Assalamualaykum

Rabu, 14 Maret 2012

Allah, Kuatkan Aku…

Allah, Kuatkan Aku…

7/3/2012 | 14 Rabbi al-Thanni 1433 H Please wait
Oleh: Dwi Purnawan
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Rintik-rintik hujan dini hari itu, lambat laun mulai menetes semakin lama pun semakin kencang, hingga akhirnya deras hujan di dini hari itu, membasahi dedaunan, memberikan kesejukan kepada dunia, dingin rasanya. Rintik air hujan dini hari itu, di awal tahun ini, semakin membuat suasana senyap, karena sang insan pun semakin menghangatkan tubuh dengan selimut, dan mungkin hanya beberapa yang menengadahkan tangan di antara rintik gerimis hujan, sembari meneteskan airmata, berharap keajaiban dalam keberkahan doa saat hujan, meminta kemustajaban doa saat hujan. Dan dini hari itu, kembali diri ini merenung, lalu bermuhasabah, mengevaluasi sejauh ini, berjalan, berlari, kadang disertai belaian lembut, dan tak jarang pula menginjak kerikil yang tajam, bersama tarbiyah. Tarbiyah yang sudah selama ini mengikatkan hati dengan para perindu surga lainnya, tarbiyah yang selama ini telah membuat sang jiwa yang tulus merasa jatuh hati dengan dakwah dan enggan untuk pindah haluan, tarbiyah yang selama lebih dari empat tahun ini telah membelai lembut sang hati, sehingga hatinya yang semula keras bak batu, kini menjadi lembut, bahkan mengalahkan kain sutra dengan kualitas terbaik sekalipun.
Aku pun menjadi kembali teringat masa-masa awal bersama tarbiyah, entah, diri ini akan menjadi seperti apa ketika tidak bertemu dengan belaian tarbiyah. Entah hati ini mungkin akan semakin membatu tanpa tarbiyah, yang secara kontinyu, sabar, dan tsabat senantiasa membelai lembut sang hati, hingga akhirnya sang hati ini luluh lantah, tak kuasa menahan kesucian tarbiyah, ya, hati ini pun jatuh hati kepada tarbiyah. Teringat masa-masa itu ketika tarbiyah begitu mempesona jiwa, sehingga dengan pesonanya yang luar biasa, membuat jiwa ini takluk bertekuk lutut tanpa syarat, terbuai pesona yang sungguh mempesona. Di sini, di tarbiyah ini, masih saja teringat waktu itu, ketika dengan melingkar, kita seakan akan sedang memadu cinta dan kebersamaan, sedang me-reka cipta, sedang mewujud asa, tentang Islam, tentang indahnya peradaban, tentang mimpi-mimpi yang belum terwujud, dan ternyata, melingkar itu adalah kita, tarbiyah. Ah, indahnya…
Ah, tak terasa, diri ini sudah begitu lama mengenal tarbiyah, bahkan status dan jenjang dalam tarbiyah ini sudah sedemikian tinggi, tetapi masih ada saja rasanya, kegundahan-kegundahan yang kadang menghantui pikiran ini. Seperti pepatah lama mengatakan, “semakin tinggi pohon menjulang, maka serangga, burung-burung, dan  angin tak akan membiarkannya meninggi”, semakin tinggi jenjang ini, bukannya kemudahan yang didapat, tetapi halangan dan rintangan ini justru semakin kencang membadai bertubi-tubi menggoda kekuatan dan ketsiqahan kita untuk selalu bersama tarbiyah. Semakin lama diri ini bersama tarbiyah, bukan semakin kecil tanggungjawab yang diemban, tetapi justru semakin menggunung tanggungjawab itu, tentang amanah yang semakin banyak, tentang produktivitas amal kita, tentang produktivitas rekrutmen kita, tentang keshalihan akhlaq kita, tentang segalanya. Ah, beratnya…
Aku sebenarnya ingin mengungkapkan segalanya di dini hari itu, di awal tahun, namun ternyata setelah kulihat dan kucermati, mengeluhnya diri ini akan berbagai hal dalam tarbiyah, yang saat ini begitu memberatkanku untuk beramal, bukan berasal dari banyaknya amanah-amanah itu, tetapi ternyata berasal dari sini, dari hati ini. Ternyata hati ini sedang lemah, tidak kuat, tidak dekat dengan Allah. Sehingga Allah pun “enggan” untuk menguatkan hati kita. Iman ini sedang compang-camping, sehingga tak kuasa menahan derasnya godaan yang membadai bertubi-tubi silih berganti. Dan pada akhirnya, aku memahami, bahwa tarbiyah ini adalah akumulasi dari iman kita secara individu, bahwa tarbiyah dan iman itu berbanding lurus, tak dapat dipisahkan satu sama lain. Kalau iman itu beres, maka ia akan membuat si empunya nyaman menikmati tarbiyah, nikmat bersama dakwah, tak ada keluhan, tak ada menghilang, tak ada resah dan galau karena banyak amanah dakwah yang diemban. Aku sekarang tahu, di sini, di dini hari ini, hanya ingin berucap dengan sepenuh hati, ya Allah, kuatkan aku….
Allah, ternyata jiwa ini lemah. Begitu lemah. Sangat lemah. Mudah goyah. Mudah terkotori. Mudah terbolak balik. Namun ternyata diri ini tersadar, betapa hati ini begitu merasakan akan kekotoran jiwa ini. Jiwa yang sedang sekarat, dimana sang syahwat keangkuhan, terlalu mendominasi segenap tubuh yang sudah rapuh ini. Ternyata jiwa yang lemah ini, masih bisa saja memperlihatkan keangkuhannya, seakan-akan dia kokoh, seakan-akan dia tegar, padahal rapuh, padahal mudah goyah.
Allah, ternyata kaki yang terlihat kuat menopang segenap anggota tubuh itu, ternyata pincang, ternyata tak lagi kuat. Tak lagi kuat membawa dosa-dosa yang begitu menumpuk. Begitu bertambah setiap waktu. Kaki itu, seakan menjerit, “wahai tubuh, aku tak lagi kuat membawa beratnya dosa-dosa ini”.
Allah, ternyata tubuh yang terlihat elok itu, hanyalah pembungkus. Pembungkus dari seonggok tulang. Seonggok daging yang membusuk. Busuk karena timbunan bangkai-bangkai dosa. Yang semakin lama, ternyata semakin bertambah. Tak berkurang.
Allah, ternyata mulut, dengan rangkain lidah dan bibir yang terlihat menawan, hanyalah ilusi. Yang jika dilihat dengan kacamata kejujuran, di sana akan terlihat sampah-sampah dusta, maksiat, yang senantiasa menumpuk setiap waktu. Tanpa henti. Dan mulut itu hanya pembungkusnya.
Allah, ternyata fisik ini begitu sangat lemah. Semakin tak berdaya. Mengikuti jiwa yang menggelora. Maka Allah, kuatkanlah hambaMu ini. Dan ampunkanlah hambaMu ini
Allah, ingin sekali aku berlari kencang. Mengejarmu, melihat keagunganMu. Menangis di hadapanMu. Berkeluh kesah. Mengadu. Tentang sulitnya perjalanan ini. Tentang begitu banyaknya rintangan. Tentang panjangnya jalan ini.
Tapi Allah, ternyata itu sulit terjadi. Airmata itu kini tak lagi keluar. Terhijab oleh syahwat keangkuhan yang mengotori jiwa ini. Kaki ini sangat berat melangkah, karena kaki ini ternyata masih terbungkus oleh gumpalan dosa-dosa.
Allah, semoga Engkau berkenan, mengampuni hambaMu yang hina-dina ini. Amin ya Rabb.
Allah, kuatkan aku…
Allah, tetapkan aku bersama tarbiyah ini…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/18581/allah-kuatkan-aku/#ixzz1pAJg3bgb

