Assalamualaykum

Jumat, 09 Mei 2014

Menikah, Mimpi Indah Sampai ke Langit


Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com – Akhirnya aku menikah. Bahagia sekali dalam proses ijab kabul berjalan dengan lancar. Keluarga besarku hadir, tetangga dan teman-teman dekatku ikut memberikan doa restunya. Namun aku tak mengenal siapakah lelaki ini yang lancar sekali dalam ijab kabul. Dia, tak jelas wajahnya, yang menjadi suamiku setelah prosesi ijab kabul ini. Siapa dia? Aku tak tau namanya, tak terlihat wajahnya, aku hanya bisa melihat dari belakang saja, kami tak disandingkan dalam prosesi ini. Aku duduk bersama Ibuku di belakang lelaki ini. Siapakah dia? Mungkinkah ini nyata. Semoga benar. Tapi, siapakah dia?
Aku terbangun dari tidur dan mimpi itu, suara adzan Subuh dari mushola terdekatlah yang membangunkanku dalam tidur lelap tadi malam. Itu hanya mimpi saja. Aku bingung dan bertanya siapakah lelaki itu. Selesai Subuh, kubuka HP. Ada SMS yang tiba tadi malam, baru kubaca, dari tim redaksi tempatku bekerja, SMS dari Mbak Lestari dalam bahasa santun yang aku kenali sekali.
“Dewi, cepat  mana tulisanmu, deadline nih,” aku tak ingat lagi deadline yang mana. Sesuai permintaan Mbak Lestari, kubuka-buka buku kecil batikku. Hmm… ini berat sekali, aku sudah hubungi Ustadz Abdullah Zakaria untuk secara rutin mengirim kolom Hikmah pada majalah kami, rupanya pekan ini beliau belum mengirim tulisannya.  Aku bingung di pagi hari selesai Subuh ini, dibuat sibuk dengan kejadian tersebut. Kutelpon Ustadz Abdullah tak diangkat. Ini bukan waktunya pas untuk menelpon. Mungkin beliau masih beraktivitas di masjid mengisi kuliah Subuh.
Aku SMS saja beliau, pikirku. “Ustad Abdullah, mohon tulisan kolom Hikmahnya di kirim via email seperti biasa, jika tidak bisa mohon kontak saya. Terimakasih. Dewi.”
Ahh pagi ini begitu dikejar banyak deadline, membeli tiket pesawat karena Ibu mau pergi ke Medan menjenguk kakaknya yang sedang sakit, mengerjakan tiga makalah tugas kuliah S2-ku, novelku yang ketiga dengan tema religi yang sudah ditunggu penerbit bulan ini harus sudah terkirim, ohhh… kepala ini terasa mau pecah! Aku harus tarik nafas, aku harus tenangkan diri dahulu. Jalan kaki di Subuh hari pas tuk menenangkan ketegangan. Sehabis itu pastilah kumemulai tilawah Al-Quran satu juz.
Aku keluar dari komplek kos-kosanku, menikmati sesegar udara, angin terhembus menyentuh kulit dan rambutku. Angin sepoi ini menerbangkan beberapa helai rambut panjangku. Sudah saatnya jilbab kukenakan di masa muda, masa sekarang. Aku ingin sekali. Aku ingin. Panggilan hati sudah sangat terasa. Kebenaran itu pasti. Hati kecilku selalu iri melihat wajah wanita muslimah menggunakan jilbab dengan rapinya.
Klakson motor mengganggu ketenanganku. Suara itu dari belakang, ahh.. Rohmat teman baruku ini selalu saja begitu. Mentang-mentang motor baru dan seragam pegawai pabrik botol saos itu selalu ia kenakan. “Dew, kemana, olahraga dengan sandal jepit, jika tak serius duduk saja di teras sana… hehehe…” guyonan Rohmat seperti bisa itu sudah kuhapal sekali. “Saya pergi dulu yaa Dew, assalamualaikum,” Rohmat pergi dan sampai hilang dari penglihatan.
Yang satu ini aneh, selalu begitu. Dia hanya say hello. Sudah lama sekali kami tak ngobrol panjang lebar kesana kemari. Ah, biarkan Rohmat pergi, iklan berjalan. Ingat kejadian tadi barulah aku bisa tertawa lepas. Sandal jepit.
Sudah jauh aku melangkah pagi ini di komplek perumahan Intan, sejauh ini aku baru menemukan suara kicauan burung. Burung dalam sangkar itu bisa menunjukan dirinya dengan suara-suara merdu. Hmm, apakah para burung bisa bicara? Kira-kira mereka akan bicara tentang apa? Bebas lepas merdeka di hutan lindung aman dari polusi, serta dari gangguan tangan manusia.
Aku terus berjalan sehat. Aku harus menikmati hari-hari yang terus berganti ini. Hargailah nikmat sehat dengan berjalan kaki. Cukup dengan waktu 30 menit saja, semoga bisa.
***
“Baik ustad, kami tunggu emailnya sampai sore, malam akan kami edit dan naik cetak majalahnya,” jawaban SMS-ku pada Ustad Abdulah. Aku maklumi kesibukan beliau. Semoga sore hari bisa ada kabar baik.
Tiga makalah kuselesaikan perlahan-lahan, tiket pesawat sudah kupesan via rekan kantor yang biasa urus tiket pesawat.
“Dew, sudah pukul 13.00 nih, jangan lupa dikirim,” ahh Mbak Lestari ini, “Belom Mbak, sore hari Ustad Abdulah baru bisa kirim, nanti aku kabari lagi. Beres lah. Okee?” balasku di SMS.
Ringtone HP berbunyi… “Dewi, bagaimana tiket Ibu sudah kamu pesan? Bibimu sudah dipindahkan ke kamar khusus di Rumah Sakit Islam, Ibu harus pasti berangkat besok.”
