ujian yang lebih besar lagi.
Dalam dakwah kampus juga terdapat sistem yang mengatur di dalamnya, terdapat qiyadah, jundi, dan manhaj. Lalu, kita mengenal kerja-kerja dakwah yang disebut dengan amal jama’i. Sesederhana itukah dakwah kita? Ternyata tidak, ada hal-hal lain yang menjadi penopang amalan dakwah dan amal jama’i. Ruhiyah kita mesti terjaga, ukhuwah kita mesti terjalin dengan erat. Ketika amalan dakwah terasa hambar atau kurang ada perkembangannya, maka yang pertama dilihat adalah ruhiyahnya dan yang kedua adalah ukhuwah.
Ruhiyah mungkin sudah banyak kita mengetahuinya, oleh karena itu tulisan ini ingin berbagi tentang ukhuwah, suatu hal yang terasa dekat dan mudah namun ternyata kita masih gamang dalam melaksanakannya. Tulisan ini sedikit refleksi bagi kita, mungkin ukhuwah kita selama ini belumlah ukhuwah terbaik yang kita berikan kepada saudara kita.
Kita mengenal tingkatan-tingkatan dalam ukhuwah. Ternyata, untuk menuju itsar itu tidak mudah, bahkan sering kita merasa sudah sampai tahap saling tolong menolong, padahal kita belum mengenal siapa saudara seperjuangan kita dengan baik dan mendalam. Boleh jadi kita merasa telah membantu saudara kita, ternyata sesungguhnya saudara kita itu tidak membutuhkan bantuan yang kita berikan. Sederhananya kita salah memberi bantuan.
Banyak kader dakwah yang beraktivitas tetapi juga berkutat dengan permasalahan dirinya, seperti masalah keluarga, keuangan, dan akademis banyak ditemui di kalangan aktivis dakwah kampus. Bahkan, termasuk diri kita yang sedang menghadapi masalah tersebut. Kondisi ini terkadang membuat amalan dakwah menjadi kurang maksimal, beberapa kader mampu menghadapi masalahnya sehingga amalan dakwah tetap berjalan dengan profesional, namun yang lain tidak demikian. Pada keadaan seperti itulah ukhuwah seharusnya tampak.
Tak mudah untuk memberi perhatian ketika diri kita pun memiliki permasalahan yang harus diselesaikan. Namun, menjadi egois ketika saudara seperjuangan tidak kita coba bantu menyelesaikan permasalahannya. Pada saat seperti itulah ukhuwah menjadi sebuah ujian.
Ikhwah fillah, sesungguhnya dalam berukhuwah ada pelajaran lain yang bisa kita ambil. Pelajaran tentang empati yang membuat kita mampu lebih memahami saudara kita dan mampu memberikan bantuan yang terbaik bagi saudara kita. Empati itu hadir ketika kita mau belajar untuk mendengarkan tentang kabar saudara kita. Bukan sekedar mendengarkan biasa, tetapi memaknai setiap kabar yang diceritakan oleh saudara kita. Bukan pula mendengarkan secara basa-basi dimana telinga kita mendengarkan tetapi pikiran kita jauh ke hal lain. Empati akan muncul dari diri kita yang mampu mendengar dengan hati dan pikiran yang berada di sini dan saat ini.
Kita juga belajar tentang pengorbanan dalam berukhuwah, membantu seorang saudara terkadang harus mengorbankan sesuatu hal yang pada diri kita. Ikhlas adalah kunci untuk kita dapat menikmati pengorbanan itu. Berkorban tanpa menuntut adanya balasan terhadap apa yang kita lakukan. Berkorban karena kita ingin mengungkapkan rasa cinta kita pada sahabat seperjuangan.
Ikhwah fillah, adakalanya dalam berukhuwah kita menjadi sedikit lebih feminin. Bukan berarti mengubah perilaku kita, tetapi mencoba menggunakan sifat-sifat feminin dalam berinteraksi membangun ukhuwah dengan saudara kita. Maskulin identik dengan superioritas, ingin menonjol, dan ambisi yang besar. Sedangkan feminin identik dengan sifat mengalah, tidak menonjol atau setara dengan yang lain, dan mampu menutupi ambisinya. Dalam membangun ukhuwah juga demikian, kita mencoba lebih feminin dengan mau menjadi pendengar yang baik, tidak meremehkan permasalahan, dan mampu menunjukkan empati terhadap kondisi yang dihadapi saudara kita.
