Assalamualaykum

Rabu, 14 Maret 2012

Keteladanan Murabbi

Keteladanan Murabbi

28/5/2008 | 23 Jumada al-Ula 1429 H | Hits: 5.677
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print
dakwatuna.com – Pernahkah Anda mengalami suatu saat ketika Anda membuka mushaf dan Anda mulai membaca Al-Qur’an kemudian anak-anak Anda datang mendekati Anda sambil membawa buku Iqra’nya lalu mereka melakukan hal yang sama seperti apa yang tengah anda lakukan? Pernahkah Anda mendapatkan mutarabbi (objek dakwah/peserta didik/murid) Anda mengerjakan shaum (puasa) sunnah padahal Anda secara eksplisit tidah pernah menyuruhnya? Hal tersebut dilakukan oleh mutarabbi Anda hanya karena ia mendapatkan Anda juga melakukan shaum sunnah pada hari-hari sebelumnya. Pernahkah Anda mengalami khadimat Anda perlahan-lahan menyesuaikan diri dan penampilannya di tengah-tengah keluarga Anda, mulai terbiaasa mengenakan gaun panjang, memakai kerudung walau pada awalnya cuma nempel di atas kepala, tapi toh lama kelamaan ia menjadi terbiasa berjilbab baik ketika ia bekerja di dalam rumah apalagi di luar rumah? Padahal isteri Anda belum pernah berkata kepadanya bahwa memakai jilbab itu wajib, apalagi memperdengarkannya ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan kewajiban menutup aurat baik dalam surat An-Nur maupun Al-Ahzab.
Itulah buah dari keteladanan. Ketealadanan adalah cara berdakwah yang paling hemat karena tidak menguras enerji dengan mengobral kata-kata. Bahkan bahasa keteladanaan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan sebagaimaana pepatah mengatakan: “Lisaanul hal afshahu min lisaaanil maqaaal”, bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Dalam ungkapan lain keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengikuti secara alamiah sesuai dengan keaadaan tonggak tersebut, lurusnya, bengkoknya, miringnya, tegaknya. Benarlah pepatah ini: “Kaifa yastaqqimudzdzhillu wal ‘uudu a’waj”, bagaimana bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok.
Oleh karena itu, penting bagi para murabbi (dai/pendidik/guru/orang tua) untuk berusaha semaksimal mungkin menjadi figur murabbi teladan agar keteladanaannya memberi keberkahan bagi perkembangan dakwah dan peningkatan kualitas maupun kuantitas para mutarabbi yang mereka bina. Karena itu para murabbi pun perlu berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang tercatat sejarah sebagai murabbi teladan, setidaknya melalui suratun hayawiyyah (gambaran kehidupan mereka), khusunya dalam melakukan aktivitas pentarbiyahan (mendidik mutarabbi).
Perhatikanlah kehidupan Murabbi hadzihil ummah, Rasulullah saw. Telusuri keteladanan figur murabbi pada diri sahaabatnya, para tabi’in, dan ulama salaafussalih. Aina nahnu minhum? Kita sungguh tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Bahkan rasanya mustahil bisa sama dengan mereka. Itulah satu perasaan yang akan terlintas di benak kita ketika mengetahui keteladaanaan mereka sebagai murabbi. Tetapi kita dinasihati oleh satu pepatah: tasyabbahu in lam takuunuu mislahum, Innattasyabbuha bil kiraami falaahun, teladanilah meski tidak sama persis dengan mereka, sesungguhnya meneladanani orang-orang mulia adalah satu keberuntungan.
Keteladanan Rasulullah saw.
Sebagai murabbi Rasulullah saw. selalu melakukan pendekatan komunikasi sebagaimana yang direkomendasikan Al-Qur’anm yaitu qaulan layyinan (Thaha: 44), qaulan maysuran (Al-Isra’: 28), qaulan ma’rufan (As-Sajdah: 32), qaulan balighan (An-Nisa’: 63), qaulan sadidan (An-Nisa’: 9), dan qaulan kariman (Al-Ahzab: 31).
Sebagai murabbi, Rasulullah saw. tidak pernah memojokkan mutarabbi dengan kata-kata, apalagi hal itu dilakukan di hadapan orang lain. Diriwayatkan oleh Abi Humaid Abdirrahman bin Sa’ad As-Sa’idy r.a., ia berkata, “Nabi saw. telah mengutus seseorang yang bernama Ibnu Lutbiyyah sebagai amil zakat. Setelah selesai dari tugasnya lalu ia menghadap Raasulullah saw. seraya berkata, ‘Ini hasil dari tugas saya, saya serahkan kepadamu. Dan yang ini hadiah pemberian orang untuk saya.” Lalu Rasulullah saw. segera naik ke atas mimbar. Setelah menyampaikan puja dan puji kehadirat Allah swt., beliau berkhutbah seraya berkata, “Sesungguhnya aku megutus seseorang di antara kalian sebagai amil zakat sebagaimaana yang telah diperintahkan oleh Allah swt. kepadaku, lalu ia datang dan berkata: ‘Ini untuk engkau dan yang ini hadiah untukku. Jika orang itu benar, mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapak atau Ibunya sehingga hadiah tersebut datang kepadanya. Demi Allah, tidaklah mengambil seseorang sesuatu yang bukan haknya melainkan kelak dia bertemu dengan Allah swt. membawa barang yang bukan menjadi haknya.” Lalu Rasulullah saw. mengangkat kedua belah tangannya hingga tampak ketiaknya seraya berkata, “Ya Allah, telah aku sampaikan. Ya Allah, telah aku sampaikan. Ya Allah, telah aku sampaikan. ” (Bukhari dan Muslim)
Rasulullah juga tidak pernah menjaga jarak dengan mutarabbinya. Sehingga tidak terjadi kesenjangan psikologis antara mutarabbi dengan murabbi. Hal ini dapat dilihat dari dialog lepas antara Jabir bin Abdillah dengan Rasulullah saw. “Aku pernah keluar bersama Rasulullah saw. pada peperangan Dzatirriqa’. Aku mengendarai seekor onta yang lamban jalannya sehingga aku tertinggal jauh dari Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. menemuiku seraya berkata, “Kenapa engkau, hai Jabir? “Ontaku, ya Rasulallah, jalannya lamban sekali,” balasku. Kemudian Rasulullah berkata lagi, “Berikan kepadaku tongkat yang ada di tanganmu atau berikan aku sepotong kayu.” Aku berikan kepadanya dan beliau pun memukulkan kayu tersebut secara perlahan ke onta saya. Lalu beliau menyuruhku menaiki onta itu. Demi Allah, tiba-tiba ontaku berjalan dengan sangat cepat.
Kemudian obrolan berlanjut. Rasulullah saw. bertanya kepadaku, “Hai Jabir, apakah engkau sudah kawin?” “Sudah, ya Rasulallah,” jawabku. “Dengan janda atau gadis?” tanya beliau lagi. “Dengan janda, ya Rasul,” tegasku. “Kenapa tidak dengan gadis saja sehingga engkau dapat bersenang-senang dengannya dan ia dapat bersenang-senang denganmu?” balas Rasulullah saw. dengan nada bertanya. Lalu aku menjelaskan, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku meninggal pada Perang Uhud dan meninggalkanku saudara perempuan sebanyak tujuh orang. Maka dari itu aku menikahi seorang wanita yang sekaligus dapat menjadi pengasuh dan pembimbing mereka.” Kemudian Rasulullah berkata, “Engkau benar, insya Allah.”
Keteladanaan Para Sahabat r.a.