“Oke bu, tiket satu jam lagi, Deni temanku akan mengantar tiketnya ke rumah,” balasku.
“Dew, mana powerpoint-nya? Lusa kamu harus sudah siap mengisi materi seminar menulis fiksi di komunitas baca Indonesia. Panitia menanyakannya malah ke aku. Kamu langsung kirim ke Riza ya. Dia seksi acaranya. Ditunggu cepat jangan pake lama,” kata-kata di SMS. Wow ampun dah makin banyak yang harus kukerjakan.
Ditambah lagi SMS dari pak Budiman, “Dewi, kerangka pidato Direktur Utama sudah dibuatkan dalam menyambut hari Pers Nasional, akan dimuat di halaman khusus majalah kita,”  bebanku nambah lagi.
Piring kotor masih numpuk di belakang, pakaian numpuk belum disetrika… makin numpuk nih! Malang hidup sebagai anak kost. Sampai kapan ini bisa berhenti, aku letih merintih sampai tertatih. Aku letih dengan banyak rutinitas deadline, aku mau lepas saja. Merdeka saja! Aahhh geram sekali!
Kulihat HP ada SMS, kubaca, “Maaf Mbak Dewi, saya tidak bisa mengirim tulisan tuk pekan ini, karena belum rampung, pada saat yang bersamaan saya harus segera ke Ponorogo, guru saya sedang sakit. Maaf ya mbak. Terima kasih,” SMS Ustad Abdullah.
Di saat yang sama ada SMS dari Rohmat, “Dewi, saya sudah kirim tulisan ke emailmu. Saya sudah sepekan ini membuat tulisan dengan tema Persatuan Umat Islam, sebenarnya saya masih belajar. Mohon masukannya ya!”
Dilihat dari gaya tutur bahasa tulisan Rohmat bisa sangat pas dimasukan dalam kolom Hikmah. Tak disangka pegawai pabrik saos ini, punya kelebihan. Kubalas SMS-nya, “Oke bagus tulisannya, aku masukan ke majalahku ya, klo sudah terbit kuberikan majalahnya padamu. Tolong kirim CV-mu ke aku.”
Maa syaa Allah, CV-nya membuatku kagum. Rohmat semuda itu sudah menjadi ketua DKM Masjid Hidayah. Dia ustadz pula, sering mengisi majelis taklim Ibu-Ibu, juga  sering ikut seminar kepenulisan. Beberapa pernah menulis untuk media koran lokal. Akan kujuluki dia Ustadz Rohmat Maulana di kolom hikmah. Bagus sekali ada variasi nama penulis kolom ini.
Kenapa hatiku deg-degan ya membaca CV Rohmat ini? Dari wajah dia tak jelek-jelek amat tapi dia terlihat shalih sekali. Inginnya… ohh… sudah hampir berumurkah aku, ingin sekali sudah memiliki imam dalam hidupku yang selalu sendiri ini. Memiliki imam di tahun 2014 ini.
***
Ibu kosku memberikan bungkusan kiriman, tampaknya kiriman dari Rohmat. Kubuka bungkusan dengan perlahan, ada dua buah jilbab putih, satu surat yang siap kubaca. Isinya kurang lebih ucapan terima kasih tulisannya sudah dimuat di majalah tersebut dan mendapatkan honor pula. Kado ini hanya ucapan terimakasih dan dia meminta agar saya menggunakan Jilbab yang rapi. Dan bertanya apakah saya sudah memiliki calon suami.
Hatiku bergetar dibuatnya. Tak disangka ada lelaki yang bertanya seperti ini, pertanyaan serius. Di awal tahun 2014 ini, wow! Hatiku melayang tak menentu. Ada secercah harapan dalam tulisan surat ini. Apakah dia ya Rabb, imamku di masa nanti? Selama penantiaan yang lama ini, umurku hampir mendekati 30 tahun. Sudah sewajarnya di umurku ini aku telah menikah dan memiliki anak seperti teman-temanku. Apakah ini jawaban dari Allah SWT atas doa-doaku dalam shalat malamku dan shalat hajat dalam hari-hariku, atau doa dari orangtuaku.
Dua jilbab putih ini, hmm… aku tak bisa membayangkanya jika terpakai, kucoba di cermin, rasanya diriku tampak cantik tampak nyaman hati ini. Rasanya sudah waktunya aku menggunakan jilbab ini, memang sudah waktunya. Tak bisa ditunda-tunda. Sudah banyak artikel Islam dan kolom hikmah yang aku baca sebelum diterbitkan di majalah. Aku editor dalam tim redaksi. Aku yakin ini pertanda jilbab sudah harus kukenakan, karena ini hukumnya wajib bagi muslimah.
Nada musik klasik ringtone-ku berbunyi. Ustadz Rohmat menelponku bertanya apakah kiriman itu sudah tiba dan dibuka. Ustadz Rohmat meminta aku jika berkenan mengenakan jilbab yang rapi dan datang ke rumah Ustadzah Herlina esok lusa.  Aku jawab insya Allah.
***
Pagi ini rasanya lain. Kukenakan jilbab putih dan pakaian bernada coklat muda. Kusiapkan diri datang ke rumah Ustadzah Herlina. Rasa penasaran itu makin tak menentu. Jantungku mulai berdegup-degup kencang. Semoga tak grogi, semoga saja, aku terus berdoa. Apakah ini proses ta’aruf itu? Dalam benakku aku terus bertanya-tanya. Apakah Ustad Rohmat mau ta’aruf denganku lalu melamarku? Ahhh… apakah sejauh itu apakah seserius itu?
Ustad Rohmat, Ustadzah Herlina serta suaminya dan aku dengan rasa gugup ini sudah berada di ruang tamu. Tersaji teh madu hangat dan cemilan kue-kue kering. Aku masih gugup. Mereka bertiga sesekali melihatku sepertinya mereka takjub atas perubahanku terkait pakaian yang kugunakan. Ustadzah Herlina memulai pembicaraan dalam keheningan ruangan itu.