Ikhwah fillah, ketika kita menginginkan ukhuwah yang terjalin dengan erat, maka senantiasa kita coba hadirkan wajah-wajah saudara seperjuangan kita, wajah-wajah keluarga kita dalam lantunan doa rabithah kita. Tak lupa pula kita sekedar menyapa saudara-saudara kita dengan senyum dan perkataan yang baik. Semoga Allah mempertemukan kita di surgaNya kelak.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15835/sedikit-tentang-ukhuwah/#ixzz1jRoA83MB

Mari Tetap Beramal

Mari Tetap Beramal

10/1/2012 | 15 Shafar 1433 H | Hits: 670
Oleh: Dwi Purnawan
Kirim Print
Ilustrasi (flickr.com/aremac)
dakwatuna.com - “Pikiran tak dapat dibatasi, lisan tak dapat dibungkam, anggota tubuh tak dapat diam. Karena itu jika kamu tidak disibukkan dengan hal–hal besar maka kamu akan disibukkan dengan hal-hal kecil”.(Abdul Wahab Azzam)
Alhamdulillah, ikhwah, seiring berjalannya waktu, aktivitas-aktivitas tarbiyah kita akan semakin padat merayap, akan senantiasa banyak hal-hal besar yang mesti kita segera selesaikan. Sedangkan ruang-ruang yang tersedia dalam dakwah ini akan semakin terbuka lebar. Konsekuensi dari ruang-ruang yang semakin terbuka lebar tersebut, adalah cobaan dan hambatan yang membersamainya pun akan semakin kuat dan tak terbendung. Ibarat bendera yang lebar, kibarannya akan kencang, tiupan angin dan gangguan cuaca, serta suhu pun akan semakin kuat. Hal ini menuntut dan mengharuskan tang pemancangnya harus kokoh menahan guncangan. Begitu juga dengan dakwah ini, semakin kuat hambatan dan rintangannya, akan menuntut kekokohan kapasitas dan mentalitas kader-kader pengusungnya.
Salah satu hal yang tertarik ingin saya bicarakan dalam artikel ini terkait pengokohan dakwah (Bithanah Ad-Da’awiyah) bagi para kader dakwah adalah tentang risalah ta’lim poin ke tiga, al-amal. Tentang amaliyatud Da’wah.
Kita sangat paham bahwa roda perputaran dakwah ini merupakan tuntutan sepanjang zaman dalam rangka mewujudkan misi ajaran Allah SWT. Sehingga selalu bergulir dari satu generasi ke generasi lainnya. Mengajak umat manusia kepada jalan kebajikan dengan menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran agar tidak ada lagi fitnah di muka bumi. Amaliyah ini senantiasa ada selama masih berputarnya roda kehidupan.
Tabiat amal memang selalu muncul dan muncul tanpa pernah bisa dibendung. Waktu yang berjalan mengiringi jalannya amal. Bahkan keduanya saling berlomba berdatangan. Kadang waktu mampu menyelesaikan sebuah amal. Namun tidak jarang pula amal datang tanpa bisa waktu menuntaskannya meski telah berlalu beberapa penggalannya. Malah seringkali amal itu lebih banyak dari waktu yang tersedia sehingga ia tidak bisa diselesaikan oleh satu kurun waktu atau satu generasi, tetapi ia diselesaikan oleh kurun waktu yang lain atau generasi berikutnya.