Ini Sebuah Kebutuhan, Bukan Sebuah Keterpaksaan

Ini Sebuah Kebutuhan, Bukan Sebuah Keterpaksaan

29/2/2012 | 05 Rabbi al-Thanni 1433 H Please wait
Oleh: ayyash ibnu sofian
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com – Mungkin sebagian dari kita, bertanya-tanya. Mengapa kita berada di jalan ini? Jalan ini bukanlah jalan yang ditaburi bunga-bunga harum, bukan jalan yang mudah ditempuh. Namun, jalan ini adalah jalan yang penuh onak dan duri. Jalan yang tidak semua orang bisa menikmatinya dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keistiqamahan.
Bukankah kita sepatutnya iri, melihat mereka yang menghabiskan masa mudanya untuk bersenang-senang, tanpa perlu memikirkan suatu hal yang mungkin hanya memberatkan pikiran saja. Tak perlu menghadiri SYUTING* untuk membahas masalah tertentu, tak perlu menghadiri kajian yang terasa menjenuhkan, tak perlu mengingatkan orang lain untuk terus berbuat baik.
Apakah keberadaan kita di jalan ini, hanyalah sebagai bentuk sebuah keterpaksaan, ikut-ikutan, tanpa mengetahui orientasi sesungguhnya kita berada di jalan ini. Atau jangan-jangan ki dari penampilan kita mendukung mengenai eksistensi keberadaan di jalan ini, namun hati kecil kita menolaknya karena belum siap menerima.
Teringat pada sebuah buku kecil, namun manfaatnya sungguh luar biasa.”Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami”
“Sesungguhnya keberadaan kami di jalan ini adalah kebutuhan kami sendiri. Rasa kebutuhan yang begitu mendalam. Bahkan lebih dari sekedar kebutuhan, karena kami melangkah di jalan ini dengan penuh rasa syukur atas hidayahNYA kepada kami.
Dia mampu untuk melakukan sesuatu tanpa memerlukan kita di jalan ini, Dia mampu untuk mengatur segala proses yang terjadi di alam semesta ini sendiri, Dia mampu untuk menegakkan agama ini sendiri, tanpa perlu membutuhkan bantuan kita.  Namun, tahukah sobat? Bahwasanya Dia sedang menguji kita. Menguji keistiqamahan kita. Menguji keteraturan barisan kita. Kebutuhan kita untuk mencari amal sebanyak-banyaknya, sebagai penolong kita dari azab Nya adalah dengan bergabungnya kita di jalan ini.
Bahwasanya Dia akan murka jika tak ada di antara kita yang berjuang untuk menyampaikan kebenaran. Dia akan memberikan azab kepada kita semua tanpa terkecuali. Karena keberadaan sekelompok orang yang menyuarakan kebenaran, akan menjadi penghalang turunnya azab ALLAH.
Jika sampai saat ini kita masih merasa penuh sesak, letih, ingin mundur dari jalan ini karena beberapa hal. Pikirkanlah! Karena sepatutnya lah kita bersyukur menjadi “pioneer” di jalan ini. Mengingat akan begitu banyak rintangan dan hambatan yang akan kita temui, tidak bisa merasakan hasil perjuangan secara langsung. Karena bagaimanapun kita menyeru pada kebaikan. Semuanya kita kembalikan pada sang pemilik hidayah. HidayahNya akan diturunkan pada hamba-hambaNYA yang membuka diri, pada mereka yang mencari, bukan mereka yang menunggu.
Di jalan ini pula kita akan bertemu dengan berbagai macam karakter penempuh perjalanan, untuk itulah kita dituntut untuk menjunjung tinggi rasa toleran di antara sesama. Jangan mudah terpecah belah karena hal-hal yang tak perlu diperdebatkan. Lihatlah kebaikan, dan kelebihan mereka. .Jadikanlah mereka sebagai sumber motivasi untuk terus meningkatkan kinerja penempuh perjalanan. Contohlah Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya yang masing-masing mereka memiliki kelebihan satu sama lain. Mereka saling melengkapi tanpa perlu membanding-bandingkan satu sama lain. Karena setiap manusia memiliki cara dan kelebihannya tersendiri untuk tetap bertahan di jalan ini.
Seseorang bertanya.
“Kenapa perjuangan itu pahit?”
“Karena Surga itu manis…”