“Saya ucapkan terimakasih Dewi sudah bisa datang dalam undangan ini. Subhanallah ya dengan Dewi gunakan jilbab jadi terlihat lebih anggun, lebih bersinar wajahnya,” aku tersipu-sipu atas pujian itu.
“Langsung saja ke intinya ya. Ustadz Rohmat ini dua minggu lagi akan menikah dengan Mbak Tias, mungkin Ustadz Rohmat hari ini akan memberikan undangan pernikahannya ke kamu, hadir yaa!“
Mendengar kabar itu, rasanya badan ini lemas. Harapanku mulai hancur lebur berkeping-keping jadi debu. Seperti jatuh dari ketinggian gedung berlantai 30, remuk. Ini salahku, mengapa kubiarkan perasaan dan harapan-harapan berhembus dalam pikiranku. Ahh.. belum rejeki menikah di tahun ini. Harapan tinggal harapan… kuterima surat undangan itu. Tanganku tak kuat menerimanya. Senyumku kupaksa keluar kuterima dengan berat hati. Hatiku terus bicara, begitu senangnya Tias mendapatkan suami seperti Ustad Rohmat. Beruntung sekali dia.
Mataku terus tak percaya melihat undangan pernikahan putih ini. Aku tak percaya. Lalu hadiah jilbab itu untuk apa? Apa pesan yang akan disampaikan Ustad Rohmat? Hanya inikah, hurat undangan pernikahanya? Pertanyaan berkelebat dalam benakku.
“Dew, ada hal yang penting juga yang akan disampaikan Ustadz Rohmat ke kamu selain berita undangan pernikahannya. Silahkan Ustadz disampaikan, semoga sukses rencana baik ustadz,”  Ustadzah Herlina memecah keheningan lagi.
“Begini Dewi, terima kasih kamu sudah menyediakan waktu untuk datang ke sini. Saya dapat amanah dari Ibu saya untuk mencari wanita solehah yang baik sejak dua bulan yang lalu, tapi saya belum menemukannya, namun saya melihat dan bertanya pada Ustadzah Herlina, berdiskusi tentang kamu, apakah bisa dijadikan calon Istri.”
“Calon Istri? “ aku memotong.
Kenapa aku, kenapa calon istri, apakah aku solehah, untuk siapa calon istri yang dimaksud? Benakku banyak bertanya.
“Ya calon istri buat adikku, Andriansyah, dua bulan lagi dia selesaikan kuliah S2-nya di Universitas Islam Internasional Islamabad, Pakistan. Bidang sejarah. Dia juga pandai dalam menulis, banyak tulisan artikelnya sudah terpublikasi. Ibuku meminta dia agar segera menikah juga di tahun ini dengan orang Indonesia. Ibu mengkuatirkan jangan sampai dia suka dengan muslimah Timur Tengah. Ibuku nekat banget dengan ilmu ‘pokoke’ si Andriansyah harus menikah dengan orang Indonesia. Syukur-syukur dapat orang Jawa. Semoga kamu bersedia untuk kami jodohkan dengan adikku ini. Ini foto dan CV-nya. Bisa kamu pelajari dan istikharah, dan tambahan info dia juga seorang ustadz muda sering diminta untuk ceramah, karena memiliki latarbelakang pesantren di Gontor Jawa Timur.”
“Dew, ini bukan paksaan lho, kita cuma berusaha saja, siapa tau kalian berjodoh. Namanya juga ikhtiar ya,“ Ustadzah Herlina senyum-senyum menggodaku.
***
Tanpa diduga, aku akhirnya menikah dengan Andriansyah. Inilah jodoh. Inilah takdir. Datangnya tak terduga, tak terkira. Alhamdulillah shalat malamku terus kujalani dan shalat hajatku serta shalat sunah-sunah tetap kujalani. Aku selalu kubersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmatnya. Suamiku orang yang shalih, perhatian sekali, baik sekali, dia membimbingku, hobi kami sama di bidang tulis menulis dan mengajar di seminar-seminar. Kami bersatu padu dalam mimpi-mimpi kami, dalam jalan dakwah. Ini barulah mimpi, yang kunamakan mimpi indah sampai ke langit.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/02/14/46250/menikah-mimpi-indah-sampai-ke-langit/#ixzz31Cqmn3On
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Kutemui dan Kunikahi Engkau di Masjid (Masjid, ich bin verliebt)


menikahdakwatuna.com – Siang itu, cuaca tidak terlalu baik. Musim dingin di Berlin mencapai -0,5̊ C. Jalanan kota tampak lengang. Bisa ditebak, separuh penduduk kota ini sedang berada di depan perapian masing-masing, menghangatkan diri. Aku tiba di Masjid Umar bin Khaththab jam dua belas. Masih ada waktu kosong dua jam sebelum jadwal mengajar al-Quran di Masjid ini. Untung saja, masjid ini memiliki restoran di tingkat atas sehingga aku tidak perlu keluar lagi untuk mencari makan siang.
Masjid yang diresmikan pada 21 Mei 2010 ini terdiri dari tujuh lantai. Dua lantai untuk tempat sholat dengan daya tampung seribu jamaah. Di setiap lantainya, terdapat fasilitas umum seperti kantor jasa perjalanan, sekolah al-Quran dan Bahasa Arab bagi anak-anak, toko buku, cafe, restoran, jasa pelayanan kematian bagi umat muslim, hingga toko daging halal pun ada.
Aku memesan Kohlsuppe (sup kol) dan Erbsensuppe (sup kacang polong) dan teh hangat.
“Assalamu’alaikum, Mas Faris,”
“Wa’alaikum salam. Hafiz? Lama tidak bertemu. Kamu di Jerman juga? Kamu dari mana?”