Kedatangan amal yang tak kenal henti sudah menjadi tabiat alam semesta. Selama putaran alam ini tidak pernah berhenti maka selama itu pula putaran amal yang tak akan berhenti. Meski demikian bagi seorang kader dakwah putaran waktu yang seiring dengan putaran amal bukanlah sesuatu yang harus dihindari melainkan harus diantisipasi agar dapat mengikuti alur perjalanan waktu dan amal. Seorang ulama dakwah telah mengingatkan para a’dho nya dengan menyatakan ‘fajri bihadzihil ‘amal, tajri ma’aka, mengalirlah bersama amal-amal ini niscaya ia akan mengalirkan dirimu’. Karena itu catatan yang perlu kita tulis adalah jangan sampai mengabaikan kesempatan dan peluang yang telah diberikan kepada kita. Namun bila hal ini terabaikan maka nikmat kesempatan itu menjadi sia-sia. Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa, ‘ada dua kenikmatan yang sering dilupakan manusia yakni kesempatan dan kesehatan’. (HR Muslim).
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa hakikat seorang mukmin sejati adalah beramal, beramal, dan beramal. Sehingga seluruh waktunya selalu diukur dengan produktivitas amalnya. Karena itu diam tanpa amal menjadi aib bagi orang beriman. Mereka harus mencermati peluang – peluang untuk selalu berbuat. Maka perlu diingat bahwa ‘nganggur’ akan dapat menjadi pintu kehancuran. Tidaklah mengherankan bahwa banyak ayat maupun hadits yang memberikan motivasi dan rangsangan agar selalu berbuat dan menghindari diri dari sikap malas dan lemah untuk berbuat. Untuk itu Rasulullah SAW menyegerakan para sahabat melanjutkan agenda lainnya sebab bila tidak, yang terjadi adalah peluang konflik dan friksi antar sesama atau bahkan disibukkan dengan hal-hal sepele.
Irama hidup orang yang beriman hendaknya selalu terus berada siklusnya yang mesti berputar maka sesudah menunaikan satu tugas ia harus menyiapkan diri untuk menunaikan tugas lainnya. Siklus demikian dapat menyehatkan diri dan amalnya karena ia mampu memanfaatkan waktunya untuk mengukir goresan indah.
“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al-Insyirah: 7)
Bila perjalanan amal yang begitu panjang sering terjadi dalam kehidupan ini maka tidak ada pilihan lain kecuali mempersiapkan diri untuk mengarunginya. Salah satu penyiapan yang amat perlu dimiliki adalah sikap tidak pernah lelah dan terus merasa lelah akan memperkecil potensi produktivitas dan menggerogoti energy untuk berbuat. Maka kita perlu mengantisipasi dan memerangi kelelahan kita. Bisa dengan recovery tarbiyah dengan mendisiplinkan diri dalam menerapkan manhaj, rihlah tarbawiyah, siyasah atau amal-amal tarbawi lainnya. Kata Rasulullah SAW suatu ketika, ‘rehatkanlah hatimu karena hatimu tidak terbuat dari batu’. Oleh karena itu semangat beramal dalam dakwah, amaliyatud dakwah harus selalu menjadi motivasi kita dalam kerja-kerja besar itu, dan tidak boleh redup. Ia perlu dikobarkan kepada segenap sanubari para aktivis dakwah. Wallahu ‘alam bi shawab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17979/mari-tetap-beramal/#ixzz1jRneMIlG

Tawakal Saja Biar Allah yang Menyegerakannya

Tawakal Saja Biar Allah yang Menyegerakannya

9/9/2011 | 10 Syawal 1432 H | Hits: 7.215
Oleh: Shita Ismaida
Kirim Print
Ilustrasi (Erina Prima)
dakwatuna.com - Ada serumput bahagia menghempas jiwa, ada kesejukan mengalir tenang membasahi hati dalam raga, ada bias-bias cahaya yang terus memancar terang untuk memapah tiap langkah agar dapat berjalan.
Sejenak merenung, ada banyak permohonan yang hampir tak pernah putus terpanjatkan kepadaNya, namun…hingga sekarang belum juga terwujud.
Ada banyak permintaan yang terucap kepadaNya, namun hingga detik ini belum juga terpenuhi.  Mungkin, saya pernah merasakan lidah yang hampir kelu karena terus bermunajat namun belum juga terijabah, atau kelelahan batin yang begitu meletihkan karena doa yang hampir selalu terucapkan, namun belum juga terjawab.