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/19114/ini-sebuah-kebutuhan-bukan-sebuah-keterpaksaan/#ixzz1pAGvyPuz

Saat Allah Menjaga Titipan Hamba-Nya

Saat Allah Menjaga Titipan Hamba-Nya

9/3/2012 | 16 Rabbi al-Thanni 1433 H Please wait
Oleh: Adit Purana
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Sebutlah namanya Udin, begitulah seorang montir tamatan SMK bernama lengkap Wahyudin ini biasa disapa atau dipanggil. Udin bekerja sebagai seorang montir di sebuah bengkel kecil yang terletak di daerah tengah kota, cukup jauh dari rumahnya yang berada di pinggir kota.
Orangnya sederhana, bersahaja. Namun bagi teman-temannya, terutama teman di bengkel, Udin lebih dari sekedar sederhana dan bersahaja. Bagi mereka, Udin adalah sosok yang dermawan, ramah, menyenangkan, dan tak pernah sungkan untuk menolong. Sedangkan di mata pemilik bengkel, Udin adalah seorang pekerja yang tekun. Itulah yang membuat Udin disukai oleh teman-temannya, juga bosnya di kantor.
Suatu ketika, Pak Bos (pemilik bengkel) merasa ada yang ganjil dengan sikap Udin selama beberapa hari terakhir. Pak Bos yang terheran akan sikap Udin pun bertanya-tanya kepada karyawan lain di bengkel.
“Udin kenapa? Kok dia jadi lebih pendiam begitu?”
“Waduh, nggak tahu Pak! Saya juga heran.”
Rupanya bukan hanya Pak Bos yang terheran pada sikap Udin akhir-akhir ini, ternyata montir-montir lain pun demikian. Terheran dengan perubahan sikap yang terjadi pada Udin, seorang montir yang selama ini dikenal ramah dan menyenangkan. Akhirnya, rasa penasaran tersebut menuntun Pak Bos untuk bertanya langsung kepada Udin. Dengan gayanya yang ‘diplomatis’, Pak Bos memanggil Udin ke ruang direksi.
“Udin, ada apa denganmu? Kok tumben jadi lebih pendiam gitu?” tanya Pak Bos.
“Ah, tidak apa-apa Pak. Hanya ada sedikit masalah di keluarga.”
“Jangan dipendam sendiri begitu lah. Bilang saja ada masalah apa! Kamu kan bekerja di bengkel saya. Kalau Kamu kerjanya enjoy, kan saya juga jadi enak, montir-montir lain juga lebih senang melihatnya.”
“Anu Pak, begini… istri saya sedang hamil 8 bulan. Jadi mungkin beberapa hari atau minggu lagi dia akan melahirkan. Saya bingung mencari uang tambahan untuk biaya persalinannya Pak.”
“Din, Kamu itu kan udah cukup lama bekerja di bengkel saya. Jadi, jangan sungkan buat bilang! Baik, saya siapkan uang dulu ya. Lumayan untuk jaga-jaga, kalau-kalau nanti ada apa-apa dengan istri Kamu.”
“Tapi Pak…”
“Tapi kenapa?”
“Anu…”
“Sudahlah, anggap aja ini sebagai penghargaan atas pengabdian Kamu selama ini.”
“Tapi kan Bapak udah memberi saya gaji bulanan…”
“Iya, benar. Tapi selama ini kalau saya perhatiin, Kamu nggak sekedar bekerja. Kadang Kamu suka ngasih nasehat-nasehat buat montir-montir lain di sini, jadi tempat konsultasi, ngasih saran. Itu yang mau saya hargai.”
“Ah, saya insya Allah Ikhlas kok Pak! Nggak ngarep dikasih apa-apa.”
“Ya sudah, kalau begitu anggap aja ini pemberian.”
“Tapi Pak…”
“Kenapa? Nggak mau juga? Kalau begitu, anggap aja pinjaman.”
“Tapi Pak…”
“Sudah! Keadaan istri Kamu lebih penting.”
Setelah mengetahui seluk-beluk di balik kabar tentang Udin ini, akhirnya Pak Bos memberikan pinjaman uang Rp. 2.000.000,- untuk biaya persalinan istrinya Udin. Udin yang menerima pinjaman dari Pak Bos pun sumringah mendapatkan kabar baik ini lantaran beban yang selama ini menghantui pikirannya pun terkurangi. Begitulah Udin dengan raut yang penuh haru bahagia keluar dari ruangan Pak Bos. Pak Bos pun senang sembari berharap Udin akan kembali bekerja sebaik biasanya.
Hari telah sore. Matahari mulai tampak tenggelam di langit sebelah barat. Beberapa montir dan karyawan mulai berbenah, karena sebentar lagi bengkel akan tutup. Udin yang baru saja mendapat pinjaman uang dari Pak Bos masih tak mampu membendung kebahagiaan yang meluap di hatinya, sehingga wajahnya tampak cerah, ceria, penuh senyum.