“Dari toko buku, Mas. Senang sekali bisa bertemu dengan Mas Faris di sini. Bertemu dengan saudara setanah air itu ibarat bertemu telaga surga. Sejuk.” Ia nampak sangat sumringah.
“Sudah lama di Jerman, Fiz? Study di sini?”
“Lah, mas ini tinggal di Jerman kok bahasanya Inggris? Ia Mas, baru tahun kedua. Kedokteran. Do’a kan ya, biar lancar.”
“Udah tahun kedua kok ketemunya baru sekarang ya?”
“Kalau itu, jawabannya bisa ada beberapa kemungkinan, Mas. Kalau ndak saya atau mas yang sibuk, berarti memang baru ini takdirnya untuk ketemu. Hehehe..”
“Kamu kenapa nggak ngabarin, Mas? O ya, kamu sudah pesan makanan? Ayo pesan, biar mas yang traktir. Biasanya kan kantong anak kuliahan terbatas bulanan.” Candaku.
“Ah, sampean ini mas. Pengertiannya menusuk hati sekali. Hehe..”
Benar yang Hafiz katakan, bertemu saudara sendiri seperti menemui telaga surga. Sejuk. Dinginnya cuaca pun berganti hangat tawa. Hafiz, adik sepupuku dari Malang ini bercerita banyak tentang pengalaman tahun pertamanya di kampus dan tinggal di Jerman. Setelah shalat zhuhur, aku pun mengajak Hafiz turut serta bersamaku mengajar anak-anak mengaji al-Qur’an. Dua jam berlalu. Setelah shalat ashar berjamaah, murid-muridku pun pamit pulang. Aku senang dengan semangat mereka belajar mengaji. Meskipun cuaca dingin, mereka tetap hadir untuk mempelajari kalam al-Qur’an. Aku pun berjanji mengajak mereka liburan setelah musim dingin berlalu, sebagai reward atas semangat mereka.
“Kalau begitu, saya pamit pulang ke asrama ya, Mas.”
“Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sama mas. Mas kan tinggal sendiri di sini.”
“Makanya, Mas Faris harus menikah biar tidak tinggal sendiri lagi. Sudah 25 tahun, kan? Ganteng, soleh, mapan pula. Tunggu apa lagi?”
“Tunggu jodohnya, hehe..”
***
Turun ke lantai satu ruang sholat, aku dan Hafiz berpapasan dengan Sarah yang tengah memeluk seorang wanita. Wanita itu menangis sesengkuan di bahunya.
“Ru..qaya?” Panggil Hafiz sedikit ragu. Wanita yang berada dalam pelukan Sarah berpaling melihat ke arah Hafiz.
“Kenapa kamu menangis?”
Wanita yang bernama Ruqaya itu menghapus air mata dengan jemarinya. Ia tersenyum ke arah Hafiz dan aku, “Insya Allah, Alles Gute.”
“Katakanlah, bukankah kita teman?”
Sarah mengajak kami untuk berbincang di kafe. Di sana Ruqaya menceritakan sebab tangisannya kepadaku dan Hafiz. Ruqaya yang bernama asli Natalia Anne Muller, berasal dari keluarga nasrani yang taat. Setengah tahun yang lalu, ia menjadi mualaf di Masjid Umar Bin Khaththab karena tersentuh oleh bacaan al-Qur’an seorang pemuda yang ia dengar. Padahal saat itu, ia datang ke Masjid Umar hanya untuk melihat interior dan kemegahan masjid baru ini.
Setelah itu, ia pun kerap datang ke masjid ini. Disitulah ia berjumpa dengan Sarah. Karena sering mengobrol dan bertanya ini itu tentang Islam, mereka pun akhirnya menjadi teman akrab. Sarah yang tiga tahun lebih tua dari Ruqaya, sudah menganggap Ruqaya seperti adiknya sendiri. Lima bulan perjalanannya sebagai mualaf, Ruqaya sudah hafal Juz ‘Amma. Ia dibantu Ustadzah Yasmin, salah satu staf konsultasi masjid Umar. Namun di tengah proses  belajarnya sebagai muslim, sebulan yang lalu rahasia kemuslimannya pun diketahui oleh keluarganya.
Ketika itu, Ruqaya sedang shalat Maghrib di kamarnya. Di tengah sholat, ayahnya memanggil dan mengetuk pintu kamar. Karena Ruqaya tidak menjawab, ayahnya pun membuka pintu kamarnya.
“Natalia!” Teriak ayahnya, murka. Namun Ruqaya tak menjawab, ia tetap tenang dalam tasyahud akhirnya. Ia tak merespon teriakan ayahnya sampai shalatnya selesai.
“Sudah kuduga, ada yang lain dari dirimu. Mengapa tadi kau tak ikut makan siang bersama. Beberapa minggu yang lalu, temanku juga menelepon mengatakan bahwa ia melihatmu memasuki masjid. Aku pikir, ia hanya salah orang. Tetapi sekarang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri! Kamu akan mendapatkan hukuman atas ini, Nat! Ayo ikut Ayah!”
“Ayah, setiap orang bebas memeluk agama yang ia yakini kebenarannya.”
“Mungkin untuk orang lain bisa, tapi kau anakku! Aku yang mengatur hidupmu!”
Saat itu juga, ayahnya memukuli, menarik paksa dan menyeret Ruqaya ke gudang. Ia dibiarkan tinggal di sana. Bahkan, tak ada yang memberinya makan malam. Keadaannya cukup lemas karena saat berbuka puasa sunah tadi, ia hanya meminum seteguk teh. Di hari ketiga, ibunya diam-diam memberinya selimut, beberapa potong roti dan segelas susu. Ia tidak tega melihat Ruqaya tidur di lantai tanpa beralas apapun di musim dingin ini. Ruqaya merasa lega, karena ibunya tidak membenci dirinya atas pilihan hidup yang ia ambil.