Sungguh, tiap-tiap bait dalam doa yang terucapkan bagi saya itu adalah energi yang membentuk ketahanan kita dalam menghadapi ujian hidup. Ia adalah senjata, karena dengannya kita mendapat bantuan dari yang Maha Kuat.
Ya…kekuatan iman kita justru akan semakin tampak tatkala kita berupaya sekuat tenaga dan terus menerus memanjatkan doa, namun kita belum juga merasakan perubahan.
Kembali teringat akan sebuah kutipan kata yang begitu membekas dan mengena di hati “Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian. Di saat ia tetap totalitas dalam berdoa tapi ia belum juga melihat pengaruh apapun dari doanya. Ketika, ia tetap tidak merubah keinginan dan harapannya, meski sebab-sebab berputus asa semakin kuat. Itu semua dilakukan karena ia yakin bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang lebih maslahat untuk dirinya.”
Hampir sama kondisinya dengan orang yang menaiki gunung tinggi. Ia dianjurkan untuk tidak terlalu sering melemparkan pandangannya ke atas gunung yang harus ia daki, karena bisa memunculkan ketidakpercayaan diri dan membebani langkahnya untuk terus mendaki. Tapi, ketika ia turun dari tempat yang tinggi, ia juga dianjurkan untuk tidak terlalu sering melihat jauh ke bawah. Karena jauhnya daratan yang ia lihat bisa menimbulkan kelemahan pada jiwa.
Adalah suatu kefitrahan bila kita merasa resah atas tiap bait-bait doa yang belum terjawab. Tawakal saja…bila kita tak pernah berhenti berdoa, dalam tiap kesunyian kita terus mengiba dengan penuh harap dan cemas dalam doa.
Bukankah orang-orang yang memohon dan menginginkan doanya segera terkabul, cepat terwujud adalah bukti dari kelemahan iman?
“Sesungguhnya Allah tidak pernah mengabulkan doa dari hati yang lalai.”
Akhirnya kita masih memiliki sumber kegembiraan sejati yaitu doa yang membuat keimanan kita semakin hari semakin kuat.
Maka sekarang tawakal saja…biar Allah yang menyegerakannya, menyegerakan kita dalam kebaikan yang menghantarkan kita menuju keridhaanNya.
Wallahu’alam Bish Showwab..

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/09/12100/tawakal-saja-biar-allah-yang-menyegerakannya/#ixzz1jRmMO22S

Allah Ada di Dekatku

Allah Ada di Dekatku

30/12/2011 | 05 Shafar 1433 H | Hits: 3.129
Oleh: kiptiah hasan
Kirim Print
Ilustrasi (temonsoejadi.wordpress.com)
dakwatuna.com - Ternyata Allah begitu dekat, melebihi dekatnya urat nadi pada tubuh kita.
Pada Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 186,
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Bahkan jika kita berjalan mendekat kepada Allah, Allah akan berlari menyambut kita. Kasih sayang Allah begitu terasa, walaupun ketika kita dalam keadaan sulit sekalipun. Karena Allah tak inginkan kita lemah jika hanya memberikan kita kesenangan dan kemudahan dan Allah tak inginkan kita terus menerus berurai airmata tanpa di selingi kebahagiaan yang menerbitkan rasa syukur.
Tak perlu jauh-jauh mencari sebuah kebahagiaan, tak perlu risau dengan kesulitan. Tak perlu biaya mahal untuk mendekatiNya, tak perlu jauh-jauh mencariNya. Karena Allah ada di hati orang-orang yang beriman. Asalkan keyakinan tumbuh di dalam hati, keyakinan akan apa yang di berikan Allah adalah yang terbaik dan akan ada hikmah setelahnya maka apapun yang terjadi bisa di syukuri, Insya Allah. Bila sekarang kita mengalami kondisi yang kurang baik atau dalam kata lain sedang dalam ujian, yakinlah bahwa setelah kesulitan ada kemudahan dan Allah tidak semata-mata memberikan kesulitan tanpa adanya pelajaran dan janji peningkatan derajat bagi mereka yang mampu melaluinya dengan sabar dan tawakkal.