Di antara para sahabat yang paling menonjol keteladanannya adalah Abu bakar As-Shiddiq r.a. Bukan hanya karena ia adalah satu-satunya sahabat yang mendapat gelar as-sihiddiq dan juga bukan hanya karena satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah saw. dalam perjalanaan hijrah ke Madinah. Tetapi lebih dari itu, karena Abu Bakar layak disebut sebagai murabbi hadzihil ummah sepeninggalnya Rasulullah saw. Beliaulah yang memandu akidah dan fikrah para sahabat yang lainnya ketika mereka masih belum legowo menerima berita wafatnya Rasulullah saw., bahkan termasuk Umar bin khattab r.a. Pada saat itulah Abu bakar memberikan taujih tarbawy dengan membacakan firman Allah swt. dalam surat Ali Imran ayat 144, seraya menambahkan penjalasan dengan kata-kata hikmahnya, Man kaana ya’budu muhammadan fainna muhammad qod maata, wa man kaana ya’budullaha fainnallaha hayyun laa yamuutu, barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah tiada; tetapi barangsiapa yang menyembah Allah swt., sesungguhnya Allah Hidup dan tidak akan mati.” Itulah keteladanan Abu Bakar dalan menyemai benih-benih tarbiyah, khusunya tarbiyah aqidiyah.
Ketika dua pertiga Jazirah Arab ditimpa gerakan pemurtadan (harakatul irtidad), dalam bentuk pembangkangan tidak mau membayar kewajiban zakat, lagi-lagi Abu bakar tampil sebagai pelopor. Dengan ketegasan sebagai murabbi, Abu Bakar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan memerangi mereka. Banyak para sahabat, termasuk Umar bin Khattab, masih beranggapan bahwa bukan itu jalan keluar untuk menghentikan gelombang kemurtadan. Abu Bakar langsung memberikan pelajaran kepada para sahabat khususnya Umar dengan kalimat, “Hatta anta, ya Umar, ajabbaarun fil jahiliyah hhawwarun fil Islam? Wallaahi, laa yanqushuddinu wa anaa hayyun, lau mana’uuni ‘uqqaalu ba’iirin yuadduunahi ila Rasuulillah lahaarabtuhu hatta tansalifa saalifaty, sampai engaku juga, Ya Umar. Apakaah engkau hanya tampak perkasa pada masa jahiliyah kemudian jadi ragu pada masa Islam? Demi Allah, tidak akan berkurang agama ini (Islam) sedikitpun selama aku masih hidup, walaupun mereka tidak memberikan hanya seutas tali onta yang harus diberikan kepada Rasulullah, maka tetap akan ku perangi mereka sampaai urat leherku terputus.”
Bahkan keteladan Abu Bakar sebagai murabbi bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga langsung dibarengi dengan sikap dan tindakan kongkret agar menjadi contoh bagi para sahabat yang lain. Misalnya pada saat sebagian besar para sahabat (kibaarus shahabah) keberataan dengan diangkatnya Usamah Bin Zaid, padahal hal itu telah menjadi ketetapan komando Rasulullah saw. sebelum wafatnya. Abu Bakar berazam untuk tidak membatalkan apa yang telah ditetapkan Rasulullah saw. seraya mengiringi pelepasan ekspedisi Usamah dengan menuntun kudanya sampai perbatasan. Sejak awal Usamah merasa tidak enak karena Abu Bakar berjalan kaki sementara ia berada di atas kudanya. Lalu Usamah menawarkaan agar ia turun, Abu Bakar saja yang naik kuda. Abu Bakar berkata, “Wallahi maa rakibtu wa maa nazalta, wa maa lialaa ughabbira qadami fi sabilillaah, Demi Allah, aku tidak mau naik dan engkau juga tidaak perlu turun. Biarkanlah kakiku bersimbah debu di jalan Allah.”
Keteladanan Ulama Salafusshalih
Salah satu di antara mereka adalah Atho bin Abi Rabaah rahimahullah. Beliau memimpin halaaqah (kelompok pengajian) besar di Masjidil Haram semasa Sulaiman bin Abdil Malik menjadi Khalifah. Khalifah sering menghadiri halaqah Atho bin Abi Rabah. Padahal Atho adalah seorang habsyi (negro asal Ethiopia) yang pernah menjadi budak seorang wanita penduduk Kota Mekkah. Atho dimerdekakan karena kepandaiannya dalam mendalami ajaran Islam.
Keteladanan Atho bin Abi Rabaah sebagai murabbi adalah kelembutannya dan ketajaaman nasihatnya serta pandangan dan perhatianya yang penuh kasih sayang. Itu seperti yang dikisahkan Muhammad bin Suqah, salah seorang ulama Kufah, bahwa suatu ketika Atho bin Abi Rabaah menasihatinya, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum kita tidak menyukai pembicaraan yang berlebihan.” “Lalu apa batasannnya pembicaran yang berlebihan?” tanyaku. Beliau melanjutkan nasihatnya, “Mereka mengkategorikan pembicaraan berlebih bila dilakukan selain dari Al-Qur’an yang dibaca dan difahami; atau hadits Rasulullah yang diriwayatkan; atau berkenaan dengan amar ma’ruf nahi munkar; atau pembicaraan tentang satu hajat, kepentingan dan persoalan maisyah.” Kemudian beliau mengarahkan pandangannya kepadaku seraya berkata, “Atunkruuna (Inna ‘alaikum laahaafidzhiin, kiraaman kaatibiin) (Al-infithar: 10-11), wa anna ma’a kullin (‘minkum malakaini Anil yamiini wa ‘anisshimaali Qa’iid, maa yalfidzhu min qaulin illaa laadaaihi raqiibun ‘atiid) (Qaf: 17-18), Amaa yatahyii aahaduna lau nusyirat alaihi shahiifatuhullatii amlaa’aahaa shdra naahaarihi, faawaajada aktsara maa fiihaa laaisa min amri diinihi walaa amri dunyaahu.”
Kapabilitas takwiniyah (kemampuan membentuk pribadi mutarabbi) Atha bin Abi Rabaah dalam mentarbiyah bukan hanya kepada kalangan pembesar dan terpelajar, tapi sampai seorang tukang cukur. Ini sebagaimana dikisahkan oleh Imam Abu hanifah. “Aku melakukan kesalahan dalam lima hal tentang manasik haji, lalu aku diajarkan oleh seorang tukang cukur, yaitu ketika aku ingin selesai dari ihram. Aku mendatangi salah seorang tukang cukur, lalu aku berkata kepadaanya, berapa harganya? “Semoga Allah menunjukimu. Ibadah tidak mensyaratkan soal harga. Duduk sajalah dulu. Soal harga gampang,” jawab tukang cukur. Waktu itu aku duduk tidak menghadap kiblat, lantas ia mengarahkan dudukku hingga menghadap kiblat. Kemudian menunjukkan bagian kiri kepalaku, lalu ia memutarnya sehingga mulai mencukur kepalaku dari sebelah kanan.
Ketika aku dicukur, ia melihatku diam saja. Lalu ia menegurku, “Kenapa koq diam saja? Ayo perbanyaklah takbir.” Maka aku pun bertakbir. Setelah selesai, aku hendak langsung pergi. Lalu ia berkata, “Mau kemana kamu?” “Aku mau ke kendaraanku,” jawabku. Tukang cukur itu mencegahku seraya berkata, “Shalat dulu dua rakaat, baru kau boleh pergi kemana kau suka.” Aku berkata dalam hati, tidak mungkin tukang cukur bisa seperti ini kalau bukan dia orang alim. Lalu aku berkata kepadanya, “Dari mana engkau dapati mengenai beberapa manasik yang kau perintahkan kepadaku?” “Demi Allah, aku melihat Atho bin Abi Rabaah mempratekkan hal itu, lalu aku mengikutinya, dan aku arahkan orang banyak untuk belajar kepadanya,” jawab tukang cukur alim tersebut.
Di antara kebiasaan baik ulama salafusshalih dan keteladanan mereka dalam mentarbiyah adalah ketika memberikan materi mereka tidak terkesan bersikap santai atau memberikannya sambil duduk bersandar. Tetapi mereka menunjukan sikap yang sigap dan penuh semangat sebagaimana telah menjadi sikap umum di kalangan mereka ketika menyampaikan materi. Hal itu terungkap dari pernyataan salah seorang di antara mereka, “Laa yanbaghi lanaa idzaa dzukira fiinasshalihuna jalasnaa wa nahnu mustaniduuna, tidaklah pantas bagi kita ketika disebutkan di tengah-tengah kita orang-orang yang shaleh, lalu kita duduk sambil bersandar.”