Seperti biasa, sebelum pulang, Udin selalu mampir ke warteg dekat bengkel, membeli lauk pauk untuk dibawa ke rumah. Seperti biasa pula, Udin menyempatkan diri untuk ngobrol sejenak dengan beberapa temannya di warteg itu.
“Gimana kerjanya Mas? Lancar.” Sapa Parjo, teman sesama langganan di warteg.
“Alhamdulillah baik. Mas gimana?” Tanya Udin balik.
“Alhamdulillah, lancar. Cuma lagi lebih ngos-ngosan aja Mas.”
“Wah, ngos-ngosan kenapa Mas?”
“Iya nih Mas, lagi cari tambahan uang untuk biaya bersalin istri saya.”
“Wah, segera punya anak nih? Kapan?”
“Doain aja, moga lancar. Kata dokternya, insya Allah dalam waktu dekat ini. Sekarang istri saya lagi di rumah bersalin.”
“Lalu, sekarang?”
“Belum dapet.”
Udin yang menyadari keadaan Parjo pun mulai merenung, memikirkan keadaan istri Parjo yang ternyata lebih dekat dengan masa-masa melahirkan. Sama-sama sebagai suami dari seorang istri yang sedang mengandung, mereka sama-sama membutuhkan uang untuk biaya persalinan istrinya. Hanya saja, usia kehamilan istri Parjo lebih mendekati kematangan.
Ada keinginan untuk menolong teman, padahal tahu bahwa dirinya sendiri pun sedang membutuhkan. Begitulah Udin yang masih saja mencari-cari alasan untuk bisa membantu orang lain, terutama temannya.
“Mas Jo, bener Kamu lagi butuh uang?”
“Iya Mas.”
“Saya baru dapet pinjaman uang dari bos, ini juga untuk biaya persalinan istri saya. Tapi nanti, mungkin beberapa minggu lagi. Jadi, kalau Mas Jo mau, pakai dulu aja uangnya!”
“Beneran Mas?”
“Iya. Buat sekarang Mas Jo kayaknya lebih butuh.”
“Duh, makasih banget Mas. Entah gimana bisa ngebalas kebaikan Mas. Nanti pas gajian saya segera gantiin Mas.”
“Iya, Mas Jo. Sekarang keadaan istri Mas Jo lebih penting.”
Begitulah jawaban Udin seperti pesan dari Pak Bos. Udin yang baru saja mendapat pinjaman uang dari Pak Bos akhirnya merelakan uang tersebut untuk beberapa saat demi menolong temannya yang sedang membutuhkan. “Ah, sudah lah. Anggap aja beramal. Ya Allah, hamba titipkan uang itu pada-Mu, hamba titipkan uang ini di jalan-Mu…” lirih Udin dalam hati.
Segepok uang yang baru saja Udin dapat tadi sepulang kantor pun dibawa oleh Parjo ke rumah bersalin. Sore itu pun, Udin menghela nafas panjang sambil berharap semoga saja uang itu benar-benar bisa menolong Parjo, dan kembali pada waktunya saat nanti dibutuhkan untuk biaya persalinan istri. Lalu, seperti biasa, Udin pulang dengan menggunakan angkot.
Saat dalam perjalanan, terjadi peristiwa yang tak disangka-sangka, juga tentunya tak diinginkan. Tak ada orang yang mengharap untuk dirampok dan dirampas semua hartanya. Namun apa mau dikata, terjadi perampokan di angkot yang ditumpangi oleh Udin. Harta para penumpang dirampok habis, hanya ponsel Udin yang selamat dari perampasan.
“Alah, hape butut! Kagak laku dijual…” begitulah kata salah seorang perampok. Sore yang naas. Tampaknya itulah ungkapan yang tepat bagi para penumpang angkot tersebut di sore ini. Tak ada yang tersisa selain barang-barang yang dianggap tidak begitu berharga.
Entah apa jadinya bila Udin masih membawa segepok uang pinjaman dari Pak Bos?
***
Beberapa hari kemudian, Parjo mendatangi rumah Udin untuk mengembalikan uang yang tempo hari Parjo pinjam untuk biaya persalinan istrinya. Hanya beberapa hari semenjak Parjo diberi pinjaman oleh Udin. “Ada proyek penelitian.” Itulah alasan Parjo. Apapun alasannya, yang jelas bagi Udin adalah kembalinya uang yang dia pinjamkan pada Parjo itu. Sesuai dengan yang diharapkan, uang pinjaman itu pun bisa dipergunakan tepat waktunya untuk persalinan istrinya Udin.
Seandainya saja uang itu tidak dipinjamkan kepada Parjo, mungkin nasib Udin beserta keluarganya akan berbeda. Seandainya saja tak ada niat untuk menolong sesama hamba-Nya, mungkin Allah tak akan menjaga ‘titipan’ untuk biaya persalinan istrinya.
Maha Penyayang Allah dengan segala kehendak dan rencananya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19275/saat-allah-menjaga-titipan-hamba-nya/#ixzz1pAGPtKmK

Aku Akan Menuju Surga

Aku Akan Menuju Surga

23/12/2006 | 02 Dhul-Hijjah 1427 H | Hits: 9.333
Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi
Kirim Print
dakwatuna.com – Duduknya gelisah! Sesekali wajahnya di arahkan ke langit! Beberapa hari belakangan ini pemuda dari kabilah Aslam itu selalu termenung sendirian. Agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda dengan tubuh atletis, kuat, gagah, dan penuh enerjik itu belum dapat jawaban tentang pertanyaan yang selalu menggelayuti pikirannya. Tentang satu keinginan yang tidak lumrah di usianya yang terbilang masih belia. Keinginannya untuk hadir di barisan para mujahid fi sabilillah. Hanya itu! Ya…hanya itu. Di kepalanya hanya tersembul satu pertanyaan,”Adakah jalan yang lebih afdhal dan lebih mulia dari jihad fisabilillah?” Rasa-rasanya tak ada. Sebab itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat suci untuk mencari restu dan ridha Allah.
“Demi Allah, inilah satu kesempatan yang sangat baik”, kata hati pemuda itu. Ya….sebab di sana, serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju medan jihad fisabilillah. Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat. Semuanya menampakkan wajah senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal datang, berpantang mati. Maut akan datang dimanapun kita berada, yakin bahwa umur itu satu. Kapankah sampai batasnya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Bagaimana sebab dan kejadiannya? Takdir Allahlah yang menentukan. Maut, adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Dia pasti datang menjemput manusia. Entah di saat sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin ketika dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi di suatu tempat, di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, atau di medan peperangan. Bahkan bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas tempat tidurnya. Semua itu hanya Allah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya. Menunggu kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak? Hanya sendiri ini yang dapat dibawa menghadap Penguasa yang Esa kelak. Medan juang fisabillah tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho Allah semata. Mereka yang berjiwa suci di tengah-tengah tubuh yang perkasa. Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih.
Memang, saat itu keberanian telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad fisabilillah merupakan harapan dan tujuan mereka. Mereka yakin di balik hiruk-pikuknya peperangan, Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagai noda. Baik noda-noda aqidah, niat-niat jahat, perbuatan ataupun kekotoran muamalah yang lain. Pengorbanan mereka di medan jihad menunjukkan keluhuran budi. Semua sesuai dengan seruan Allah ’mukhlishiina lahudiini’ hanya untuk Allah semata. Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercusuar yang menerangi dunia dan isi alam semesta.
Itulah renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah kepada diri sendiri. “Harus! Harus dan mesti aku berbuat sesuatu. Janganlah kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hambatan dan penghalang mencapai tujuanku.” Mantap, penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin. Usia pemuda itu relatif masih muda, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauanya keras, ketangkasan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitannya di medan juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuang? Sebabnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan apapun yang dapat dipakainya berperang karena kemiskinan dan kefakirannya. Sebab pikirnya, tidak mungkin terjun ke medan jihad tanpa berbekal apapun. Tanpa senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jangankan berperang, untuk menyelamatkan diri saja, tidak mampu.
Inilah daftar pertanyaan panjang yang selalu menjadikan pemuda itu tak henti berpikir. Otaknya selalu disibukkan dengan satu lintasan, satu pertanyaan, bagaimana saya dapat berlaga di medan jihad? Setelah tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah saw. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar. Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidak mengangankan apapun dari keikutsertaannya di medan perjuangan. Dikatakannya kepada Rasulullah saw, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah. Dia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah.
Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: “Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?” “Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!” Jawab pemuda itu. “Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu”, Tanya Rasulullah saw kemudian. “Saya tidak mempunyai perbekalan apapun untuk persiapan perjuangan itu ya Rasulullah”, Jawab pemuda tersebut terus terang. Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara di sana banyak kaum munafiqin yang hatinya takut dan gentar apabila mendengar panggilan untuk berjihad fisabilillah.
Demi Allah! Jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki. Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dalam ajaran agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan menghancurkan apa saja.
Celakalah mereka yang besar dan berbadan tegap namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya. Kebanggaanlah bagimu hai pemuda! Semoga Allah banyak menciptakan manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan menjunjung tinggi izzul Islam wal muslimin, dengan akhlak yang mulia menuju li’illai kalimatillah. Benar, kaum muslimin sangat mendambakan para jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnyalah pemuda seperti dari kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk melaksanakan hasratnya ke medan jihad. Rasulullah saw akhirnya berkata kepada pemuda p tersebut: “Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan peralatan perang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya.” Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukkan Rasulullah saw tadi. Katanya kepada si Fulan: “Rasulullah saw menyampaikan salam padamu dan juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku.” Orang yang tidak jadi berperang itu dengan penuh hormat merespon perintah Rasulullah saw sambil mengucapkan: “Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah saw.” Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semuanya pada pemuda kabilah Aslam tadi. Sambil mengucapkan terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: “Terima kasih yang sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala yang besar dari Allah yang tiada tara.
Terima kasih………Terima kasih.” Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Raut wajahnya menyiratkan kegembiraan yang luar biasa. Dengan berlari-lari dia meningalkan rumah orang tersebut.
Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah seorang temannya yang terheran-heran dengan ekspresi kegembiraan pemuda tadi. Kemudian temannya bertanya: “Hai, hendak kemana kau?”, “Aku akan menuju jannatil firdaus yang seluas langit dan bumi”, Jawab pemuda itu singkat, mantap penuh keyakinan. []

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2006/12/27/aku-akan-menuju-surga/#ixzz1pAFtJfOj