Kebahagiaan yang tak mampu di sandingkan dengan kemewahan duniawi, kedekatan kepada Allah. Selalu merasa dekat, merasa di awasi, hingga apapun yang kita lakukan menjadi terkontrol dan memiliki nilai positif di mata Allah.
Jika terkadang kita merasa di abaikan manakala sulit mencari telinga yang mampu menampung segala resah dan masalah yang sedang di alami, tapi sesungguhnya telinga Allah akan selalu ada dan setia setiap saat mendengar keluh kesah hambaNya. Karena fitrah manusia adalah berkeluh kesah dan sebaik-baik berkeluh kesah hanyalah pada Allah. Allah tak akan pernah bosan mendengarkan hambaNya yang meminta, sebanyak apapun. Hanya kepada Allah manusia menyembah dan hanya kepada Allah manusia meminta pertolongan, bukan yang lain. Allah adalah tempat meminta segala sesuatu. Allah justru akan benci kepada hambaNya yang tak pernah meminta, karena merupakan hamba yang sombong. Karena sejatinya manusia tak mampu berbuat apa-apa melainkan karena kekuatan dari Allah. Jikalau doa kita tak langsung di kabulkan, baiknya adalah selalu berprasangka baik. Bisa jadi doa tersebut tak baik untuk kita atau belum saatnya atau mungkin di simpan untuk di akhirat kelak dan berbuah pahala.
Lalu apakah kedekatan kita dengan Allah bisa muncul dengan tiba-tiba tanpa adanya usaha terlebih dahulu ?
Seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Pada awalnya mereka tak saling mengenal, apalagi timbul sebuah rasa. Namun karena intensitas pertemuan yang makin tinggi dari waktu ke waktu sehingga menimbulkan rasa kasih dan sayang. Pertemuan-pertemuan tersebut menimbulkan pemahaman dan pengenalan terhadap diri masing- masing. Rasa kasih sayang yang timbul lambat laun menimbulkan rasa cinta, tatkala kekasihnya meminta sesuatu darinya maka tak akan sanggup dia untuk menolak permintaannya. Begitu pun dengan Allah. Allah tak akan melekat dalam hati jika kita tak ingin mengenalNya. Dengan belajar mengenal Allah, melalui ibadah dan menjalankan segala perintahNya serta menjauhi segala larangannya maka Allah akan dekat kepada kita. Apapun yang kita minta selama itu baik untuk kita, Allah tak akan segan untuk memberinya. Jikalau Allah memberikan sesuatu yang tidak kita sukai, yakinlah bahwasanya apa yang kita suka belum tentu yang terbaik untuk kita dan apa yang Allah berikan adalah yang terbaik yang kita butuhkan.
Jadi, bahagia itu adalah dekatnya kita dengan Sang Pencipta bukan yang lain. Di mana ketenteraman itu akan muncul melebihi segala kenikmatan duniawi. Kesulitan pun menjadi indah tatkala Allah menjadi tumpuannya. Sungguh, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.
Allahua’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17358/allah-ada-di-dekatku/#ixzz1jRmAu5ib

“Pesan Misteri Pak Kyai”

“Pesan Misteri Pak Kyai”

26/12/2011 | 01 Shafar 1433 H | Hits: 1.928
Oleh: Kusnadi El-Ghezwa
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com – Takbir telah berkumandang, menandakan Hari Raya Idul Adha telah tiba. Namun sayang, setelah itu tidak terdengar lagi suara takbir yang muncul menggema dari setiap pelosok negeri terbenamnya matahari ini (Maroko). Suara itu hanya muncul satu kali sebagai tanda telah tiba datangnya hari raya.
Sangat jauh berbeda dengan kebiasaan di tanah air pada umumnya. Setiap kali hari raya tiba suara takbir dan tahmid pun terdengar merdu dan indah dari berbagai pelosok nusantara sebagai pernyataan dan pengakuan terhadap keagungan Allah SWT. Takbir yang diucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti, tetapi merupakan pengakuan dari dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa dalam sanubari. Suasana seperti inilah yang membuatku rindu ingin bertemu dan berkumpul dengan saudara, keluarga dan teman-teman di tanah air.