Adalah Said Ibnul Musayyib rahimahullah (juga seoarang murabbi yang keteladanannya patut dicontoh oleh para murabbi). Ia memimpin halaqah yang cukup besar di Masjid Nabawi. Si samping beliau, juga terdapat halaqah ‘Urwah bin Zubair dan Abdullah bin ‘Utbah rahimahumallah. Said Ibnul Musayyib mempunyai seorang mutarabbi, namanya Abu Wada’ah. Suatu ketika Abu Wada’ah beberapa kali tidak hadir. Tentu saja Said bin Musayyib merasa kehilangan mutarabbinya itu. Beliau khawatir kalau-kalau ketidakhadirannya lantaran sakit atau ada masalah yang menimpanya. Lalu beliau bertanya kepada murid-muridnya yang lainnya. Namun tidak ada yang tahu. Beberapa hari kemudian tiba-tiba Abu Wada’ah datang kembali sebagaimana biasa. Maka sang murabbi teladan Said bin Musayyib segera menyambut kedatangannya dengan sapaan yang penuh perhatian. “Kemana saja engkau, ya Aba Wada’ah?” “Isteriku meninggal dunia sehingga aku sibuk mengurusinya,” jawab Abu wada’ah. “Mengapa tidak beritahu kami sehingga kami bisa menemanimu dan mengantarkan jenazah isterimu serta membantu segala keperluanmu?” tanya Said kembali. “Jazaakallahu khairan,” jawab Abu Wada’ah yang terkesan memang sengaja tidak memberi tahu karena khwatir merepotkan murabbinya.
Tidak lama kemudian Said bin Musayyib menghampiri Abu Wada’ah dan membisikinya, “Apakah engkau belum terpikir untuk mencari isteri yang baru, ya Aba Wada’ah?” “Yarhamukallah, siapa orangnya yang mau mengawini anak perempunnya dengan pemuda macamku yang sejak kecil yatim, fakir, dan hingga sekarang ini aku hanya memiliki dua sampai tiga dirham,” tandas Abu Wada’ah yang tampaknya ingin bersikap realistis terhadap keadaan dirinya. “Aku yang akan mengawinimu dengan anak perempuanku,” tegas Said. Dengan terbata-bata Abu Wada’ah berucap, ” Eng… engkau akan mengawiniku dengan anak perempuanmu padahal engkau tahu sendiri bagaimana keadaanku.” “Ya, kenapa tidak? Karena kami jika sudah kedataangan seseorang yang kami ridha terhadap agamanya dan akhlaknya, maka kami kawinkan orang itu. Dan engkau termasuk orang yang kami ridhai,” jawab Said meyakinkan mutarabbinya.
Lalu dipanggillah orang-orang yang ada di halaqah tersebut untuk menyaksikan akad nikah dengan mahar sebanyak dua dirham. Abu Wada’ah benar-benar terkejut tak tahu harus berkata apa. Antara kaget daan girang ia pulang menuju rumahnya. Sampai-sampai ia lupa kalau hari itu ia sedang shaum karena di tengah perjalanan ia terus berpikir dari mana ia akan menafkahkan isterinya, atau berhutang dengan siapa? Tak terasa ia sudah sampai di rumah dan adzan maghrib pun tiba. Lalu ia berbuka dengan sepotong roti. Baru saja menikmati rotinya, tiba-tiba ada suara yang mengetuk pintu. “Siapa yang mengetuk pintu,” tanyanya dari dalam rumah. “Said,” jawab suara di balik pintu yang sepertinya ia mengenalinya.
Setelah dibukanya tiba-tiba sang murabbi sudah ada di hadapannya. Abu Wada’ah mengira telah terjadi “sesuatu” dengan pernikahannya, lalu ia langsung menyapa sang murabbi seraya berkata, “Ya Aba Muhammad, mengapa tidak engkau utus seseorang memanggilku sehingga aku yang datang menemuimu.” “Tidak. Engkau lebih berhak aku datangi hari ini.” Setelah dipersilakan masuk, Said langsung mengutarakan maksud kedatangannya. “Sesungguhnya anak perempuanku telah sah menjadi isterimu sesuai dengan syari’at Allah swt. sejak tadi pagi. Dan aku tahu tidak ada seorang pun yang menemanimu, menghiburmu, dan melipur kesedihanmu, maka aku tidak ingin engaku bermalam pada hari ini di suatu tempat sedang isterimu masih berada di tempat lain. Sekarang aku datang dengan anak perempuanku ke rumahmu.”
Lalu Said menoleh ke arah puterinya seraya berkata, “Masuklah engkau ke rumah suamimu, wahai Puteriku, dengan menyebut asma Allah dan memohon barakah-Nya.” Masuklah anak perempuan Said dan ketika melangkahkan kakinya nyaris keserimpet (terinjak gaunnya) hingga hampir jatuh karena saking malunya. “Sedang aku juga cuma berdiri di hadapanya kaget campur bingung tak tahu harus berkata apa,” kata Abu Wada’ah mengenang kejadian itu. Tapi kemudian ia cepat-cepat mendahului isterinya ke dalam ruangan, lalu ia jauhkan cahaya lampu dari sepotong roti yang memang tinggal segitu-gitunya supaya tidak terlihat oleh isterinya. Baru setelah itu ia keluar rumah memanggil ibunya untuk menemui menantu barunya.
Itulah keteladanan Said bin Musayyib yang menolak pinangan Abdul Malik bin Marwan, Khalifah Bani Umayyah yang ingin meminang putrinya. Ia malah segera menikahkan puterinya dengan Abu Wada’ah, mutarabbinya yang sederhana dan tidak diragukan lagi kualitas tarbiyahnya.
Lain lagi dengan kisah Imam Abu Hanifah. Ia dikenal dengan nama Nu’man bin Tsabit rahimahullah. Beliau seorang murabbi yang wajahnya selalu enak dipandang. Wajahnya berseri-seri. Pengtahuannya dalam. Manis tutur katanya, rapih penampilannya, dan selalu memakai wangi-wangian. Jika beliau datang ke majelis taklimnya, semua orang yang ada di situ sudah mengetahuinya sebelum mereka melihatnya lantaran semerbak wewangian yang dipakainya.
Di samping cerdas, alim, faqih, beliau juga dikenal sebagai murabbi yang dermawan. Maklum, beliau seorang saudagar pakaian, kain, dan sutera. Beliau berdagang berkeliling dari kota satu ke kota lain di wilayah Irak.
Suatu ketika salah seorang muridnya datang ke tempat jualannya. Ia minta dicarikan baju, lalu beliau mencarinya sesuai dengan warna yang dimintanya. “Berapa harganya?” tanya sang murid. “Sedirham,” jawab Imam. “Satu dirham?” tanya sang murid heran. Itu sangat murah. “Ya, segitu.” “Yang benar nih….” kata muridnya lagi. “Aku tidak main-main. Aku beli baju ini dan yang serupa lagi dengannya seharga dua puluh dinar emas dan satu dirham perak. Yang satu aku sudah aku jual, sedang yang sisanya ini aku jual kepadamu dengan harga sedirham. Aku memang tidak mau mengambil untung terhadap murid-muridku.”
Suatu ketika Imam Abu Hanifah melihat salah seorang mutarabbinya berpakaian lusuh sehingga terkesan tidak enak dipandang. Setelah murid-murid yang lain keluar dari majelis, sehingga tidak ada seorangpun di dalam majelis itu selain Imam Abu Hanifah dengan mutarabbinya tersebut, beliau berkata kepadanya, “Angkatlah sajadah ini lalu ambil sesuatu yang ada di bawahnya.” Setelah diambilnya ternyata uang sebanyak seribu dirham. “Ambilah uang itu dan perbaikilah penampilanmu,” tegas Imam Abu Hanifah. Lalu kata orang itu, “Aku sudah cukup. Allah telah melimpahkan nikmatnya kepadaku. Aku tidak membutuhkan uang ini.” Dengan cerdasnya Imam Abu Hanifah menyanggah omongan mutarabbinya itu, “Jika memang benar-benar telah melimpahkan nikmatnya kepadamu, lalu mana bukti kenikmatan-Nya itu? Bukankah Rasulullah saw. bersabda, ‘Innallaha yuhibbu an yaraa aaatsara ni’matihi ‘ala ‘abdihi, sesungguhnya Allah swt. senang melihat bukti kenikmatan yang diberi-Nya terlihat pada hamba-Nya? Karena itu, sudah sepantasnya engkau memperbaiki keadaanmu agar engkau tidak membuat sedih saudaramu.”
Itulah beberapa keteladan ulama salafussalih dalam mentarbiyah para mutarabbinya. Wallahu ‘alamu bisshawaab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/05/676/keteladanan-murabbi/#ixzz1pACjuh1K