“Bila menurutmu ini yang terbaik untuk kau jalani, maka laluilah dengan keimananmu, Nak. Semoga Tuhan menjagamu.”
Hari berikutnya, ayahnya memperlakukan Ruqaya seperti budak. Ia disuruh kerja ini itu, tanpa memberinya waktu istirahat dan makan yang cukup. Melihat keadaan Ruqaya yang semakin mengenaskan, tadi malam ibunya menyuruh Ruqaya untuk pergi dari rumah. Ia tidak ingin Ruqaya diperlakukan terus-terusan seperti itu. Kalau Ayahnya nekat, sewaktu–waktu, bisa saja ia menjual Ruqaya. Aku dan Hafiz terdiam mendengar penuturannya. Aku memandang Ruqaya sekilas, ada memar di pelipisnya. Hafiz, tiba-tiba menarikku sedikit menjauh dari Sarah dan Ruqaya.
“Ada apa, Fiz?”
“Mas, saya pikir kamu sudah menemukan jodohmu,”
“Maksudmu Ruqaya?”
“Mas, saya berani menjamin bahwa ia wanita yang baik, bahkan jauh sebelum ia menjadi mualaf. Apalagi setelah sedemikian beratnya cobaan yang dia hadapi demi hijrahnya.”
Aku tersenyum, “Tidak usah khawatir, sebelum kamu minta, tadi juga sudah terlintas dipikiran Mas. Bagaimanapun juga, menyelamatkan jiwa seorang muslim itu wajib.”
Alhamdulillah, saya memang tidak salah mengagumi orang.”
Aku dan Hafiz kembali ke meja kami. Dengan Bismillah kuutarakan niatku, “Saya tidak tahu, apakah yang saya sampaikan ini cukup membantu atau tidak, tetapi bila diizinkan, saya bermaksud menawarkan diri saya untuk menikahimu, Ruqaya.”
Sarah tampak kaget, namun sedetik kemudian tersenyum, Hafiz tampak bersemangat sekali, dan Ruqaya malah menangis memeluk Sarah? Apa ia tidak suka?
“Kalau kamu tidak setuju juga tidak apa-apa, tapi kumohon jangan menangis.” Ucapku merasa bersalah.
“Ia terharu. Ini tangis bahagia, bukan bersedih Faris.” Jelas Sarah. Aku hanya ber ‘O’ saja, sementara Hafiz menertawaiku. Alhamdulillah.
Saat itu juga, aku mengabari staf Masjid Umar bin Khaththab untuk proses akad besok. Ruqaya ingin menikah di masjid ini. Karena aku juga mengajar di masjid ini, jadi banyak pihak yang turut membantu dengan suka rela pernikahan kami.
***
“Wah, cakep sekali sampean, Mas. Makin keluar nih aura kebahagiaan calon pengantin.” Goda Hafiz saat melihatku keluar kamar dengan pakaian pengantin.
“Dari dulu mas memang sudah cakep. Hehehe..” Karena kejadian semalam, Hafiz tidak jadi pulang ke asrama. Ia menginap di rumahku untuk membantu proses acara hari ini. Ruqaya sendiri menginap di apartemen Sarah. Jam sembilan kami tiba di masjid dan langsung proses akad dilaksanakan.
“Saya terima nikah dan kawinnya Ruqaya binti Jhon Muller dengan mas kawin seperangkat alat sholat, sebuah mushaf al-Quran, dan uang sebesar 15.000 Euro dibayar tunai.”
“Sah? Barakallahulaka..,”
***
“Mas, kita ngaji bareng yuk?” Ajaknya setelah kita sholat subuh bersama. Aku tersenyum mendengarnya. Istriku tercinta langsung mengambil dua al-Quran yang terletak di atas meja kerjaku.
“Mas yang baca terlebih dahulu, setelah itu baru saya.”
Aku memulai dengan ta’awudz dan basmalah. Kubaca surah ar-Rahman. Hingga pada kalimat, “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?” Ruqaya menangis. Terus menangis sesengkuan.
Aku menghentikan bacaanku, “Kamu tidak apa-apa, Dinda Sayang?”
“Saya merasa bersyukur sekali dengan nikmat yang Allah berikan. Kamu tahu? Mas adalah jembatan cahaya dari cahaya yang kudapatkan.”
“Maksud Dinda?
“Kamu tahu kan saya mendapat hidayah untuk memeluk Islam karena mendengar bacaan al-Quran di Masjid Umar? Dan orang yang membaca al-Quran itu adalah kamu, Mas. Dan saya tidak menyangka karena pada akhirnya kamu juga yang menyelamatkan hidup saya dari keterasingan keluarga sendiri. Kamu memuliakan saya dengan menjadi pendamping hidupmu. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang saya dustakan? Allah sangat menyayangi saya.” Ucapnya masih dengan tangis sesengkuan.
“Allah menyayangi kita, Dinda. Mas juga sangat bersyukur memiliki istri soleha seperti Dinda yang terus giat mempelajari Islam. Menyukai semua hal tentang Islam. Begitu sami’na wa atho’na terhadap seruan Allah. Kamu yang mas pinta untuk menjadi bidadari surga mas kelak.” Aku mencium dahinya. Ia tenang, diam dalam pelukku.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/04/14/49571/kutemui-dan-kunikahi-engkau-di-masjid-masjid-ich-bin-verliebt/#ixzz31CqQR6Mg
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Kamis, 08 Mei 2014



Pesan Singkat Pagi Ini

Sama seperti hari-hari biasanya, setelah acara olahraga pagi di salah satu stasiun televisi swasta, saya berkemas menuju kantor. Masih terbayang sms semalam dari orang asing yang sebentar lagi menjadi bagian dari hidup ku, insyaALLAH…
Tak terasa peralanan ku sudah sampai alan utama kota ini. Di pinggir jalan, bus kantor sudah menunggu, sedangkan ada beberapa kawan kerja yang asyik diskusi di belakang bus sambil memegang koran terbitan setiap hari. Tak seperti biasanya aku langsung masuk ke bus dan duduk  di bangku paling belakang. Sengaja ku pilih di sana karena bisa leluasa baca koran  yang ku beli pagi ini. Dan tentu saja bisa ku baca-baca  lagi sms semalam yang dikirim oleh si dia, orang asing tersebut
“Dengan niatan yang sama, mengharap ridho Allah SWT saya juga memiliki rencana yang sama dengan Mas. Saya terima niat baik Mas untuk membangun rumah tangga”
Pesan singkat itu tak sesingkat kesannya, berulang kali aku baca pesan itu. Tak pernah bosan rasanya. Justru semakin aku baca semakin sadar begitu banyak nikmat ALLAH SWT yang tercurah pada ku. Jujur aku merasa begitu malu dengan semua nikmat itu sedang aku jarang sekali bersukur.
Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam, memikirkan semua yang telah ku lalui. Sungguh begitu singkat proses  yang ku jalani. Tak kurang dari 2 minggu sudah ku jalani. Hingga tadi malam ku sampaikan niat untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Sudah tak ada lagi alasan untuk menunda. Sudah tak ada lagi alasan untuk menghindar. Kini semua kuserahkan pada MU ya rob…..
Bimbinglah setiap proses ini…
Jagalah niat kami, luruskan karena mengharap ridho MU
Jadikan kami tergolong dalam orang-orang ahli syukur atas semua karunia MU
Mudahkanlah langkah-langkah kami…
Kekalkan ikatan di antara kami
Jadikan rumah tangga kami adalah sebagian dari rumah tangga peradaban penuh cahaya MU
Jadikan kami pengantin dunia akhirat… istiqomah di alanMU
Aamiin

Menguatkan kembali mengasah minat menulis J
Teruntuk calon permaisuri ku, adilah penyeuk mata penyeuk hati J


NIRU, 09052014

Surprise Cinta


Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com – “Waduuuh… Ternyata jadi reporter ribet juga ya?” Keluhku pada Sanjaya, juru kamera yang selalu ada di sampingku. Kemana-mana kami selalu bersama, kalau kata orang nih, kami lengket kayak prangko, hehe.
Inilah aku Alexa Lovato, muslimah yang hijrah secara kaffah1 di waktu kuliah dulu, aku anak Psikologi yang bercita-cita menjadi Psikolog Anak, tapi nyasar jadi reporter. Entahlah, mungkin takdir yang membawaku ke dunia ini, dunia yang penuh dengan tantangan. Semangat!
25 Juni 2009
Inilah hari pertamaku sebagai seorang reporter muda alias junior. Teman-temanku tidak ada yang percaya saat kubilang diterima di salah satu stasiun TV sebagai reporter. Kebanyakan mereka berkomentar soal jilbabku, apa gak gerah dengan cuaca yang amat sangat panas? Apa gak berkibar tuh jilbab kalau lagi lari-lari ngejar sumber  info atau tersangkut di pagar orang pas lagi meliput atau ditarik sama anak-anak dikirain layangan? Banyak deh komentar-komentar aneh yang menggelikan tentunya. Bagiku, semua itu adalah bunga-bunga kehidupan.
7 September 2009
Tugas pertamaku yang bikin nervous bin deg-degkan karena stasiun TV kami satu-satunya yang diperbolehkan meliput kehidupan sehari-hari salah seorang pemain sepak bola nasional. Dia lagi hot-hotnya diperbincangkan masyarakat. Dalam waktu dekat, dia akan mengikuti kejuaraan Internasional. Aku masih belum percaya dikasih tugas sepenting ini. Aku kan masih baru di dunia ini. Tapi bosku bersikeras kalau aku orang yang paling tepat untuk tugas ini. Okelah Bos kalau begitu. Aku akan berusaha memberikan yang terbaik.
Amanah pertama yang penuh tantangan. Mudah-mudahan ini bisa menjadi batu loncatan agar bisa lebih kompeten. Liputan ini pasti cukup melelahkan karena aku akan meliput kehidupan sehari-hari seorang atlet yang super sibuk dari terbit sampai terbenam matahari, dari mau tidur sampai tidur lagi,  selama seminggu. Seminggu….!
Duuuhhh…..terasa makin berat saja tugas ini.
9 September 2009
Besok  pertempuran sudah dimulai, ngisi amunisi dulu ah…. Tahajjud dengan bumbu tilawah secukupnya  kurang lebih satu juz. Mudah-mudahan tugasku ini bisa berjalan dengan lancar, aamiin.
10 September 2009
Gak nyangka reporter kelas teri sepertiku ini bisa jadi bahan obrolan teman-teman sekantorku. Bahkan reporter papan atas juga ikutan ngegosipin reporter papan pintu ini! hehe. Heran…heran.
Sebagai wanita berjilbab kain gorden (kata rekan kerjaku dalam guyonannya,hehe) satu-satunya di tempat kerjaku ini, aku hanya menanggapi dengan senyuman. Aku tidak habis pikir bakalan digosipin sama si Bos cuma gara-gara dia memberikan tugas ini.
Aku sich gak apa-apa. Santai saja. Dan memang tidak ada apa-apa. Tapi kasian dengan si Bos. Mr. Zoe, begitulah aku memanggil bosku. Di usianya yang masih cukup muda, 28 tahun, ia sudah ditinggal oleh istri tercinta. Lebih kasian lagi, Kafka, bocah yang baru berumur dua tahun itu sudah tidak bisa merasakan dekapan, lembut belaian, hangatnya ciuman dan perhatian dari ibunya. Uuhh… Jadi sedih, ingat ibu di kampung.