Setelah seharian ikut menyemarakkan ‘Ied Adha bersama teman-teman di KBRI, rasa capek pun menyelimuti tubuh yang cepal ini. Selesai shalat Isya saya langsung memejamkan mata agar kesehatanku tetap terjaga. Lagi-lagi aku tidak mendapatkan tempat tidur yang nyaman, untuk mendapatkan tempat tidur yang nyaman saya terpaksa harus berdesak-desakan. Maklumlah karena ruangannya yang kecil, jadi untuk menampung mahasiswa Indonesia yang datang dari berbagai kota di saat liburan tiba tidak memadai, bahkan ada juga yang tidur di depan pintu dan di pinggir rak sepatu. Bagiku itu tidak jadi masalah dan bukanlah hal yang aneh karena sebelumnya saya sudah terbiasa mengalami hal yang sama di saat aku masih belajar di pondok pesantren. Tanpa sadar mataku sudah terpejam berada di bawah alam sadar dengan di temani mimpi indah yang menerbangkanku ke langit yang tinggi menggapai bintang-bintang yang berkerlipan di malam hari.
Mimpi yang sempurna.
BRAKKK..!! suara itu spontan membuyarkan konsentrasiku di saat aku lagi asik-asiknya bercengkerama dengan Kalamullah, seketika itu aku teruskan sampai ayat terakhir kemudian aku tutup Al-Quran yang ada di tanganku dan kuletakkan di atas lemari dengan sebelumnya ku ucapkan kalimat shodakallohul’adzim.
Badri, anak kelahiran Riau yang di beri kesempatan untuk mengenyam pendidikannya di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum saat ini ia lulus dari sekolah tingkat menengahnya di Madrasah Muallimin Muallimat Tambakberas Jombang, dan aku adalah salah satu di antara 350 temannya yang lulus.
Setelah sebulan lamanya menunggu dengan penuh rasa cemas dan deg-degan akhirnya hasil tes beasiswanya ke Mesir lulus juga. Kini sang pemimpi berhasil mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan dan sempurna. Rasa syukur langsung terucap lewat bibirnya yang terus bergerak-gerak karena sangat senang mendengar kabar gembira tersebut. Sampai ia tak sadar kalau dia telah membuka pintu kamarku dengan begitu kerasnya. Aku yang dari tadi menunggu kabar tersebut ternyata tesku tidak lulus. Di antara 3 peserta yang ikut tes ternyata Badrilah yang beruntung dan berhak meraih tiket untuk belajar ke Cairo Al-Azhar yang terkenal dengan sebutan negeri kinanah, yang menjadi dambaan bagi para pelajar.
Teman satunya lagi yang senasib denganku adalah Mahmudah dari Bangkalan, kami bertiga adalah perwakilan dari sekolah kami berasal. Meski terpaan badai dan ombak telah menghantamku semuanya tidak kujadikan alasan untuk menyurutkan niat dan semangat belajarku agar bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri.
Berjuang demi cita-cita mulia.
‘’Live is struggule’’ begitulah pepatah Inggris mengatakan, bahkan tidak sedikit guru-guru yang menyontek kalimat tersebut untuk memotivasi murid-muridnya supaya ketika mereka menghadapi ujian dan cobaan di dalam belajar terus bertahan dan tetap tegar karena hidup adalah sebuah perjuangan. Ibarat seseorang yang ingin mendapatkan berlian yang berada di dasar lautan ia harus menyiapkan bekal dan perlengkapan yang dibutuhkan selama berlayar, ia juga harus sabar, kuat dan tangguh di saat menghadapi dahsyatnya terpaan badai dan besarnya ombak yang terus menghantam. Setelah melewati semuanya ia harus menyelam ke dasar lautan untuk mengambil berlian yang tersimpan di dalamnya.