90 Langkah Menuju Mushalla

90 Langkah Menuju Mushalla

26/10/2011 | 29 Dhul-Qadah 1432 H | Hits: 4.058
Oleh: Abi Sabila
Kirim Print
Ilustrasi - Sebuah mushalla (rizakasela.wordpress.com)
dakwatuna.com - Lelaki istimewa itu bernama Didi. Aku biasa memanggilnya Pak Didi. Usianya kini sudah berkepala enam. Aku mengenal beliau sudah sekitar tiga tahun, semenjak aktif menjadi jamaah di mushalla Baiturrohim. Beliau tinggal bersama keluarganya di RT 04 tak jauh dari mushalla, sedang aku tinggal di RT 02. Secara pribadi, aku memang tidak tahu banyak tentang beliau, namun di mataku beliau adalah sosok yang luar biasa. Salah satu ‘keistimewaan’nya telah memberiku semangat sekaligus menyadarkanku akan besarnya nikmat yang telah Allah berikan.
Pertama, beliau ini aktif shalat berjamaah di mushalla Baiturrohiim. Beliau selalu menempati tempat yang tetap, di shaft pertama ujung sebelah kiri. Kedua, beliau selalu menjadi jamaah yang pertama hadir untuk shalat Subuh. Suara merdunyalah yang pertama kali terdengar melantunkan shalawat dari pengeras suara mushalla yang terletak di sisi jalan yang memisahkan RT 02 dan RT 04 ini. Dan beliaulah yang lebih sering mengumandangkan azan subuh, baru kemudian yang lain datang, termasuk aku. Hanya ituTidak! Pak Didi terasa lebih istimewa, karena beliau kini hanya memiliki empat indera.
Kecelakaan kerja beberapa tahun silam telah membuat indera penglihatan pak Didi tidak berfungsi lagi. Secara fisik, mata beliau tidak mengalami cacat, hanya saja keduanya kini sudah tidak bisa melihat sama sekali. Jika pak Didi selalu menempati tempat favoritnya di shaft pertama sebelah kiri, ini wajar sebab beliau selalu datang dari pintu sebelah kiri, kemudian menyusuri tembok dan akan berhenti ketika tangannya sudah menyentuh tembok depan. Semua jamaah mushalla sudah tahu akan hal itu, dan tak pernah ada yang mencoba menempati tempat ‘eksklusif’ Pak Didi.
Saat datang untuk shalat Maghrib, aku sering melihat Pak Didi diantar oleh cucu laki-laki dan sesekali oleh cucu perempuannya yang baru berusia belasan tahun. Usai shalat Maghrib, pak Didi lebih sering tetap berada di tempatnya, berdzikir dan mendengarkan jamaah lain mengaji. Usai shalat Isya, biasanya sang istri sudah menunggu di depan pintu mushalla.
Lalu, bagaimana cara beliau mendatangi mushalla untuk shalat subuh ketika belum satu pun jamaah lainnya hadir di mushalla ini? Aku tak pernah tahu. Setiap aku tiba di mushalla, beliau sudah datang lebih dulu. Justru, seringnya lantunan shalawat beliaulah yang membangunkanku. Setiap kali aku mencoba untuk datang lebih awal, selalu saja beliau sudah lebih dulu berada di dalam mushalla.
Aku makin penasaran. Sampai akhirnya, suatu saat aku mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada beliau, siapa yang mengantarnya ke mushalla, membangunkan warga sekitar untuk shalat subuh berjamaah. Diantar cucunya yang masih kecil itukah, atau diantar istrinya yang setia?
Aku terkejut mendengar jawaban pak Didi.
Selama ini, untuk shalat subuh saya lebih sering datang ke mushalla sendiri, tanpa diantar cucu atau istri. Bukannya mereka tidak mau, tapi memang mau saya begitu. Sebelum subuh, jalanan masih sepi, jadi saya tidak khawatir berpapasan dengan orang-orang yang lalu lalang
Pak Didi tidak takut nabrak, terpeleset atau……..maaf, nyasar misalnya?” dengan hati-hati aku bertanya, takut beliau tersinggung.
Insya Allah tidak. Saya sudah mempunyai hitungan sendiri “ beliau menjawab dengan tenang, tanpa menunjukkan rasa tersinggung sedikit pun atas pertanyaanku.
“ Maksudnya, hitungan bagaimana Pak?” aku makin penasaran.
Kemudian dengan gamblang beliau menjelaskan ‘rumus’ yang dimilikinya untuk bisa sampai ke mushalla ini tanpa nabrak ataupun khawatir terpeleset ke dalam selokan yang berada di sisi jalan. Dengan bantuan tongkat kecilnya, beliau berangkat dari rumah sendiri ketika orang-orang ( termasuk aku ) masih lelap dalam tidur. Beliau berjalan dengan mengandalkan ingatan mengenai jalan menuju mushalla. ( Kebutaan yang dialami pak Didi memang bukan sejak lahir, tapi karena kecelakaan, jadi beliau masih memiliki gambaran tentang jalan dan juga rumah-rumah yang ada di sepanjang jalan menuju mushalla.).
Pertama, beliau keluar rumah dan berjalan lurus kurang lebih 10 langkah. Sampai di jalan kecil ber-konblok, beliau belok kiri dan melangkah sekitar 15 langkah. Dengan bantuan tongkatnya, beliau akan memastikan tembok rumah tetangganya, dimana dia harus belok kanan dan melangkah lagi sekitar 10 langkah. Saat berada di jalan ini, tangan kiri beliau akan meraba tembok rumah tersebut, hingga sampai di ujung. Kemudian beliau akan belok kiri dan berjalan lurus kurang lebih 28 langkah. Setelah itu beliau akan berbelok kearah kanan, maju 10 langkah dan mencoba memastikan keberadaan tembok mushalla dengan tongkat kecilnya. Setelah berhasil menemukan tembok mushalla, beliau kemudian akan terus maju hingga kurang lebih 17 langkah sampai beliau bisa menyentuh pintu mushalla.
Begitulah, setiap pagi di saat orang-orang masih banyak yang terlelap, pak Didi sudah lebih dulu datang ke mushalla dengan ‘meraba’ jalanan yang gelap. Gelap, benar-benar gelap, bukan karena tak ada lampu tapi karena beliau sudah tak bisa menangkap apapun dengan indera penglihatannya. Aku sering mendapati buktinya. Ketika tiba di mushalla, keadaan masih gelap, tak ada lampu yang menyala, padahal pak Didi sudah berada di dalamnya melantunkan shalawat atau mengumandangkan adzan. Dan jika ia mampu menggunakan pengeras suara untuk membangunkan warga dengan shalawat dan azan, itu juga ia lakukan dengan cara meraba. Subhanallah!
Aku tertegun mendengar cerita Pak Didi. Aku merasa malu, malu dengan diriku sendiri,. Allah telah memberiku anugerah yang sangat besar. Kelima inderaku semua berfungsi dengan sempurna, namun sering kuanggap biasa-biasa saja. Syukur itu seringkali hanya menjadi ucapan bibir semata. Sementara pak Didi, istiqamah mendatangi jamaah shalat subuh dengan susah payah, bahkan selalu hadir lebih awal, dalam kegelapan yang sebenarnya. Pak Didi mampu mewujudkan syukur itu dalam tindakan nyata. Kebutaan, kegelapan yang kini beliau rasakan, mampu beliau terima sebagai sebuah kenikmatan.
Terima kasih pak Didi. Kisahmu membukakan pintu hidayah bagiku. Ceritamu memberikan semangat untuk selalu datang ke mushalla, shalat berjamaah meskipun aku belum bisa mengalahkanmu, karena engkau selalu datang lebih dulu.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15677/90-langkah-menuju-mushalla/#ixzz1pAFOj9b4