Perjalanan Rasulullah SAW ke Surga Bersama Dua Tamunya

Perjalanan Rasulullah SAW ke Surga Bersama Dua Tamunya

15/10/2009 | 25 Shawwal 1430 H | Hits: 23.695
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print
muhammad-hijaudakwatuna.com – Di suatu pagi hari, Rasulullah SAW bercerita kepada para sahabatnya, bahwa semalam beliau didatangi dua orang tamu. Dua tamu itu mengajak Rasulullah untuk pergi ke suatu negeri, dan Rasul menerima ajakan mereka. Akhirnya mereka pun pergi bertiga.
Ketika dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang yang tengah berbaring. Tiba-tiba di dekat kepala orang itu ada orang lain yang berdiri dengan membawa sebongkah batu besar. Orang yang membawa batu besar itu dengan serta merta melemparkan batu tadi ke atas kepala orang yang sedang berbaring, maka remuklah kepalanya dan menggelindinglah batu yang dilempar tadi. Kemudian orang yang melempar batu itu berusaha memungut kembali batu tersebut. Tapi dia tidak bisa meraihnya hingga kepala yang remuk tadi kembali utuh seperti semula. Setelah batu dapat diraihnya, orang itu kembali melemparkan batu tersebut ke orang yang sedang berbaring tadi, begitu seterusnya ia melakukan hal yang serupa seperti semula.
Melihat kejadian itu, Rasulullah bertanya kepada dua orang tamu yang mengajaknya, “Maha Suci Allah, apa ini?”
“Sudahlah, lanjutkan perjalanan!” jawab keduanya.
Maka mereka pun pergi melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang lagi. Orang tersebut sedang terlentang dan di sebelahnya ada orang lain yang berdiri dengan membawa gergaji dari besi. Tiba-tiba digergajinya salah satu sisi wajah orang yang sedang terlentang itu hingga mulut, tenggorokan, mata, sampai tengkuknya. Kemudian si penggergaji pindah ke sisi yang lain dan melakukan hal yang sama pada sisi muka yang pertama. Orang yang menggergaji ini tidak akan pindah ke sisi wajah lainnya hingga sisi wajah si terlentang tersebut sudah kembali seperti sediakala. Jika dia pindah ke sisi wajah lainnya, dia akan menggergaji wajah si terletang itu seperti semula. Begitu seterusnya dia melakukan hal tersebut berulang-ulang.
Rasulullah pun bertanya, “Subhanallah, apa pula ini?”
Kedua tamunya menjawab, “Sudah, menjauhlah!”
Maka mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Selanjutnya mereka mendatangi sesuatu seperti sebuah tungku api, atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya besar, dan menyala-nyala api dari bawahnya. Di dalamnya penuh dengan jeritan dan suara-suara hiruk pikuk. Mereka pun melongoknya, ternyata di dalamnya terdapat para lelaki dan wanita dalam keadaan telanjang. Dan dari bawah ada luapan api yang melalap tubuh mereka. Jika api membumbung tinggi mereka pun naik ke atas, dan jika api meredup mereka kembali ke bawah. Jika api datang melalap, maka mereka pun terpanggang.
Rasulullah kembali bertanya, “Siapa mereka?”
Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!”
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka mendatangi sebuah sungai, sungai yang merah bagai darah. Ternyata di dalam sungai tadi ada seseorang yang sedang berenang, sedangkan di tepi sungainya telah berdiri seseorang yang telah mengumpulkan bebatuan banyak sekali. Setiap kali orang yang berenang itu hendak berhenti dan ingin keluar dari sungai, maka orang yang ditepi sungai mendatangi orang yang berenang itu dan menjejali mulutnya sampai ia pun berenang kembali. Setiap kali si perenang kembali mau berhenti, orang yang di tepi sungai kembali menjejali mulut si perenang dengan bebatuan hingga dia kembali ke tengah sungai.
Rasulullah pun bertanya, “Apa yang dilakukan orang ini?!”
“Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya.
Maka mereka pun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, mereka mendapatkan seseorang yang amat buruk penampilannya, sejelek-jeleknya orang yang pernah kita lihat penampilannya, dan di dekatnya terdapat api. Orang tersebut mengobarkan api itu dan mengelilinginya.
“Apa ini?!” tanya Rasulullah
“Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan lagi. Dalam perjalanan mereka menemukan sebuah taman yang indah, dipenuhi dengan bunga-bunga musim semi. Di tengah taman itu ada seorang lelaki yang sangat tinggi, hingga Rasulullah hampir tidak bisa melihat kepala orang itu karena tingginya. Di sekeliling orang tinggi itu banyak sekali anak-anak yang tidak pernah Rasul lihat sebegitu banyaknya.
Melihat itu, Rasulullah kembali bertanya, “Apa ini? Dan siapa mereka?”
Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!”
Maka mereka pun pergi berlalu. Lalu mereka menyaksikan sebuah pohon yang amat besar, yang tidak pernah Rasul lihat pohon yang lebih besar dari ini. Pohon ini juga indah. Kedua tamu Rasul berkata, “Naiklah ke pohon itu!”
Lalu mereka pun memanjatnya. Rasul dituntun menaiki pohon dan dimasukkannya ke dalam sebuah rumah yang sangat indah yang tak pernah Rasul lihat seumpamanya. Di dalamnya terdapat lelaki tua dan muda. Lalu mereka sampai pada sebuah kota yang dibangun dengan batu bata dari emas dan perak. Mereka mendatangi pintu gerbang kota itu. Tiba-tiba pintu terbuka dan mereka memasukinya. Mereka disambut oleh beberapa orang, sebagian mereka adalah sebaik-baik bentuk dan rupa yang pernah kita lihat, dan sebagiannya lagi adalah orang yang seburuk-buruk rupa yang pernah kita lihat. Kedua tamu yang bersama Rasulullah berkata kepada orang-orang itu, “Pergilah, dan terjunlah ke sungai itu!”
Ternyata ada sungai terbentang yang airnya sangat putih jernih. Mereka pun segera pergi dan menceburkan dirinya masing-masing ke dalam sungai itu. Kemudian mereka kembali kepada Rasululullah dan dua tamunya. Kejelekan serta keburukan rupa mereka tampak telah sirna, bahkan mereka dalam keadaan sebaik-baik rupa!
Lalu kedua orang tamu Rasulullah berkata, “Ini adalah Surga ‘Adn, dan inilah tempat tinggalmu!”
“Rumah pertama yang kau lihat adalah rumah orang-orang mukmin kebanyakan, adapun rumah ini adalah rumah para syuhada’, sedangkan aku adalah Jibril dan ini Mika’il. Maka angkatlah mukamu (pandanganmu).”
Maka mata Rasulullah langsung menatap ke atas, ternyata sebuah istana bagai awan yang sangat putih. Kedua tamu Rasulullah berkata lagi, “Inilah tempat tinggalmu!”
Rasulullah berkata kepada mereka, “Semoga Allah memberkati kalian.”
Kedua tamu itu lalu hendak meninggalkan Rasulullah. Maka Rasulullah pun segera ingin masuk ke dalamnya, tetapi kedua tamu itu segera berkata, “Tidak sekarang engkau memasukinya!” [1]
“Aku telah melihat banyak keajaiban sejak semalam, apakah yang kulihat itu?” tanya Rasulullah kepada mereka.
Keduanya menjawab, “Kami akan memberitakan kepadamu. Adapun orang yang pertama kau datangi, yang remuk kepalanya ditimpa batu, dia itu adalah orang yang membaca Al Qur’an tetapi ia berpaling darinya, tidur di kala waktu shalat fardhu (melalaikannya). Adapun orang yang digergaji mukanya sehingga mulut, tenggorokan, dan matanya tembus ke tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya dan berdusta dengan sekali-kali dusta yang menyebar ke seluruh penjuru. Adapun orang laki-laki dan perempuan yang berada dalam semacam bangunan tungku, maka mereka adalah para pezina. Adapun orang yang kamu datangi sedang berenang di sungai dan dijejali batu, maka ia adalah pemakan riba. Adapun orang yang sangat buruk penampilannya dan di sampingnya ada api yang ia kobarkan dan ia mengitarinya, itu adalah malaikat penjaga neraka jahannam.
Adapun orang yang tinggi sekali, yang ada di tengah-tengah taman, itu adalah Ibrahim AS. Sedangkan anak-anak di sekelilingnya adalah setiap bayi yang mati dalam keadaan fitrah.”

Lalu di sela-sela penyampaian cerita ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan anak orang-orang musyrik?”
Rasulullah menjawab, “Dan anak orang-orang musyrik.”
Lalu Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya.
Adapun orang-orang yang sebagian mukanya bagus, dan sebagian yang lain mukanya jelek, mereka itu adalah orang-orang yang mencampuradukan antara amalan shalih dan amalan buruk, maka Allah mengampuni kejelekan mereka. []
Maraji’: Riyadhush Shalihin
_______________
Catatan kaki:
[1] Dalam hadits riwayat Bukhari lainnya, dikisahkan bahwa kedua tamu Rasulullah itu mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Kamu masih memiliki sisa umur yang belum kamu jalani, jika kau telah melaluinya maka kau akan masuk rumahmu.” (HR. Bukhari)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2009/10/4267/perjalanan-rasulullah-saw-ke-surga-bersama-dua-tamunya/#ixzz1pABuQW87

Melingkar Adalah Menyulam Cinta, Melingkar Adalah Kita…

Melingkar Adalah Menyulam Cinta, Melingkar Adalah Kita…

26/1/2012 | 02 Rabbi al-Awwal 1433 H | Hits: 2.075
Oleh: Dwi Purnawan
Kirim Print
Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menjulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
(Brothers: Untukmu Teman)
Ilustrasi (terpaksabikinwebsite.wordpress.com)
dakwatuna.com - Lagu tersebut adalah lagu lama yang tiba-tiba menjadi ingin sekali bagiku, beberapa waktu lalu, untuk sering melantunkannya. Bahkan, sampai suatu ketika ada seorang ikhwah berkata “itu kan lagu jadul, ngapain masih engkau nyanyikan”, dan tetapi aku tetap tak mempedulikannya. Ya karena lagu ini mengingatkanku pada satu hal, atau tepatnya tiga hal. Tentang cinta, iman, dan ukhuwah. Dan sahabat, malam ini, ingin sekali aku berbagi denganmu. Berbicara tentang tiga hal itu, cinta, iman dan ukhuwah. Tiga hal yang saling terkait, yang saling membutuhkan. Dan tiga hal itulah yang membuat generasi terbaik , para salafushalih mampu menuju peradaban tertinggi.
Mari kita bicarakan mulai yang pertama, tentang cinta sejati, yang katanya orang-orang indah, dan memang benar cinta sejati itu indah, seperti cintanya Muhammad pada ummatnya, yang sangat mengharukan. Yang ketika itu, sang penyair bernama Iqbal berkata “Kalau aku adalah Muhammad,” kata Iqbal, “aku takkan turun kembali ke bumi setelah sampai di Sidratul Muntaha.”Iqbal barangkali mewakili perasaan kita semua, siapa yang tidak ingin berdekatan dengan Allah, di langit ketujuh, di Sidratul Muntaha, terlalu menggoda untuk ditinggalkan apalagi untuk sebuah kehidupan penuh darah dan air mata di muka bumi. Dua kehidupan yang berbeda samasekali. Tapi Sidratul Muntaha bagi Muhammad adalah bukan terminal penghentian. Maka Sang Nabi turun ke bumi juga akhirnya. Menembus kegelapan hati ummatnya dan menyentuhnya dengan lembut, lalu kemudian menyalakannya kembali dengan api cinta.
Cintalah yang menggerakkan langkah kakinya turun ke bumi. Cinta juga yang mengilhami batinnya dengan kearifan saat ia berdoa setelah anak-anak Thaif melemparinya dengan batu sampai kakinya berdarah: “Ya Allah, beri petunjuk pada umatku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Seperti juga cinta menghaluskan jiwanya sebelas tahun kemudian, saat ia membebaskan penduduk Mekah yang ia taklukkan setelah pertarungan berdarah -darah selama dua puluh tahun: “Pergilah kalian semua, kalian sudah kumaafkan,” katanya ksatria. Ah, memang seperti itulah cinta. Cinta itu indah. Dan Sang nabi telah membuktikannya. Lalu mengapa saat ini, banyak orang mengatasnamakan cinta, tetapi seiring dengan itu, hanya penderitaan lah yang didapat. Seperti kisah Laila Majnun, seperti kisah Romeo dan Juliet. Seperti kebanyakan orang saat ini, yang hilang nafsu makannya hanya karena diputus sang kekasih, yang rela meneguk satu botol baygon hanya karena ditinggal sang kekasih. Sebegitu tragiskah cinta mengajari kita? Lalu mengapa sang Nabi dengan cintanya telah sukses, membawa Islam ke puncak peradaban. Satu kesimpulan, berarti ada yang salah dengan makna cinta itu. Dan untuk selanjutnya, mari kita bincangkan lagi.
Ya, ada yang salah dengan cinta orang-orang itu. Cinta yang tak berlandaskan iman. Maka ada dua perbedaan di sini. Cinta dengan dan tanpa Iman. Mari kita bicarakan tentang Iman dan cinta. Karena kita tidak akan mungkin meraih kebahagiaan hakiki tanpa keduanya, atau kita mengabaikan salah satunya. Kita tidak akan pernah sampai kepada titik keimanan tertinggi, kecuali dengan cinta. Begitu pula sebaliknya, kita tidak akan pernah meraih cinta yang sejati, tanpa iman sebagai dasarnya. Seperti kata Ustadz Anis Matta dalam serial Cinta.
Iman itu laut, cintalah ombaknya.
Iman itu api, cintalah panasnya.
Iman itu angin, cintalah badainya.
Iman itu salju, cintalah dinginnya.
Iman itu sungai, cintalah arusnya.
Begitu erat hubungan antara keduanya. Iman dan cinta. Pohon Iman tidak akan pernah tumbuh subur dan berbuah lebat tanpa adanya perawatan dari sang pecinta. Dan inilah yang berhasil dilakukan Rasulullah, dan generasi awal, para generasi terbaik yang pernah diturunkan oleh Allah ke muka bumi. Merawat Iman dengan cinta, atau sebaliknya mencintai dengan iman. Dan masih ada satu lagi yang perlu kita lihat kedahsyatannya.
Yang ketiga. Ukhuwah. Ya ukhuwah. Kata kamus, ukhuwah berarti persaudaraan yang didasarkan pada ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat islami. Hanya berhenti sampai titik, lalu artinya pun berhenti pula sampai di situ. Padahal, Kata sebagian orang, atau beberapa orang, ukhuwah itu manis, seperti madu, ukhuwah itu indah, bak musim semi yang penuh dengan bunga-bunga berwarna hijau dan merah. Tetapi apakah benar begitu adanya. Apakah benar ukhuwah itu madu, apakah benar ukhuwah itu seindah musim semi. Sepertinya kita tidak perlu lagi mendefinisikan makna ukhuwah, karena ukhuwah akan mendefinisikan sendiri dirinya, dan selanjutnya kita pun akan berkata, ukhuwah itu indah. Mari kita lihat makna ukhuwah menurut orang-orang ini.
Yang pertama adalah ukhuwah versi orang yang berwajah halus ini, yang berjanggut, yang matanya Nampak sayu karena kurang tidur, yang ketika mengimani shalat atau sedang memimpin perjalanan jauh, dia sempat bertanya, “Dimana si fulan? Mengapa ia tak tampak?”. Tetangganya begitu tenteram, aman dari gangguan tangan dan lisannya. Ya, ukhuwah menurut orang ini adalah renyahnya candaan yang mengasyikkan, dan candanya tak pernah berbumbu dusta. “Wahai pemilik dua telinga!”, panggilan yang pernah beliau sematkan kepada Az Zubair. Beliau tidak suka orang-orang berdiri menyambut kedatangannya, beliau yang paling awal menjenguk orang sakit, duduk bersama kaum miskin, dan memenuhi undangan budak sahaya. Inilah makna ukhuwah versi lelaki yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi Madinah kala itu, dan panutan umat Islam sedunia, inilah makna ukhuwah menurut Muhammad Al-Musthofa, nabi kita. Ukhuwah yang selalu dilandasi rasa cinta dan keimanan.
Lalu kita tanyakan makna ukhuwah menurut saudara kita ini, seorang al-akh, seorang mahasiswa yang juga aktivis dakwah. Ukhuwah menurut dia adalah selalu rindu untuk bertemu dengan saudaranya, lalu bersama-sama mendengarkan materi dari sang pemandu, lalu kalau ada temannya mengantuk, dengan lembut ia mengatakan “akhi, liqonya belum selesai”, menurut dia ukhuwah adalah bercanda riang gembira di bawah air terjun, saling menjatuhkan dalam derasnya air dalam sebuah permainan, lalu saling menyiramkan air dengan saudaranya, kemudian bersama-sama setelah rihlah bersama, makan bersama di sebuah kedai bakso dengan ditraktir murabbi. Ukhuwah menurut dia adalah membersamai saudara-saudaranya memasang pamflet, memasang baliho, lalu seterusnya berkoordinasi sampai menjelang subuh, merencanakan sebuah agenda besar, lalu ketika ditanya alasan, dia pun menjawab, ini semua demi Al-Islam.
Ah, nikmat, nikmat sekali ukhuwah berbalut keimanan dan cinta. Indah sekali ukhuwah berbaju cinta dan iman. Kebersamaan dengan saudara-saudara seiman, seaqidah akan selalu indah, dan nikmat, karena hakikat sebuah ukhuwah, sebuah kebersamaan adalah berjuang. Dalam perjuangan itu, akan musnah segala rasa khawatir dan takut, hilang segala resah dan kalut. Kebersamaan yang diridhai oleh Allah, yang telah mengikat kita dalam bingkai kebersamaan dan persaudaraan, seperti doa-doa rabithah yang sering kita ucapkan pada saat setelah subuh. Dan selanjutnya, kesulitan, kerepotan, rasa sakit, semua yang ada dalam kebersamaan perjuangan iman melahirkan kegemilangan itsar yang tiada duanya dalam sejarah. Seperti persaudaraannya Muhajirin dan Anshar, yang saling bertukar hadiah, dan sampai bertukar istri pula, dan inilah makna bersama menurut beberapa saudara kita.
Ukhuwah adalah saling memahami, kata sang murabbi, lalu sang a’dho dengan semangat menjawab, saya pernah mencuci bajunya akh Yun, saya tau makanan kesukaan akh Kit, dan sebagainya. Atau dengan media lain, ukhuwah adalah berderingnya HP al-akh karena mendapatkan sms dari saudaranya yang berbunyi “Ana Ukhibuka Fillah, akhi, ane hari ini bertemu dengan cinta, iman, taqwa, kebahagiaan, dan kemuliaan. Kemudian ana kasih alamat Antum pada mereka. Semoga mereka mendapat tempat di hati Antum”. Inilah ukhuwah, iman, dan cinta. Yang dengan ketiganya akan menuju puncak langit-langit peradaban ini. Dan di akhir tulisan, mari kita berdendang.
Malam siang berlalu
Gerhana kesayuan, tiada berkesudahan
Detik masa berganti, tiada berhenti
Oh Syahdunya…
Sejenak ku terkenang
Hakikat perjuangan, penuh onak dan cabaran
Bersama teman- teman, arungi kehidupan
Oh indahnya…
(Brothers : Selamat Berjuang)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18205/melingkar-adalah-menyulam-cinta-melingkar-adalah-kita/#ixzz1pAAmDVmK