Begitulah kira-kira gambaran perjuanganku ketika aku mendapat tugas untuk mengabdi di salah satu cabang pondok pesantren Gontor, tepatnya di pondok pesantren Darussalam Eretan kulon Indramayu. Spontan jantungku berdetak begitu kencang setelah sang Direktur pondok pesantren tersebut memberi pengarahan kepada semua pengajar baru yang intinya mewajibkan kepada semua guru untuk berbicara bahasa Arab dan inggris selama mengajar.
Wlily nilly aku harus menerima tantangan tersebut. Berbekal ijazah Aliyah dan bahasa inggris serta secuil kemampuan yang kumiliki, kuhadapi dengan penuh semangat, karena aku tidak ingin membiarkan garis takdir semena-mena menghalangi keinginanku untuk meraih ilmu di negeri seberang. Tidak hanya menahan malu karena sulitnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh murid-muridku ketika berada di kelas, saya juga harus berani mengambil resiko besar,  dicibiri, digunjing bahkan terkadang mereka menyindir langsung di depanku karena kurang profesionalnya aku di dalam mengajar.
Terkadang aku bingung dan merenung sendiri di kamar memikirkan bagaimana solving problem yang tepat untuk menghadapi masalah yang sedang kuhadapi.
Sudah 30 hari aku berada di pondok tersebut namun sekalipun aku tidak pernah melihat batang hidung orang yang telah membawaku ke tempat ini, sebut saja Badrussalam dia adalah tetangga dekatku yang meraih gelar doktornya di Sudan sekaligus orang yang telah memperkenalkanku dengan mertuanya (pengasuh pondok pesantren Darussalam) agar selama dia bertugas menjadi mursyid haji di mekah sayalah yang menggantikan posisinya sampai ia selesai tugasnya. Di sisi lain dia juga yang telah memberiku peluang dan siap membantuku agar bisa kuliah keluar negeri (Yaman) dengan catatan mengabdi dulu selama setahun.
Hujan rintik-rintik yang membasahi bumi di tengah malam hari sembari diiringi kilatan petir membuatku terbangun dari tidurku, entah apa yang telah merasuk ke dalam jiwaku hingga yang ada dalam benakku adalah bayangan rasa malu dan cibiran guru-guru yang terus mengejekku karena kebodohanku.
Aku beranjak dari kamar tidurku menuju kamar mandi guna mengambil air wudhu, kuambil sarung dan peci di atas mejaku, kugelar sajadahku dan bermunajat kepada Allah swt memohon agar diberi hidayah dan jalan keluar yang terbaik pada hamba-Nya yang sedang dirundung kesulitan.
Dengan ketekunan dan keberanian yang terus membara di hatiku Allah telah merubah keadaanku menjadi lebih baik, sepulangnya mas Badrus dari mekah yang seharusnya menggantikan posisiku kembali, yang terjadi malah sebaliknya, sebelumnya aku hanya mengajar khot, nahwu, shorof, bahasa Arab dan bahasa inggris kini di tambah dua pelajaran lagi fiqih dan tarekh Islam mulai dari kelas 1 SMP sampai kelas 2 SMA.
Dari sinilah banyak sekali pelajaran-pelajaran yang kudapatkan. Dimana perjuangan untuk mendapatkan sesuatu membuatku mengerti makna hakiki tentang hidup yang sukar atau hidup yang bahagia. Bahwa banyak hal yang tidak mudah dalam hidup ini. Bahwa banyak hal yang tidak kita inginkan akan tersedia dengan gratis tanpa perjuangan dan pengorbanan. Bahwa apa yang kita peroleh sering kali menyimpan mega perjuangan panjang yang tak ternilai, rumit, melelahkan, kadang berlinang air mata. Bahwa itu semua tidak serupa dengan apa yang kita inginkan. Dan yang paling penting setiap cita-cita yang kita capai harus ditempuh dengan ketekunan dan keberanian
Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda
Cerah indah mentari pagi menyapaku melalui celah-celah jendela, kubuka tirai yang menutupi dan membuat gelap kamarku, kubiarkan cahaya masuk dan mengusir kegelapan malam, mataku memandang jauh keluar jendela memandang daun-daun yang menari ditiup angin, suara kicau burung yang ada di atasnya melengkapi kegembiraanku.