Calon Suamiku Harus Tinggi!

Calon Suamiku Harus Tinggi!

30/1/2012 | 06 Rabbi al-Awwal 1433 H | Hits: 3.900
Oleh: Rizki Adawiyah
Kirim Print
Akhwat 1: “Calon suamiku itu harus tinggi”
Akhwat 2: “Aih… kriteria macam apa itu….?”
Akhwat 1: “Loh, terserah aku dong… wong yang mau nikah itu aku…”
Akhwat 2: “Oala ukh… iya iya… tapi mbok ya jangan gitu lah… moso patokannya fisikis gitu..? Berarti nanti kalo ada ikhwan shalih yang datang melamar, udah mapan dan tanggungjawab besar, bakal kamu tolak cuma karna ia kurang tinggi begitu??”
Akhwat 1: “Lah iya… syarat ya syarat… ga mau tau pokonya kudu yang tinggi. Titik.”
Akhwat 2: *geleng-geleng
Akhwat 1: *senyum-senyum.
……………………………………….
Akhwat 1: “…Mba e… dengerin dulu nih lanjutannya…”
Akhwat 2: “Lanjutan opo ukh..?”
Akhwat 1: “Ya lanjutan kalimat aku tadi lah mba…”
Akhwat 2: “Memang opo toh?”
Akhwat 1: “Calon suamiku itu harus tinggi… tinggi ilmunya, tinggi ketaatannya pada Allah, tinggi derajatnya di mata Allah,, tinggi militansinya terhadap dakwah, tinggi rasa tanggungjawabnya pada keluarga… gitu mba… heheh…. :) ”
Akhwat 2: “Ooo… oalaaa… ” *tepok jidat
Ilustrasi (blogspot.com)
dakwatuna.com – Menikah adalah keputusan sekali seumur hidup. Maka itu dalam menikah masing-masing orang pastinya punya kriterianya tersendiri untuk calon pendampingnya tersebut. Tidak mungkin ingin salah pilih terhadap orang yang bertahun-tahun akan bersama-sama kita mengarungi samudra kehidupan bukan?
Islam merupakan agama yang benar-benar syumul. Segala sendi kehidupan terangkum lengkap di dalamnya, di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Termasuk di dalamnya perihal pernikahan dan kriteria pasangan hidup dalam Islam. Ada satu buah hadits yang sudah sangat familiar kita dengar terkait dengan kriteria pasangan hidup.
Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Berdasarkan hadits tersebut, maka jelas, poin yang ditekankan di sana adalah soal agama. Maka ketika telah tiba saatnya menikah, carilah, temukanlah dia. Seorang yang baik agamanya, baik perangainya (akhlaqnya), untuk kemudian bersama saling menyempurnakan setengah dien yang ada. Simak pula hadits berikut ini,
“Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang Dien dan akhlaqnya kamu ridhai maka kawinkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan.” (HR. At Tirmidzi)
Maka untuk para akhwat, ketika tiba saatnya nanti, datang seorang shalih yang baik akhlaqnya, tidak ada alasan lagi bagi para akhwat untuk menolak dan menunda-nunda diri dalam menyempurnakan setengah dien-nya. Begitu pula bagi para ikhwan yang sepertinya lebih sering galau ketimbang para akhwat. Bersegeralah sempurnakan setengah dien itu. Karena sungguh fitnah dan godaan dunia kini semakin hari semakin hebat saja. Dengan menikah tentunya dapat memperkokoh sendi-sendi keislaman dan keimanan yang ada.
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) ….” (QS. An Nur: 26)
Mari bersama-sama saling memperbaiki diri. Karena apa-apa yang kita dapati kelak adalah apa-apa yang kita usahakan kini. Termasuk pula di dalamnya masalah pasangan hidup. Memperbaiki diri sendiri, untuk memperbaiki jodoh kita nanti. Berdoa, berusaha, kemudian pasrahkan semua pada-Nya.
Wallahu’alam bishshowab…

Ditulis pun untuk mengingatkan diri sendiri.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17945/calon-suamiku-harus-tinggi/#ixzz1pAEI7H6L

Masalah Itu Manis

Masalah Itu Manis

7/3/2012 | 14 Rabbi al-Thanni 1433 H | Hits: 8.029
Oleh: Herdiansyah
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - “Jangan katakan kepada Allah kalau kita punya masalah, tapi katakan kepada masalah kalau kita punya Allah”
Kutipan di atas saya copas dari status Facebook salah satu teman saya. Setelah membaca status itu saya langsung me-like-Nya padahal baru beberapa detik muncul di laman Facebook. Karena menurut saya kata-kata di atas sangat luar biasa. Iya, di tengah banyak dinding-dinding Facebook digunakan sebagai luapan keluh kesah, kekesalan, dsb. Yang seolah-olah menunjukkan ketidakikhlasan kita dalam menerima segala takdir ketentuan Allah Swt, teman saya ini meng-update status dengan nilai optimis.
Status teman saya di atas  sangat luar biasa menurut saya, dan status seperti itulah yang semestinya kita publish ke depan facebooker mania. Karena dengan membaca status yang luar biasa itu, teman kita yang membacanya mungkin akan tercerahkan walau boleh jadi sebelum membaca status kita itu dia sedang kegundahan. Kemudian biasanya status yang luar biasa di laman Facebook  akan  memunculkan komen-komen luar biasa lainya. Kalau begitu bukankah pahala akan mengalir kepada si peng-update status itu? Karena dia telah mencerahkan yang sedang gundah,memberi solusi yang sedang dirundung masalah.Jika ini yang terjadi, maka satu sisi fositif  laman “muka buku” ini telah dirasakan, dan kita telah menanam satu kebajikan.
Jika sebalik-Nya yang kita lakukan, yakni meng-update status-status yang berisi keluhan, emosi, cacian dan lain sebagainya. Apakah itu tidak menimbulkan satu dosa bagi kita sendiri. Karena kita sangat dilarang berkeluh kesah akan masalah atau takdir yang kita jalani. Kemudian jika ada teman yang memberikan jempol manis-nya akan status yang berisi keluh kesah itu, apakah dia tidak dikatakan melakukan sebuah keburukan karena seolah teman kita itu merasa setuju dengan apa yang kita update(keluh kesah kita).Jika itu yang terjadi berarti kita telah menanam satu keburukan bagi diri sendiri bahkan orang lain.
Jujur saya sangat tidak suka ketika membaca status-status teman saya yang berisi keluh kesah, sumpah serapah, atau cacian atas apa yang sedang mereka rasakan saat meng-update status-status mereka tersebut. Apalagi kalau saya tau mereka adalah teman-teman saya yang sama-sama telah mengenyam pendidikan pesantren yang diajarkan bagaimana sebenarnya kita dalam menghadapi sebuah masalah. Yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah serta introspeksi diri. Mungkin jadi masalah itu datang sebagai teguran darinya atas apa yang telah kita lakukan sebelum-Nya atau masalah itu datang sebagai ujian untuk men-tes keimanan kita.
Ketika kita ditimpa sebuah permasalahan, berarti Allah mau kita lebih dewasa dalam menghadapi hidup ini. Ketika kita ditimpa musibah, berarti Allah ingin agar kita mendekat kepadanya. Ketika kita ditimpa kesusahan, berarti Allah telah menyediakan untuk kita kemudahan. Karena sesungguhnya dibalik permasalahan ada proses pendewasaan, dibalik musibah ada hikmah, dibalik kesusahan ada kemudahan.
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. al-Insyiroh: 5-6)
Ketika permasalahan datang menghampiri, jangan mengeluh di hadapan sang pencipta, jangan memberontak akan keputusannya apalagi mengatakan bahwa Allah tidak adil. Namun, mintalah agar kita diberi kesabaran serta ketegaran dalam menghadapinya, diberikan solusi yang terbaik bagi kita, dan selalu mengharap dia memberikan ganjaran pahala untuk kita.
Tanpa malam purnama takkan indah. Tanpa lapar nikmat makanan takkan terasa. Tanpa dahaga sejuknya dingin air takkan memberi banyak makna. Begitu juga kemenangan atau kemudahan takkan banyak memberi arti tanpa didahului rintangan masalah kesusahan. Setelah mendung terbitlah cerah.
Tak ada hidup tanpa masalah, karena masalah adalah sunnah-Nya. Yang kita perlukan hanya kebijakan dalam menyikapinya. Jika ketegaran yang kita bina, nikmat masalah akan terasa. Jika keluhan yang kita bina sengsara masalah akan selalu bertambah.
Masalah datang untuk kita hadapi, bukan untuk dicaci atau dimaki. Masalah adalah mediator dalam proses pendewasaan. Tanpa masalah kita takkan pernah dewasa. Tanpa masalah kita takkan menjadi orang yang luar biasa.”Jalan yang lurus dan mulus takkan pernah menghasilkan pengemudi yang hebat. Laut yang tenang takkan pernah menghasilkan pelaut yang tangguh. Langit yang cerah takkan pernah menghasilkan pilot yang handal.”
Di saat kita mencari solusi dalam suatu masalah, di saat itulah sebuah proses pendewasaan hidup akan dimulai. maka, berbahagialah mereka yang memiliki masalah dan mampu mengatasi masalah tersebut dengan brilian, yaitu dengan tetap selalu bersandar akan keputusan sang eksekutor yang maha adil setelah tawakal dilakukan. Mari bersama taklukkan masalah…!

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19201/masalah-itu-manis/#ixzz1pADdT5g9