Baru dua bulan yang lalu si Bos ditinggal mbak Ayu, istrinya. Air matanya pun belum kering. Eh, sudah digosipin sama anak-anak, ckckck. Teganya, tega…tega….tega!
Tega banget sich ngegosipin aku ada hubungan spesial sama Bos? Sampai ada yang bilang Bos memberi tugas ini supaya bisa PDKT. Karena menurut mereka, si Bos sedang mencari ibu baru buat Kafka. Katanya sih, kriterianya tidak jauh-jauh dari mbak Ayu. Meski jilbabnya almarhumah mbak Ayu gak sepanjang jilbabku, tetapi sudah memenuhi kriteria jilbab syar’i. Nah, itu dia alasan mereka.
Pinter banget ya mereka kait-mengkaitkan kondisi orang? Jadi kesal juga nih. Biarkanlah apa kata mereka seperti kata pepatah, “Anjing menggonggong kafilah berlalu.”
11 September 2009
Tidak terasa, dua hari sudah berlalu dengan terus mengikuti kegiatan si pesepak bola. Alghi, biasa ia dipanggil. Tapi aku mulai merasa tidak nyaman. Apa mungkin gosip yang kuanggap murahan itu ternyata benar adanya? Si Bos memang menginginkan aku jadi ibu buat Kafka? Oh, Rabb… (aku kok jadi senyum-senyum begini?).
Gimana gak aku berpikiran sedemikian rupa, habis si Bos tiap hari nanyain biodataku mulu. Dari kegiatanku sehari-hari di luar kerja sampai kondisi lingkungan dan keluargaku. Tidak puas apa si Bos dengan data yang sudah ada di file kantor? Aku jadi GR ney, hehe.
Bingung jadinya, sekarang yang diliput siapa sih? Aku atau Alghi? Kok sepertinya aku yang banyak diinterview sama si Bos. Belum lagi ditambah Alghi nan sombong. Ihhh, geram! Senyum saja gak mau. Aku kan hanya berusaha seramah mungkin. Masa’ pas aku senyumin dia malah buang muka? nyebelin banget kan? Baru jadi pesepak bola nasional, gimana coba kalau dunia Internasional mengenalnya? Tidak bisa kubayangkan!
Sabar, Lex. Sabar…
13 September 2009
Eh….eh…., si Bos makin gencar saja kayaknya. Lama-lama capek juga ladenin pertanyaan si Bos. Gak tahu apa dia kalau aku ini aktivis dakwah? Kalau memang naksir aku, ya sudah, bilang saja langsung sama murobbiyahku2. Tapi si Bos mana ngerti istilah murobbi ya?
Belum lagi dengan Kafka, kayaknya si Bos berusaha keras supaya aku bisa dekat dengan anaknya itu. Masa’ Kafka dibawa ke lokasi shooting dan kalau Kafka ingin ini itu, aku yang disuruh ngurusin. Aku kan reporter yang lagi meliput seorang atlet yang sok cool bukan babby sitter Bos?!
Sebenarnya sih tidak masalah kalau aku disuruh ngurusin Kafka karena memang aku suka banget sama anak-anak seperti cita-citaku yang belum kesampaian menjadi Psikolog Anak. Tapi masalahnya, Alghi si atlet yang tidak mau senyum itu malah sering mentertawakan aku pas ngurus Kafka. Memang, aku suka dan sering berinteraksi dengan anak-anak. Tapi kalau ngurus keperluan seorang anak berusia dua tahun dari A sampai Z aku kerepotan juga. Inikan pertama kalinya bagiku. Dasar atlet tidak punya perasaan?! Aku kan malu kalau sering diketawain begitu. Lihat saja nanti kalau kamu sudah punya anak dan istrimu tidak pernah belajar ngurusin anak seperti aku sekarang ini! Kujamin deh kalian bakalan kerepotan dan gantian aku yang bakalan mentertawakan kamu. Ilmu tendang-menendang bolamu itu tidak berguna untuk urusan yang satu ini. Tenang, Lex, tenang. Don’t be angry!
15 September 2009
Hari ke lima meliput Alghi. Dan hari ke tiga si Bos bawa Kafka ke lokasi. Kayaknya aku sudah mulai sayaaaaang banget sama Kafka. Walaupun baru tiga hari bersama, kami sudah bisa dekat. Aku juga heran, tumben anak kecil seperti Kafka ini bisa cepat ditaklukinnya. Deg, jantungku berdetak, kencang, sedikit menyesakkan, apa ini pertanda?
Ini memang memperkuat dugaanku tentang si Bos. Apa iya si Bos bakal jadi teman hidupku? Jadi orang yang selalu ada di sampingku? Aku tidak menyangka bakal langsung punya anak umur dua tahun. Ini berarti doaku tiap malam untuk ditemani oleh seorang hamba Allah yang aktifis dakwah nan tangguh, seorang yang akan menuntunku untuk lebih dekat dan mencintai Rabbku tidak diijabah?3 Dan kalau si Bos, kayaknya malah aku yang harus menuntun dia untuk mengenal dakwah. Hikz….hikz.
Tapi kalau dilihat-lihat, si Bos rajin juga sholatnya. Malah pernah menjadi imam sama Alghi. Si atlet arogan itu rupanya juga sholat. Keren, keren. Kan jarang ada atlet yang menyempatkan sholat di tengah-tengah latihannya.
17 September 2009
Hari perpisahan kami dengan Alghi. Tapi sepertinya, aku belum mendapat kesan positif darinya. Bagaimana mau membuat laporan semenarik mungkin tentang Alghi? Kemarin saja, kertika aku bertanya ini itu tentang kesehariannya dan ini masuk dalam salah satu tugasku sebagai reporter, dia cuma menjawab dengan sangat-sangat singkat dan tanpa ada ekspresi. Kirain dia sudah jadi mayat hidup yang baru dikeluarin dari kulkas saking sok coolnya.