Sadarlah, Kita adalah Tokoh Sentral

Sadarlah, Kita adalah Tokoh Sentral

13/2/2012 | 19 Rabbi al-Awwal 1433 H | Hits: 572
Oleh: Ibnu Islami
Kirim Print
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)
dakwatuna.com - Bagaimana jika seorang Rasulullah mengatakan adalah sahabat yang paling mulia dialah Abu Bakar Asshidiq, Abu Bakar meninggalkan barisan ini di waktu itu, membelot apalagi memerangi Islam? Bagaimana jika sahabat sekuat dan setegas Umar bin Khathab meninggalkan barisan ini di waktu itu, membelot apalagi memerangi Islam? Sehebat seorang Khalid bin Walid dalam berperang, Mushab bin Umair yang memiliki karisma luar biasa, berpenampilan menarik idaman wanita di kala itu, meninggalkan barisan ini, melakukan pembelotan apalagi memerangi Islam? Sahabat secerdas Ali bin Abi Thalib, sekaya Abdurrahman bin Auf, sesantun Utsman Bin Affan, pergi dari barisan ini, meninggalkannya lalu berdiri di barisan lain untuk memerangi Islam? Dengan kekuatan mereka, dengan ucapan mereka, dengan pikiran-pikiran mereka, dengan akhlaq mereka, bukankah menjadi suatu hal yang sangat besar membahayakan umat Islam di kala itu jika mereka memerangi Islam? Mereka bukan itu, mereka adalah orang-orang yang mulia, sangat mulia, Allah dan RasulNya memuji mereka dalam banyak firman Allah dan ucapan RasulNya, hingga tak ada hak bagi orang lain untuk menghina mereka.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasul bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabatku! Demi yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya seorang dari kalian berinfak dengan emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (raupan tangan) salah satu dari mereka, bahkan tidak setengahnya. (HR Muslim).
Lalu bagaimana dengan diri kita? Diri yang Allah berikan kelebihan, Allah hadirkan kapasitas pada diri untuk mengisi amanah-amanah yang telah Allah berikan, diri ini mengalami kefuturan, kekecewaan dengan barisan ini, meninggalkannya bahkan memeranginya. Begitu banyak orang-orang yang sudah mengalami itu, insya Allah kita berlindung kepada Allah untuk dihindarkan dari hal tersebut. Diberi amanah, ada permasalahan sedikit atau banyak dari, tidak tegar, putus asa, hingga merasakan masalah itu hanya diberikan kepada dirinya seorang, hingga merasakan masalahnya saja yang paling berat, ketika diberi amanah tidak ada yang memberikan perhatian, tidak ada yang memberi pujian padahal dirinya telah berusaha dengan baik dan benar melakukannya tapi yang datang hanya kritikan bahkan cacian, lelah tidak mau melanjutkan perjuangannya.
Berdiri sendiri saja tidak mampu, tidak mau, tidak punya tekad, apalagi membangun orang lain. Ingin rasanya diberi perhatian, ingin rasanya dirinya yang diberikan pertolongan, mengeluh kenapa orang lain tidak mengerti diri ini, kenapa “saya memberi kebaikan tapi tidak dibalas dengan kebaikan pula oleh mereka”, kenapa orang lain yang lebih dipuji, kenapa orang lain yang lebih diperhatikan, lebih disebut-sebut. Kecewa, bicara mana ukhuwah yang telah digembor-gemborkan? Mencari pelarian, mencari tempat lain, masuk ke dalam barisan lain, mengatakan “barisan itu hanya kumpulan orang-orang omong kosong, mengaku saudara tapi ada kesulitan tidak mau bantu, ada musibah mereka tidak mau tau, berharap di sini tidak seperti itu”.
Saudaraku, sesungguhnya generasi sahabat punya potensi keadaan yang lebih besar untuk kelelahan, untuk kecewa, untuk membelot, untuk memerangi Islam. Ingatkah kisah ketika kaum Anshar dan Muhajirin memenangkan peperangan Hunain (baca sirah perang Hunain)? Harta rampasan perang Rasulullah berikan semua kepada kaum Muhajirin, kepada Quraisy dan kabilah Arab lainnya, tapi kaum Anshar tidak mendapatkan harta rampasan perang hingga ada yang mengatakan, Muhammad telah lupa ketika berkumpul dengan keluarganya (orang-orang Muhajirin). “Rasulullah bersabda Hai kaum Anshar, masihkah ada pada diri kalian kecenderungan pada dunia, padahal aku telah melunakkan suatu kaum agar mereka masuk Islam. Sedangkan, aku telah percaya keislaman kalian. Tidakkah kalian ridha, ketika orang lain pulang membawa kambing dan unta, sementara kalian pulang bersama Rasulullah?”
Para pendahulu, generasi sahabat pertama. Dirinya dan keluarganya terancam bahkan disiksa oleh musuh-musuh Islam, ditinggalkan dan meninggalkan keluarganya bahkan dimusuhi, perhatikan kisah Saad bin Abi Waqash
“Ibu! Sesungguhnya aku sangat mencintai ibu. Tetapi aku lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah! Seandainya ibu memiliki seribu jiwa, lalu jiwa itu keluar dari tubuh ibu satu per satu (untuk memaksaku keluar dari agamaku) sungguh aku tidak meninggalkan agamaku karenanya.”
Ibu sahabat Saad, memintanya untuk kembali ke agama nenek moyangnya, mengancam dan benar-benar melakukan mogok makan, sangat dilema sekali posisi seperti itu, dan turunnya surat QS Luqman ayat 14-15 (baca Al-Qur’an) karena begitu santun Saad bin Abi Waqash menolak ajakan ibunya untuk keluar dari Islam.
Kisah Summayah syahidah pertama, anak dan suaminya dihadapkan dengan kematiannya. Mereka tetap bersabar.
Sabda Nabi,
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir! Bersabarlah! Sesungguhnya balasan kalian adalah surga.”
Bagi kalian yang memiliki peranan sentral wahai para pelaku dakwah, dan memang pasti kalian memiliki peranan sentral, bagaimanapun, di manapun dan kapan pun, bukan hanya karena posisi jabatan, bukan hanya karena tidak ada lagi orang dalam amanah tersebut, tapi memang masing-masing diri para pelaku dakwah adalah tokoh sentral, jangan sampai futurnya diri ini, kecewanya apalagi membelotnya diri ini setidaknya menambah satu masalah bagi para pelaku dakwah lainnya. Jadilah pribadi yang menyelesaikan tidak hanya satu masalah, tapi seribu bahkan lebih. Pesan ini untuk kalian yang masih hidup dengan senantiasa memperbaiki diri, dan saya termasuk dalam kalian. Insya Allah
Di saat kasih sayang manusia tak datang kepada kita, apakah ada satu waktu Allah tak memberi kasih sayangNya?
Di saat kepedulian manusia tak datang kepada kita, apakah ada satu waktu Allah tak peduli kepada kita?
Di saat perhatian manusia tak datang kepada kita, apakah ada satu waktu kita lepas dari perhatianNya?
Di saat manusia lupa kepada kita, apakah ada satu waktu Allah lupa kepada hambaNya?
Di saat ada manusia yang meninggalkan kita, apakah ada satu waktu Allah meninggalkan diri ini?
Di saat manusia berpisah dari kita, apakah ada satu waktu terpisahkan antara Allah dengan hambaNya?
Di saat manusia tak mengetahui apa yang terjadi pada diri kita, apakah ada satu waktu Allah tak tau?
Di saat manusia terbatas bantuannya, apakah ada satu waktu yang membatasi Allah?
Di saat manusia begitu sulit berikan maaf kepada kita, apakah ada satu waktu Allah seperti itu?
Di saat ada waktu pada manusia tentang semua itu, tapi tak ada satu waktu pun bagi Allah akan hal itu.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18251/sadarlah-kita-adalah-tokoh-sentral/#ixzz1pAAH1Xqd

Pasangan yang Baik Hanya Untuk yang Baik

Benarkah Pasangan yang Baik Hanya Untuk yang Baik?

14/3/2012 | 21 Rabbi al-Thanni 1433 H | Hits: 5.790
Oleh: Oktarizal Rais
Kirim Print
Ilustrasi (kawanimut)
dakwatuna.com - Umur bumi sudah sangat tua, banyak sudah cerita yang tercipta, dan zaman menjadi saksi bisu perputaran waktu. Tapi kita tidak layak untuk membisu, kita harus bisa mengambil hikmah dari semua kejadian yang telah terjadi. Ada kisah para anbiya, ada kisah para shohabah yang penuh mahabbah, ada kisah tentang kaum yang Allah selamatkan, ada pula kisah tentang kaum yang Allah binasakan. Semua kisah itu bisa kita temukan di lembaran-lembaran Al-Qur’an dan As sunnah.
Dan pagi hari ini Allah telah menggerakkan bapak saya untuk bercerita sebuah kisah yang tidak ada di dalam Al-Qur’an dan As sunnah. Karena yang bapak ceritakan adalah kisah nyata yang terjadi di zaman yang penuh fitnah. Seperti sekarang wahai ikhwah… L
Entah dari mana saya harus menceritakannya. Karena saya memang bukan penulis ulung. Untuk berbicara pun biasanya belepotan. Namun saya tidak bersedih. Karena kepandaian berpidato, kefasihan lidah, dan kelancaran berbicara bukanlah syarat mutlak dalam berdakwah di jalan Allah. Kalimurrahman, Musa AS ialah seorang nabi yang merasakan kakunya lidah dalam memberikan penjelasan, dan beliau memohon kepada Allah dengan ucapannya; wahlul ‘uqdatan min lisaaniy. Jadi, yang terpenting, gairah tebar dakwah dan hikmah selalu merekah.
Oke, kembali ke topik.
Bermula saat tadi pagi saya sarapan berdua dengan bapak. Momen santai seperti ini memang menjadi waktu paling pas, enak, dan cocok untuk ‘transfer’. Transfer kumpulan huruf, transfer kumpulan kata, transfer kumpulan kalimat, dan jadilah seporsi wejangan yang nikmat…
Tapi, dalam kesempatan ini saya urungkan niat untuk bercerita secara detail. Mungkin, intisarinya saja.
Tadi bapak menceritakan seorang wanita yang bapak kenal dan saya juga mengenalnya. Wanita itu berhijab. Bajunya longgar dan jilbabnya lebar. Kostum itu ia kenakan sudah lama, sejak duduk di bangku kuliah. Sekarang umurnya sudah kepala tiga. Dan wanita itu juga termasuk aktivis. Sampai sekarang pun masih aktif duduk di halaqah. Wanita itu sudah menikah, dengan seorang pria. Sudah lama. Mungkin kurang lebih 8 tahun silam. Nah, saya ingin bercerita tentang malam-malam pertama pasutri tersebut.
Singkat cerita, kurang lebih 1 minggu setelah menikah. Si suami komplain sama istrinya (wanita berhijab yang diceritakan bapak). Suaminya komplain, karena menemukan sesuatu yang harusnya tidak ia temukan. (apa ya sesuatu itu???).
Namun si wanita tidak mau menjawab, ia hanya menyuruh suaminya untuk bertanya pada kakak iparnya (suami kakak perempuan si wanita). Dan meluncurlah si suami ke rumah kakak ipar istrinya. Sesampainya di sana, ia langsung menceritakan tentang sesuatu yang harusnya tidak ia temukan di malam-malam pertama pernikahan.
Si suami bercerita bahwa ia dapati istrinya sudah tidak perawan lagi! Kewanitaannya bersih tanpa selaput.
Maka sang kakak ipar menjelaskan. Ternyata, dahulu ketika si wanita masih duduk di bangku SMA, ia mengidap penyakit keputihan. Sudah parah. Dan kakak iparnya itulah yang mengantar untuk berobat. Dokter pertama berkata bahwa penyakit keputihan separah ini tidak mungkin menimpa kecuali kepada wanita yang sudah beberapa kali melakukan hubungan seksual. Untuk yang sudah bersuami, minimal 3 bulan setelah menikah. Ketika itu, si wanita tidak puas dengan jawaban sang dokter dan minta berobat ke dokter lain. Sampai 3 dokter dikunjungi, semua mengutarakan jawaban yang tidak jauh berbeda…
Ternyata, pesan yang ingin bapak sampaikan adalah; “wanita shalihah otomatis akan berbaju longgar dan berjilbab lebar. Karena itu salah satu cirinya. Tapi hati-hati, jangan sampai tertipu oleh baju longgar dan jilbab lebar, karena itu bukan jaminan… meskipun ianya sudah bertaubat, tapi kamu inginnya yang ‘fresh’ kan?”
Sampai di sini mungkin ada yang nyeletuk, “ah santai aja, kalau kita baik pasti dapetnya yang baik juga kok. Kan ada tuh di Al-Qur’an. Surat an-nur ayat 26, Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula).
AnNur ayat 26

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Berangkat dari pemahaman di atas, tentu saja kita bertanya-tanya apakah yang dimaksud baik di sini? Atau keji? Apakah kita dapat menentukan sesuatu itu baik atau tidak baik? Kalau kita cermati, ayat di atas merupakan satu paket ayat yang bersambung ,tidak hanya putus pada kalimat “untuk wanita yang baik” tetapi masih berlanjut dengan bahasan tuduhan , juga ampunan. Artinya ayat ini sebenarnya diturunkan dalam konteks tertentu. Coba kita lihat konteks ayat ini turun (asbabun nuzul);
“Ayat ini diturunkan untuk menunjukkan kesucian ‘Aisyah RA dan Shafwan bin al-Mu’attal RA dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Pernah suatu ketika dalam suatu perjalanan kembali dari ekspedisi penaklukan Bani Musthaliq, ‘Aisyah terpisah tanpa sengaja dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian diantarkan pulang oleh Shafwan yang juga tertinggal dari rombongan karena ada suatu keperluan. Kemudian ‘Aisyah naik ke untanya dan dikawal oleh Shafwan menyusul rombongan Rasulullah SAW dan para sahabat, akan tetapi rombongan tidak tersusul dan akhirnya mereka sampai di Madinah. Peristiwa ini akhirnya menjadi fitnah di kalangan umat muslim kala itu karena terhasut oleh isu dari golongan Yahudi dan munafik jika telah terjadi apa-apa antara ‘Aisyah dan Shafwan.
Masalah menjadi sangat pelik karena sempat terjadi perpecahan di antara kaum muslimin yang pro dan kontra atas isu tersebut. Sikap Nabi juga berubah terhadap ‘Aisyah, beliau menyuruh ‘Aisyah untuk segera bertaubat. Sementara ‘Aisyah tidak mau bertaubat karena tidak pernah melakukan dosa yang dituduhkan kepadanya, ia hanya menangis dan berdoa kepada Allah agar menunjukkan yang sebenarnya terjadi. Kemudian Allah menurunkan ayat ini yang juga satu paket annur 11-26.”
Penjelasan An Nur 26 menurut para ulama
Jika dilihat dari konteks ayat ini, ada dua penafsiran para ulama terhadap ayat ini yaitu tentang arti kata “wanita yang baik” dan juga “ucapan yang baik” Sehingga dapat juga diartikan seperti ini;
“Perkara-perkara (ucapan) yang kotor adalah dari orang-orang yang kotor, dan orang-orang yang kotor adalah untuk perkara-perkara yang kotor. Sedang perkara (ucapan) yang baik adalah dari orang baik-baik, dan orang baik-baik menimbulkan perkara yang baik pula. Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Kata khabiitsat biasa dipakai untuk makna ucapan yang kotor (keji), juga kata thayyibaat dalam Quran diartikan sebagai kalimat yang baik.
Hakam Ibnu Utaibah yang menceritakan, bahwa ketika orang-orang mempergunjingkan perihal Aisyah RA Rasulullah saw menyuruh seseorang mendatangi Siti Aisyah RA Utusan itu mengatakan, “Hai Aisyah! Apakah yang sedang dibicarakan oleh orang-orang itu?” Aisyah RA menjawab, “Aku tidak akan mengemukakan suatu alasan pun hingga turun alasanku dari langit”. Maka Allah menurunkan firman-Nya sebanyak lima belas ayat di dalam surah An Nur mengenai diri Siti Aisyah RA. Selanjutnya Hakam Ibnu Utaiban membacakannya hingga sampai dengan firman-Nya, “Ucapan-ucapan yang keji adalah dari orang-orang yang keji…” (Q.S. An Nur, 26). Hadits ini berpredikat Mursal dan sanadnya shahih.
Ayat 26 inilah penutup dari ayat wahyu yang membersihkan istri Nabi, Aisyah dari tuduhan keji itu. Di dalam ayat ini diberikan pedoman hidup bagi setiap orang yang beriman. Tuduhan keji adalah perbuatan yang amat keji hanya akan timbul daripada orang yang keji pula. Memang orang-orang yang kotorlah yang menimbulkan perbuatan kotor. Adapun ucapan-ucapan yang baik adalah keluar dari orang-orang yang baik pula, dan memanglah orang baik yang sanggup menciptakan perkara baik. Orang kotor tidak menghasilkan yang bersih, dan orang baik tidaklah akan menghasilkan yang kotor, dan ini berlaku secara umum
Di akhir ayat 26 Tuhan menutup perkara tuduhan ini dengan ucapan bersih dari yang dituduhkan yaitu bahwa sekalian orang yang difitnah itu adalah bersih belaka dari segala tuduhan, mereka tidak bersalah sama sekali. Maka makna ayat di atas juga sangat tepat bahwa orang yang baik tidak akan menyebarkan fitnah, fitnah hanya keluar dari orang–orang yang berhati dengki, kotor, tidak bersih. Orang yang baik, dia akan tetap bersih, karena kebersihan hatinya.
Yang Baik Hanya Untuk yang baik?
Pembahasan kedua yaitu tentang maksud ayat di atas yaitu “wanita yang baik” dan “wanita yang keji”. Dalam hal ini terjemahan Depag menggunakan arti wanita yang baik dan pemahaman ini berangkat dari para ulama yang menyatakan bahwa Aisyah merupakan wanita yang baik-baik, karena konteks ayat tersebut turun satu paket, yaitu ayat 11-26 dengan ayat sebelumnya tentang seseorang menuduh wanita yang baik-baik berzina. Maka jika diartikan begitu sesuai dengan pertanyaan di atas

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

Ayat ini bersifat umum, bahwa wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, begitu juga sebaliknya. Namun yang perlu dipahami adalah ayat ini sebuah kondisi atau memang anjuran, sebab para ulama banyak mengemukakan pendapat tentang hal ini. Syaikh Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi, ulama Mesir pernah berkata: ada dua macam kalam (kalimat sempurna) dalam bahasa Arab. Pertama; Kalam yang mengabarkan kondisi atau suasana yang ada.
Kedua Kalam yang bermaksud ingin menciptakan kondisi dan suasana. Kalam seperti ini bisa ditemukan dalam Quran. Seperti firman Allah QS. Ali-Imran: 97: Barang siapa yang memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Ayat itu kalau dipahami, bahwa Allah sedang mengabarkan kondisi dan suasana kota Mekah sesuai kenyataan yang ada, maka tentu tidak akan terjadi hal-hal yang bertolak belakang dengan kondisi itu. Akan tetapi, kalau ayat itu dipahami, sebagai bentuk pengkondisian suasana, maka Allah sesungguhnya tengah menyuruh manusia, untuk menciptakan kondisi aman di kota Mekah. Kalaupun kenyataan banyak terjadi, bahwa kota Mekah kadang tidak aman, maka hal itu artinya, manusia tidak mengejewantahkan perintah Allah.
Pemahaman yang sama juga bisa ditelaah pada ayat ini; Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS. An-Nur: 26). Pada kenyataan yang terjadi, ternyata, ada laki-laki yang baik mendapat istri yang keji, begitu pula sebaliknya. Maka memahami ayat tersebut sebagai sebuah perintah, untuk menciptakan kondisi yang baik-baik untuk yang baik-baik, adalah sebuah keharusan. Kalau tidak, maka kondisi terbalik malah yang akan terjadi.
Kalau kita bandingkan dengan Annur ayat 3 yang mana kalimat digunakan untuk umum
“laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik” (QS. An Nur ayat 3)
Di ayat ini lebih tegas mengandung “unsur perintah” untuk mencari pasangan yang sepadan. Sehingga ayat 26 bisa dimengerti sebagai sebuah motivasi atau anjuran untuk mengondisikan dan bukan sebagai ketetapan bahwa yang baik “otomatis” akan mendapatkan pasangan yang baik. Hal ini tentu memerlukan usaha untuk memperbaiki diri lebih baik.
Ayat tersebut bukanlah merupakan janji Allah kepada manusia yang baik akan ditakdirkan dengan pasangan yang baik. Sebaliknya ayat tersebut merupakan peringatan agar umat Islam memilih manusia yang baik untuk dijadikan pasangan hidup. Oleh karena itu nabi bersabda tentang anjuran memilih pasangan yaitu lazimnya dengan 4 pertimbangan, dan terserah yang mana saja, namun yang agamanya baik tentu sangat dianjurkan.
Wallahua’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19371/benarkah-pasangan-yang-baik-hanya-untuk-yang-baik/#ixzz1pA93O6ax

Selasa, 13 Maret 2012

Terima Kasih Ibu

Terima Kasih Ibu

12/1/2011 | 06 Safar 1432 H | Hits: 3.680
Oleh: handayani
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com – Sebut saja dia Zahra. Anak paling besar di rumah meski bukan anak pertama, karena kedua kakaknya telah mengikuti suaminya. Selama ini dia menjadi tulang punggung keluarganya. Bukan karena ayahnya telah meninggal atau sakit, tetapi karena Allah SWT telah mengalirkan rezkinya lewat anak perempuannya. Meski terkadang sesekali mendapat rezki lebih, ayah Zahra pun tetap berbagi dengan keluarganya. Entah untuk bayar listrik yang kadang sampai nunggak 2 bulan, atau nombokin uang belanja yang diberikan Zahra ke Bundanya. Setiap harinya Zahra yang mencukupi kehidupan keluarga baik urusan perut maupun pendidikan adik-adiknya. Terkadang juga membantu adik perempuannya yang telah menikah dan tinggal serumah dengan membeli susu anaknya, atau sekadar minyak telon dan minyak kayu putih untuk menghangatkan keponakannya. Sepertinya Zahra sudah ikhlas. Namun ikhlasnya Zahra tidak dibahas di sini. Itu urusan kanjeng Gusti dengan Zahra.
Suatu ketika Putri, adik Zahra paling kecil kelas 6 SD yang mau ulang tahun berceloteh.
“Mbak besok kalau aku ulang tahun aku minta uang ya..”, kata Putri.
“Berapa?” jawab Zahra.
“Lima puluh ribu aja. Aku mau njajakin temenku kok..”
“Insya Allah ya kalau mbak ada rezki tambahan lagi..”
“Insya Allah nya 100% ya..”
“Insya Allah”, jawab Zahra lagi.
“Halah minta sama mbak Zahra nek untuk yang kayak gini ki mesti ga dikasih. Mending mbak Mi. Kalau aku ulang tahun minta sepatu dibeliin. Lha kamu mbak..ga sayang sama aku..”
Zahra hanya tersenyum. Ibu yang di sebelah Zahra langsung memberi alasan membela Zahra.
“Tri.. Tri.. kamu koq ga bersyukur tho punya mbak Zahra. Setiap hari yang ngasih uang belanja ibu siapa? Buat makan kamu tuch sampai pipimu gembul.. yang nyanguni kamu itu siapa? Yang mbayar SPP mu itu siapa? Ya wajar nek uangnya mbakmu habis ga bisa ngasih uang buat njajakin temen-temenmu. Setiap hari tuch.. dihitung. Lha mbak Min cuman kalau kamu ulang tahun sama nek lebaran tok ngasihnya. Bersyukur kamu Tri besyukur.. nanti nek mbakmu dapat tambahan rezki kan kamu juga dikasih.”
“Ya.. ya” jawab Putri sambil mrengut.
Selepas itu Zahra menatap lekat-lekat adik bungsunya. Dalam hati Zahra berkata, Gusti.. Gusti.. paring ngono rezki ingkang halal, kathah lan barokah. Ikhlas itu seperti apa tho Gusti.
Selepas memandang lekat adiknya, Zahra menatap ibunya. Bu.. Bu engkau sepertinya tahu apa yang aku rasakan. Memandangmu sudah membuatku bersyukur telah engkau besarkan. Sudah berapa rupiah yang engkau keluarkan. Sudah berapa kasih yang telah engkau berikan. tapi kau tak minta dikembalikan. Lha aku, baru ngasih sak imprit saja sudah tak karuan rasanya. Bu..Bu.. maafkan aku yang belum bisa memberi terbaik untukmu. Hanya doa tulusku untukmu. Terima kasih ibu.
Zahra hanya bisa menelan ludah lalu tersenyum. Itu adalah salah satu cara menekan perasaannya. Lalu ia berdoa, ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO
“Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil.” Aamiin.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/01/10662/terima-kasih-ibu/#ixzz1p0PapsDm

Ayo Jujur!!!

Ayo Jujur!!!

12/3/2012 | 19 Rabbi al-Thanni 1433 H Please wait
Oleh: Ferawati
Kirim Print
Ilustrasi (ahmedfikreatif.wordpress.com)
dakwatuna.com – Prihatin, kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan negeri kita sekarang.  Berbagai krisis telah melanda, krisis ekonomi, krisis identitas, krisis moral dan sekarang krisis kejujuran. Harga sebuah kejujuran sangatlah mahal di negeri ini, sepertinya hanya mereka yang berduit saja yang mampu untuk membelinya. Fakir miskin dan rakyat jelata sudah tentu tidak akan mampu membelinya.
Banyak contoh yang bisa dilihat dan mungkin dialami oleh sebagian masyarakat kita. Korupsi merajalela, suap-menyuap adalah populer, hukum bisa di beli, kesaksian palsu dipersilakan, membela pihak yang salah yes, janji-janji palsu didukung, mengambil hak orang lain monggo, berkhianat silakan dan masih banyak lagi yang lainnya. Entah siapa yang salah dan harus disalahkan dalam masalah ini.
Krisis kejujuran sudah menjangkiti semua lini masyarakat kita. Anggota dewan, penegak hukum, pegawai negeri sipil, sampai pada pedagang kecil dan tukang becak yang frustasi dan akhirnya mengikuti jejak para pemimpinnya, yaitu berlaku curang. Seperti sebuah tren, semua masyarakat dengan berbagai alasannya berlomba-lomba berbuat curang. Rasanya seperti “kalau jujur itu sama dengan tidak gaul”, sehingga mereka berbuat sebaliknya agar terlihat dan diakui “gaul”.
Apa yang bisa dibanggakan dari pengakuan sesama manusia. Pengakuan itu tidak akan memberikan ketenangan lahir maupun batin, menambah pahala atau memberikan kita tiket ke surga dengan cuma-cuma. Justru sebaliknya, beban sosial dan judge dari masyarakat akan kita dapatkan setelah semua kecurangan itu terbongkar. Beda halnya jika kita mendapatkan pengakuan itu dari Allah SWT, bisa dipastikan bahwa ketenangan, keselamatan, pahala dan tiket ke surga sudah di tangan.
Jujur adalah keselarasan antara yang terucap dengan kenyataannya. Apa yang diucapkan memang dan apa yang diperbuat itulah yang sesungguhnya diinginkan untuk diperbuat. Jujur merupakan dasar akhlaq mulia, merupakan tanda sempurnanya keislaman, timbangan keimanan dan tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Oleh karena itu setan selalu dengan siaga setiap saat akan berusaha menggelincirkan siapa saja yang akan berlaku jujur.
Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari perbuatan jujur, di antaranya: Mendapatkan kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat, mendatangkan berkah, disenangi orang lain, kejujurannya akan menyelamatkan si pelakunya, pengakuan dari Allah sebagai orang yang jujur dan pastinya surga dengan segala kemanisan dan kenikmatannya. Dalam kehidupan ini Allah telah menyuruh dan menjanjikan sesuatu kepada hambanya yang berlaku jujur dan janji Allah itu pasti adanya.
Allah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung. (QS. Al Maidah: 119)
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya). (QS. Al-Ahzab: 23)
Hai orang2 yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah bersama-sama orang yang jujur (At Taubah: 119)
Demikian juga dengan nabi Muhammad yang senantiasa mendorong umatnya berbuat jujur,
Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan dan kebajikan itu membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya di tulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta (Bukhari dan Muslim)
Saya berwasiat kepadamu supaya bertaqwa kepada Allah, jujur dalam bicara, melaksanakan (menjaga) amanah, menepati janji, memberi salam, dan merendahkan diri (Ihya’ Ulumuddin).
Dari semua ayat di atas, sudah sangat jelas perintah dan balasan bagi orang yang jujur. Jadi, tunggu apa lagi mari kita berlaku jujur dengan rumus 3M (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari sekarang dan Mulai dari yang terkecil). Ayo JUJUR.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19309/ayo-jujur/#ixzz1p0I8PkW2