Pagi itu aku bermaksud ingin memberikan kabar gembira kepada ibuku atas kelulusanku mengikuti tes beasiswa ke Yaman, setelah mendengar berita itu ibuku hanya bisa tersenyum manis diiringi tetesan air mata, senang karena anaknya telah berhasil melewati ujiannya di sisi lain merasa sedih dan bersalah karena tidak bisa memberiku uang 20 juta untuk membeli tiket dan uang jaminan jika aku sudah berada di Yaman. Aku pun mengerti keadaan ibuku yang menanggung beban keluarga sendirian karena ayahku telah meninggal 4 tahun yang lalu karena terserang kencing manis dan liver.
Setahun sudah aku menanti dengan penuh kesabaran dan pengharapan, setahun sudah ku melewati pahit getirnya perjuangan, kini harapan manis itu jauh sudah dari mataku serasa lenyap ditelan bumi entah ke mana.
Pesan misterius.
Di saat aku bingung menentukan arah hidupku, tiba-tiba nada dering HP ku berbunyi “Assalamu’alaikum Kusnadi, kamu sekarang dimana? Secepatnya datang ke tambakberas aku tunggu“. “Ya pak Kyai secepatnya aku berangkat” jawabku singkat. Karena tabiat santri yang nurut dan manut terhadap Kyai tanpa pikir panjang aku meluncur ke Tambakberas. 12 jam perjalanan dari Brebes menuju Jombang membuat badanku lelah dan letih. Tanpa basa-basi sesampainya di Tambakberas pak Kyai menyodoriku brosur pendaftaran tes beasiswa ke Maroko.
Setelah melengkapi semua persyaratan yang di butuhkan untuk mengikuti tes beasiswa ke Maroko yang bekerja sama dengan lembaga PBNU pusat Jakarta, paginya aku mendatangi rumah pak Kyai memohon doa restu sekalian pamitan mau mengikuti tes di Jakarta. Lagi-lagi aku mengalami kegagalan yang sama, dari sekian banyaknya peserta aku diterima sebagai cadangan. Pak Kyai ku yang saat itu sedang terbaring di rumah sakit membuatku ragu untuk menyampaikan kegagalanku.
Enam tahun sudah pak Kyai mendidikku, membimbingku dan menanggung semua biaya sekolahku selama di pesantren membuatku malu di hadapan beliau setelah menanyakan hasil tesku. qul bihaqqi walau kan murron itulah salah satu pesan beliau ketika mengajar di pesantren sehingga mendorongku untuk menyampaikan hasil tesku apa adanya.
Bukannya sedih ketika mendengar kabar itu, justru beliau tersenyum dan terus memotivasiku agar terus berusaha dan berdoa dengan optimis, beliau pun berkata wala taiasu min rouhilah (janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah. Di akhir pesannya sebelum meninggal dunia, beliau berkata tidak lama lagi kamu pasti akan menjemput mimpimu yang terpenting sekarang matangkan persiapanmu untuk menjemput impianmu.
Itulah pesan misterius yang kuterima dari seorang Kyai yang rela berkorban untuk santri dan masyarakatnya tanpa pamrih dan tanpa adanya tendensi yang lain.
Sebulan kemudian pesan misterius itu benar-benar menjadi kenyataan setelah sehari sebelumnya pak Kyai menghembuskan nafas yang terakhirnya. Semoga segala amal ibadahnya di terima di sisi Allah swt dan ampuni segala dosa-dosanya.
Terima kasih pak Kyai ku yang telah menunjukkan jalanku menuju negeri impian (Maroko), negeri para wali yang juga terkenal dengan sebutan negeri seribu benteng.
Seketika itu aku terperanjat dan bangun dari tidurku, setelah bertemu dengan Kyai ku di dalam mimpi. Ku lihat jarum jam yang terpasang di atas televisi tepat menunjukkan pukul 00. 07 pagi. Ternyata sang pemimpi telah bermimpi dengan mimpi-mimpinya yang telah menjadi kenyataan.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17615/pesan-misteri-pak-kyai/#ixzz1jRlNoitf