Dan yang membuat aku terkejut, pas perpisahan tadi Alghi nyamperin dan minta maaf. Aku juga diberi bonus senyuman. Meski tidak manis-manis amat, tapi lumayanlah dari pada dia nunjukin muka tanpa ekspresinya. Ih… kan serem?!
Aku jadi lega, kukira aku cuma mendapat pengalaman buruk saja selama meliput Alghi. Tapi Alhamdulillah, masih ada pengalaman bagusnya meskipun di detik-detik terakhir. Jadi, sekarang aku sudah bisa membuat laporan yang menarik tentang seorang atlet bernama Alghi.
25 November 2009
Tulilit, tulilit. Sepertinya ada sms. Uups, dari kak Mashitoh, murobbiyahku. Tumben ini kak Mashitoh nyuruh aku menemui dia dan harus sendirian.
Sendirian? Kata orang, kalau murobbi ingin jumpa mutarobbinya4 sendirian, biasanya sebentar lagi bakal ada walimahan. Duh, aku jadi gugup nich. Sepertinya feeling aku benar. Soalnya dari kemarin, si Bos makin ramah saja. Sering nyapa sambil senyum-senyum gak jelas lagi. Tapi si Bos, mana mungkin ya? Dia kan tidak mengerti apa itu murobbiyahku, tata cara mengkhitbah5 dengan syar’i, dll. Jadi siapa?
***
27 November 2009
Waduuuh, makin penasaran saja. Walaupun tadi jantungku sempat mau copot, nafasku seakan berhenti dan aku serasa melayang pas kak Mashitoh bilang kalau ada ikhwah yang mau mengkhitbahku, tapi siapa? Kak Mashitoh tidak mau memberi tau, dia hanya bilang kalau aku sudah kenal dan dia hanya ingin memastikan kalau aku sudah siap atau belum untuk melaksanakan ta’aruf6. Umurku sekarang 24 jalan 25 tahun. Aku sudah mempersiapkan mental jauh-jauh hari karena hal ini memang sudah kunanti dari usia 23 tahun. Hehe.
1 Desember 2010
Semalaman aku tidak bisa tidur, kutenangkan batin dan hatiku yang lagi kacau balau dengan menjumpai Robbku di pertiga malam.
2 Desember 2010
Assalamualaikum, Kak. Sepertinya Lexa sedikit terlambat karena jalanan macet, ‘afwan7”, kukirim via sms ke nomor handphone kak Mashitoh.
Aku memasuki rumah kak Mashitoh dengan zikir tanpa henti (kayak mau jumpa jin saja, hehe). Dan waktu kakiku menginjakkan teras kak Mashitoh, aku mendengar suara khasnya si Bos, “Ya Robb, kupasrahkan semua pada-Mu. Kalau si Bos memang jodohku, berikanlah ia hidayah untuk menjadi seorang da’i yang tangguh.” Gumamku dalam hati.
Setelah mengucapkan salam, kak Mashitoh mempersilahkan aku untuk duduk. Aku terlambat 20 menit dari perjanjian. Kulirik orang di sekitarku, kudapati si Bos sedang melihat ke arahku sambil tersenyum simpul. Mata kami bertemu, nyessssss. Rasanya aku mau pingsan. Aku juga merinding bukan karena senyumnya Mr.Zoe, horor. Tapi mungkin hormon di badanku ikutan grogi sehingga tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Tiba-tiba, Alghi si atlet arogan yang sedikit baik itu nongol dari belakang dengan muka dan kedua tangan yang basah. Sepertinya dia baru selesai mengambil air wudhu. Duuuhhh, ngapain juga itu anak ada disini?
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.
Salam si Bos menghentikan otakku yang sedang berspekulasi sendiri dengan dunianya. Panjang lebar bos bercerita tentang awal dia jumpa aku di kantor, tentang bagaimana cara dia mengetahui kepribadianku, dan cara dia ngetes aku apakah sudah pantas untuk jadi istri seorang atlet dan jadi seorang ibu yang baik. “Stop. Tiba-tiba otakku menggaris bawahi kata ‘seorang atlet’, seorang atlet?”.
Jadi ikhwah yang dimaksud kak Mashitoh bukan Mr.Zoe, tapi si atlet arogan itu. Tapi jujur, sejak pertama kali jumpa sama Alghi aku memang merasakan suatu bentuk baru dari kebahagiaan. Dan satu hal lagi, nyaman dan damai banget apalagi kalau lagi ngobrol atau lebih tepatnya wawancara sama dia. Tapi semua rasa itu sebisa mungkin kutepis, apalagi melihat dia yang seorang atlet dan yang kukira bukan seorang aktivis dakwah. Dan sekarang semua sudah jelas, si Bos ternyata teman semasa kuliahnya mas Taufik, suaminya kak Mashitoh. Dan Alghi teman semasa SMAnya si Bos. Dan liputan itu adalah sebuah kesengajaan. Skenario yang indah  tapi sedikit menyebalkan rancangan si Bos.
Dan ketiganya merupakan aktivis dakwah. Bahkan Alghi yang kuanggap oon dakwah mengisi dua kelompok halaqoh8 di sela-sela aktifitasnya sebagai atlet sepak bola. Salut deh buat calon suamiku tersayang, hehe.
9 Februari 2010
Ijab Qabul sudah diucapkan, Alghi yang sudah menjadi suamiku semenit yang lalu terus menatapku. Bukan karena aku dandan cantik, tapi karena sebelum dan sesudah ijab qabul mataku tidak mau berhenti mengeluarkan air mata kebahagiaan. Alghi suamiku yang merupakan seorang atlet adalah surprise terindah dari Allah yang kutemukan di jalan dakwah ini. Syukurku selalu dalam hati atas surprise cinta dari Allah, Robbku tercinta.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/05/02/50664/surprise-cinta/#ixzz31CIiTLsu
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook