Assalamualaykum

Kamis, 15 Maret 2012

Cambuk Motivasi, Kristal Kebaikan

Cambuk Motivasi, Kristal Kebaikan

4/8/2011 | 05 Ramadhan 1432 H | Hits: 2.431
Oleh: Shita Ismaida
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Detik terus berlalu menjelma menjadi menit, jam, hari, bulan dan tahun, terus berputar. Beragam peristiwa silih berganti menghiasi sembaran sejarah kehidupan ini, mulai dari yang semanis gula sampai yang sepahit empedu. Ada tawa dan senyum, kejayaan dan kegagalan, harapan dan ketakutan, sedih dan gelisah yang menghiasi.
Kenangan. Ya, setiap orang pasti mempunyai kenangan. Segala sesuatu yang berlalu dari sebuah perjalanan panjang pengembaraan manusia yang berupa apa saja dan dimana saja. Bila diingat-ingat kadang menciptakan tawa atau senyum, atau mungkin sedih atau kecewa. Ada kenangan yang terekam kuat dalam memori sehingga kita tidak dapat melupakannya atau peristiwa yang hanya sekedar lewat sehingga tidak berbuah kenangan.
Kenangan semenjak panggilan manja ”nak” oleh Bunda atau Ayah tercinta kemudian berubah menjadi ”kakak/abang” oleh adik sampai pada panggilan mesra ” kanda” oleh istri dan mungkin nanti ” ayah” oleh anak-anak kita. Saat panggilan ibu menyuruh pergi mengaji. Suara sang guru memberi pengajaran. Canda-tawa teman-teman saat bermain. Tegur ramah tetangga yang menyentuh kalbu. Lembaran itu bagai tertiup sepoi-sepoi angin. Tak tersadar layar otak sarat dengan puing-puing memori.
Kenangan dapat menjadi cemeti pelecut untuk dapat berbuat lebih baik dan untuk menggapai kesuksesan masa depan. Ia dapat menembus rintangan dinding beton dan kawat berduri yang berdiri kokoh.
Oleh karena itu kenanglah semua kesuksesan masa lalu kita, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Waktu kecil kita berhasil menghafal satu surat Al Quran, puasa Ramadhan satu bulan penuh, juara kelas, lulus kuliah, atau mendapatkan pekerjaan.
Sebaliknya kenangan dapat menjadi bayang-bayang kelam masa depan, menjadi tembok penghalang kesuksesan kita. Kegagalan-kegagalan masa lalu kadang membuat kita menjadi pesimistis, merasa rendah diri, atau merasa tidak mampu melakukan sesuatu, sehingga malas untuk berkarya.
Oleh karena itu putarlah memori otak – tepatnya otak tengah/sistem limbik yang di dalamnya terdapat amigdala yang merupakan bank memori otak, tempat menyimpan semua kenangan untuk mendapatkan kenangan-kenangan terbaik yang menjadi cemeti pelecut untuk kesuksesan kita dan kuburlah dalam-dalam kenangan-kenangan yang dapat menjadi tembok penghalang kesuksesan.
Dalam lingkup yang lebih luas, tak heran kita mulai SD sudah belajar sejarah. Termasuk juga kejayaan masa lalu, majapahit, sriwijaya, dan tentunya kejayaan Islam masa-masa awal kenabian. Itu semua adalah untuk membangkitkan motivasi kita untuk berbuat lebih baik, tentunya.
Maka jadilah pahlawan pembela negara atau mujahid Palestina yang meluluhlantakkan tank-tank Zionis Yahudi atau seorang dermawan yang setiap saat menyedekahkan hartanya atau apapun namanya sehingga ketiadaan kita dicari dan keberadaan kita diharapkan dan dibutuhkan. Setelah meninggal orang akan mengenang kebaikan kita dan berharap akan muncul generasi seperti kita. Lebih dari itu semua, ada sebuah gelar mulia yang dilahirkan dari sebuah kenangan yang patut dimiliki oleh semua kita. Mardhatillah. Bagaimana dengan Anda?

Markaz Pribadi
Jatipadang, 21 Mei 2011

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/08/12095/cambuk-motivasi-kristal-kebaikan/#ixzz1pAXgygfN

Potensi Insan Bernama Manusia

Potensi Insan Bernama Manusia

22/11/2011 | 25 Dhul-Hijjah 1432 H | Hits: 1.734
Oleh: Insan Konayuki
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com -Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)
Begitu luar biasanya seorang manusia yang diberikan bentuk dan potensi yang sebaik-baiknya. Lebih baik ketimbang makhluk Allah lainnya. Sudah sepatutnyalah bagi kita insan bernama manusia mensyukuri atas apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Jangan sekali-kali kita dustai dan kufuri. Karena azab Allah pedih bagi orang-orang yang tak mau bersyukur.
Generally, manusia itu memiliki 3 potensi dasar dalam dirinya dan tiap-tiap manusia memiliki akan hal itu. Dan potensi ini merupakan potensi penting bagi keberlangsungan hidupnya.
Pertama, potensi fisik. Kita akan menjadi manusia yang memiliki karya yang produktif dan mobilitas yang tinggi manakala kita mampu memanagemen potensi fisik kita dengan baik dan teratur.
Rasulullah Saw bersabda
Al mu’minuun Qowiyyun khoirun wa ahabbu illah minal mu’minin dho’ifa. Mukmin yang kuat lebih dicintai ketimbang mukmin yang lemah.”
Cobalah kita tengok qudwah kita nabi Muhammad yang hingga usia 63 tahun masih memiliki postur badan yang atletis dan bugar. Dan menurut riwayat bahwa Beliau memulai peperangan ketika usianya 53 Tahun. Tahukah sahabat? Ternyata Rasulullah memakai baju besi sebanyak 2 lapis dan tentu 1 lapis saja sudah berat. Dan perjalanan menuju medan perang pun juga tak kalah jauhnya berkilo-kilo meter. Sungguh luar biasa, itu mengindikasikan bahwa fisik Beliau sangat-sangat prima. Bagaimana dengan kita?
Inti yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah bahwa tidak selamanya fisik yang baik membawa seseorang kepada kemuliaan di hadapan Allah selayaknya Rasulullah Saw. Justru yang sering terjadi adalah banyak manusia yang memiliki badan tegap, berotot, kekar, macho, seksi, langsing, gitar Spanyol, putih dan lain-lain menjadikannya hina akan keindahan fisiknya tersebut. Adakalanya seorang wanita yang berpenampilan seolah-olah sempurna tidaklah juga identik dengan kemuliaannya. Bahkan menjadikannya hina karena kegemarannya yang sering mempertontonkan tubuhnya ke khalayak banyak tanpa rasa malu dan takut sedikitpun. Seperti bintang iklan sampo, sabun mandi, cream pelembab dan penghalus kulit dan artis-artis bermental mesum. Baginya ini adalah bentuk pengeksistensian diri. Wajar saja ketika UU Pornografi dan Pornoaksi di sahkan oleh DPR beberapa tahun yang lalu, dia adalah orang yang pertama kali kontra akan UU tersebut. Astaghfirullah.
Dan tak sedikit pula yang stress dengan fisiknya. Bagaimana tidak. Ia harus menjaga keseimbangan kecantikan tubuhnya dan harus menjalankan program-program diet sehingga selera makan terbatasi, hidup terasa sempit, dan terkesan pemaksaan dan penzhaliman diri.
Tapi, intinya adalah potensi fisik haruslah ditempatkan sesuai dengan kepentingan syar’i bukan untuk duniawi. Dan potensi fisik ternyata tidak identik dengan kemuliaan seseorang.
Kedua, Potensi akal. Akal adalah potensi yang begitu istimewa. Dan akal ini hanya terdapat pada seorang makhluk saja, yaitu insan bernama manusia. Itulah yang membedakan antara manusia dengan binatang, tumbuhan, setan, jin, dan malaikat sekalipun. Akal yang diberikan oleh Allah untuk kita seharusnya dimanfaatkan dengan baik dengan memikirkan ayat-ayat kauliyah (tersurat) dan ayat-ayat kauniyah (tersirat). Sehingga tercipta suatu letupan-letupan karya karenanya. Tapi realita yang terjadi tak seindah tujuan awal. Banyak dari manusia menggunakan akalnya untuk mencuri, membunuh, bersilat lidah di pengadilan, memikirkan cara-cara untuk menyingkirkan seorang yang dianggap musuhnya. Dalam benaknya hanya kejahatan, kedengkian, dan keirian terus-menerus. Sehingga menyebabkan orang seperti ini dikatakan sebagai orang yang kerdil. Sungguh apabila akal digunakan dengan baik pada tiap-tiap manusia rasa sakinah akan memayungi bumi dari kerusakannya.
Sebenarnya banyak orang pintar dan cerdas di dunia ini, jangankan di dunia, di Indonesia saja bertaburan orang-orang pintar. Mereka lulus dengan predikat cum laude juga banyak. Pemenang-pemenang olimpiade sains dan matematika bertaburan di Indonesia. Tapi kenapa negeri justru terpuruk akan moralnya. Korupsi merajalela di berbagai sektor. Korupsi yang dilakukan pun tidak tanggung-tanggung berkisar ratusan juta hingga triliunan rupiah. Kalau kita bisa telaah tidak mungkinlah orang bodoh melakukan itu. Kalau menurut saya orang bodoh palingan bermain di kisaran jutaan rupiah saja. Pastilah ia orang yang pintar mencari alasan atau pintar melobi pihak ketiga dan pintar mengkalkulasi kecurangan, dan lain sebagainya. Dan pula seorang anak yang pintar justru berani melawan orang tuanya yang secara pendidikan jauh di bawahnya. Ia berani menipu orang tuanya dengan alasan untuk duit kursus namun digunakan untuk hura-hura bersama teman-temannya. Na’udzubillah.
Sehingga semakin jelaslah akal yang pintar dan cerdas tidak identik dengan kemuliaan seseorang.
Dari kedua potensi yang disebutkan di atas yaitu potensi fisik dan potensi akal tidak identik dengan kemuliaan seseorang. Tak berlaku hokum, semakin bagus fisik seseorang dan semakin pintar seseorang maka mendapatkan kemuliaan. Dan sebaliknya. Tak akan berlaku hokum seperti itu. Walaupun di dunia ia merasa angkuh, merasa paling besar, merasa hebat, merasa kuat, tapi tidak nanti ketika di akhirat. Dan perlu diingat juga bahwa fisik itu lama-kelamaan akan kendor, keriput, tak tampak bagus lagi dilihat. Begitu juga akal yang pintar akan hilang dengan semakin menuanya seseorang, kualitas berpikirnya lama-kelamaan akan terkikis. Seperti itulah. Janganlah bersandar kepada kedua potensi tersebut kecuali digunakan dengan syar’i sesuai tuntunan al-Qur’an dan as Sunnah.
Terus… potensi yang terakhir adalah potensi yang semua manusia memilikinya dan mampu untuk diarahkan. Tergantung dari manusia itu sendiri. Apabila ia baik maka seluruh anggota tubuhnya dan amalnya akan baik dan apabila ia buruk maka keburukan pula yang akan terjadi. Potensi tersebut adalah qalbu (hati).
Aa Gym mengatakan bahwa ada 3 kategori hati
Qalbu Maridh (Hati yang sakit)
Ciri-ciri orang memiliki hati yang sakit, tak ubahnya seperti gelam kusam yang berisikan air keruh. Jangankan sebutir debu yang mencemarinya, paku payung, jarum, silet atau patahan cutter sekalipun yang masuk, tidak akan terlihat.
Orang yang menderita qalbun maridh akan sulit menilai secara jujur apa pun yang Nampak di depannya. Ia terkena virus megaloman.
Intinya adalah dalam qalbun maridh ini terdapat dua sisi yang beriringan. Sisi kecintaan kepada Allah dan keimanan dan juga sisi rasa cinta terhadap hawa nafsu, mementingkan kehidupan dunia, ketamakan terhadap kesenangan.
Qalbu Mayyit (Hati yang mati)
Hati yang mati tak ubahnya seperti jasad yang mati. Kendati dicubit, dipukul, digorok, di tusuk, tidak akan terasa karena sudah mati. Ciri utama hati mati ini adalah penolakan kebenaran dan ayat-ayat Allah serta berlaku zhalim terhadap diri sendiri dan lingkungan di sekitarnya.
Dan siapakah yang lebih zhalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 57)
“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al-Baqarah: 7)
Oleh karena itu orang yang memiliki hati seperti ini tidak mengenal Tuhan dan hakikat dari ma’rifatullah. Karena hawa nafsu sudah menjadi masinisnya, ia hanya duduk di gerbong VIP yang mewah tanpa mempedulikan dibawa ke mana oleh si masinis tersebut.
Qalbu Shahih (Hati yang sehat)
Hati yang sehat sama halnya dengan tubuh dan akal yang sehat. Ia akan berfungsi dengan optimal tanpa ada gangguan yang berarti. Di antara cirri orang yang hatinya sehat adalah hidupnya diselimuti mahabbah dan tawakal kepada Allah. Dengan begitu, ia tidak akan berlebihan dalam mencintai makhluk. Ia bisa menempatkan cinta pada porsinya. Dan ia bersikap adil terhadap cintanya. Dan begitu pula ketika ia membenci sesuatu ia berlandaskan pada kebencian sesuatu tersebut karena Allah.
Hati yang semakin bersih hidup akan selalu diselimuti rasa syukur terhadap semua kondisi. Walaupun bertubi-tubi bencana, musibah, dan rintangan menghadang dirinya, ia tetap tsabat (teguh) akan prinsipnya dijalan Allah. Tak sedikitpun keinginan untuk jauh dari jalan tersebut.
Teringat dengan nasyid “Jagalah Hati” yang populer beberapa tahun yang lalu.
Bila hati kian bersih, pikiran pun akan jernih, semangat hidup nan gigih, prestasi mudah diraih, tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk, akhlaq kian terpuruk, jadi makhluk terkutuk. Bila hati kian lapang, hidup susah tetap senang, walau kesulitan menghadang, dihadapi dengan tenang, tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit, seakan hidup terimpit, lahir batin terasa sakit.
Sungguh luar biasa ketika hati bersih kan! Semuanya jadi enak dan lapang, sakinah terasa dekat, rahmah berlimpah didapat, rezeki insya Allah datang tanpa terduga-duga.
Ingat, potensi dalam diri ini adalah amanah yang harus dijaga dan dikembangbiakkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pintalah kepada Allah. Dialah yang telah memberikan potensi itu. Pintalah agar potensi-potensi itu dapat dioptimalkan dengan semaksimal mungkin agar tak menyesal di dunia dan tentu saja di akhirat.
Wallahu’alam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/16198/potensi-insan-bernama-manusia/#ixzz1pAUXIzyh

Memaknai Kesuksesan

Memaknai Kesuksesan

14/3/2012 | 21 Rabbi al-Thanni 1433 H Please wait
Oleh: Nada Ash-Shubhi
Kirim Print
Semua penjahit pernah membuat jahitan yang buruk.
Tapi, jahitan kita tidak akan semakin baik dengan berhenti menjahit
(A. Mukhlis)
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com – Tidak ada kesuksesan tanpa kegagalan, tidak ada kesuksesan tanpa kebangkitan diri, tidak ada kebangkitan diri jika tidak mengalami kegagalan, kesuksesan itu adalah rangkaian kegagalan yang kemudian diikuti dengan kebangkitan. Tak ubahnya kemenangan pun demikian. Setiap orang memiliki sejarah dan perjalanan yang berbeda. Namun pastinya ada duka sebelum suka, ada sedih sebelum gembira, dan ada gagal sebelum sukses. Begitu pun sebaliknya ada suka sebelum duka, ada gembira sebelum sedih, dan ada sukses sebelum gagal. Kita merasakan dan pernah mengalami berbagai warna kehidupan.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al Baqarah 286)
“Kita menyadari bahwa kegagalan itu pahit. Kita tahu begitulah rasanya kegagalan”. (Anis Matta)
Namun hidup kita bukanlah untuk tenggelam setelah kegagalan mendatangi kita. Tapi kita harus bangkit dan menyiapkan awak kapal baru dengan layar yang lebih besar untuk kembali mengarungi lautan kesuksesan. Rahasianya ialah karena kegagalan itu ibarat biji padi yang ditanam yang menghasilkan buah biji baru lebih banyak. Begitulah Anis Matta menyampaikan dalam salah satu karyanya. Dari kegagalan lahir ketawadhuan, dari kegagalan lahir kedekatan dengan Rabb, dari kegagalan lahir kebangkitan, dari kegagalan lahir pembenahan dan dari kegagalan lahir kesuksesan. Setelah kesulitan pasti kita dapatkan kemudahan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al. Insyiroh 5-6)
Sebahagiaan orang banyak yang mengutuk kegagalan sebagai musibah, namun kita harus lebih memikirkan dan menanamkan dalam diri untuk memandang berbagai warna hidup dengan jiwa besar dan penalaran yang dalam.
Dalam banyak buku biografi orang-orang besar dan sukses, kegagalan itu justru menjadi hiasan dari kesuksesannya. Periode dimana momentum kompetensi untuk menuju sukses. Sejarah pun mengatakan hal sama bahwa bangsa dunia ini erat sekali dengan kejatuhan-kejatuhan dan kebangunan bangsa. Rasulullah SAW pernah mendapatkan kegagalan dalam pelayaran dakwahnya. Ketika beliau gagal dari mekah kemudian habsyah, thaif akhirnya sampai di madinah dan Allah menghendaki Islam mendapatkan kemenangan di sana.
Father of economics atau akrabnya Ibnu khaldun, menulis sebuah buku yang kini menyejarah dan menjadi referensi cendekiawan muslim dunia,muqaddimah yang kebanyakan orang tidak tahu ternyata sesungguhnya buku itu merupakan hasil kegagalannya sebagai praktisi politik. Siapa sangka Albert Einstein menemukan teori relativitas yang kini banyak dipelajari di sekolah dan para ilmuwan, pernah gagal mengatur waktunya dalam belajar. Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang salah satu ilmuwan besar dunia, hanya mengenyam pendidikan sekitar 3 bulan, dan secara fisik memiliki kelainan pendengaran, gagal mendapat kepercayaan dari pihak sekolahnya. Siapa sangka akhirnya menjadi seorang genius. Guru Beethoven menyebut Beethoven sebagai seorang komposer yang tidak mempunyai harapan. Rodin si pengukir legendaris, pernah 3 kali gagal masuk sekolah seni. Alexander Graham Bell pernah disarankan oleh seorang pegawai bank untuk membuang “barang mainan itu” (baca telepon). Henry Ford (pembuat ford quadrycycle) pernah gagal dalam bisnis dan bangkrut sebanyak 5 kali. Itulah sedikit kisah yang menjadi momentum luar biasa dari perubahan. Lautan kegagalan menjadikan batu loncatan menuju pintu kesuksesan. Orang-orang sukses di bidangnya telah melewati deretan kegagalan yang bangkit dan lahirkan karya-karya monumental. Hasil adalah konsekuensi dari seberapa besar kita berusaha. Jika ingin mendapatkan ikan besar maka umpannya pun harus berkualitas, menginginkan juara berarti usahanya harus lebih keras. Kita lah yang menjalani siklus hidup, maka bangkit dan melejit lah.
Begitulah hidup, dimana banyak lembah yang harus di turuni. Begitulah sukses harus di titi dengan loyalitas dan pengorbanan. Bukanlah perjuangan bila ia tanpa halangan. Kegagalan merupakan sendi dari pembinaan jiwa dan mental. Demikianlah sunnatullah kesuksesan penuh dengan hiasan kegagalan. Namun secara penalaran lain kegagalan menjadikan karakter tersendiri yang membedakan, yang telah menjadikan gagal itu memiliki makna dan pemahaman tersendiri di dalamnya. Setiap orang pasti memiliki pemikiran sendiri mengenai makna kesuksesan. Tidak ada salahnya saya pun demikian memberikan pemaknaan.
Sukses memiliki dua dimensi, terikat dan saling keterkaitan satu dengan lainnya. Dimensi duniawi dan ukhrawi. Dunia adalah ladang untuk kita mempersiapkan bekalan menuju akhirat. Sukses secara duniawi erat sekali kaitannya dengan seberapa banyak kekayaan dan hidup enak serta mewah, dimana tujuan dan cita-cita kita tercapai. Paradigma yang sudah mendarah daging di masyarakat. Memang itulah sukses dunia, dimana tujuan dan cita- cita yang di perjuangkan tercapai. Dimensi ukhrawinya yaitu kesuksesan yang akan kita nikmati dan rasakan di yaumil akhir kelak, dimana tercapainya tujuan dan cita-cita tertinggi kita yakni bertemu dengan sang Khaliq, Rasulullah SAW dan para syuhada yang telah berjuang di jalan Allah SWT. Kemenangan yang menjadi impian setiap orang. Seyogianya dimensi ukhrawi tidak bisa lepas dari duniawi, karena syarat untuk ukhrawi ada dan kita usahakan di dunia.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Q.s. Al-Hasyr: 18
Sukses dunia dan akhirat hakikatnya bisa diparalelkan. Artinya sama-sama mencapai dimensi falah atau kemenangan. Sehingga menciptakan hasanah dunia dan hasanah akhirat. Paralel yang dimaksud ialah sejalan. Karena ketika Allah SWT meniupkan ruh ke dalam jasad manusia dan lahir ke dunia, maka dari saat itulah kehidupan dunia dimulai. Seiring pelayaran kehidupan kita, maka akan banyak deretan deretan masa yang menyita hidup dan aktivitas kita. Hingga sampai kepada batas masa kerja yakni kematian. Kehidupan berikutnya ketika Allah membangkitkan kita kelak di yaumil akhir. Maka kehidupan akhirat di mulai. Ketika kehidupan dunia yang kita bawa berupa hasanah, tentunya insya Allah kehidupan akhirat akan membawa hasanah juga. Itulah parallel.
Makna sukses tidak hanya diukur dari seberapa besar sukses itu diinderakan. Hakikatnya Allah lah yang menghendaki dan menilai setiap langkah kita. Intinya kita usaha dengan maksimal untuk mencapai kesuksesan itu. Sukses itu ketika kita mampu sabar oleh ujian, sukses itu ketika kita mampu bermanfaat buat makhluk, sukses itu ketika kita mampu membuat orang lain sukses, sukses itu ketika kita tidak merasa sukses, sukses itu ketika dunia ada dalam genggaman kita dan surga dalam kerinduan kita, sukses itu ketika kebutuhan ruhiyah, fikriyah, jasadiyah terpenuhi dengan baik dan maksimal, kemudian puncak dari kesuksesan kita adalah ketika surga sudah kita injak langsung oleh kaki kita. Karena sukses sebelum kita mendapatkan syurga adalah sukses yang semu. Itulah yang menjadi rahasia kesuksesan generasi emas sahabat. Wallahu’alam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19373/memaknai-kesuksesan/#ixzz1pAOXbUsG

Rabu, 14 Maret 2012

Tergantung Niat

Tergantung Niat

14/3/2012 | 21 Rabbi al-Thanni 1433 H | Hits: 754
Oleh: kiptiah hasan
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Lembayung senja menemani langkah Fatin. Bergegas ia menuju ke jalan besar untuk menunggu angkutan umum yang akan mengantarnya pulang ke rumah.
“Lagi dan lagi, saya sendiri.” Ucap Fatin lirih.
Sambil terus berdzikir, ia menatap secara seksama arah datangnya angkutan.
****
Sore itu adalah sore kesekian Fatin hadir sendiri menghadiri pengajian pekanan di rumah Mbak Khaira –guru ngaji Fatin-. Keempat rekannya tidak hadir, Aisyah dan Naura berhalangan hadir sedangkan Rayya dan Naila tidak ada keterangan.
Pukul empat lewat Fatin telah tiba di rumah Mbak Khaira setelah sebelumnya menelpon Aisyah, apakah mengaji atau tidak. Karena Aisyah tidak mendapat kabar apapun dari Mbak Khaira, ia pikir pengajian tetap di adakan. Fatin pun dengan mantap berangkat untuk menuntut ilmu, meskipun hari itu ia merasakan tidak enak badan.
Sesampainya di rumah Mbak Khaira, ternyata belum ada kawan-kawan yang lain.
“Assalamu’alaikum… “Fatin memberi salam.
Tidak ada yang menyahut, Fatin pun mengulangi salam.
“Assalamu’alaikum… Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam warrahmatullah wabarakatuh.” Terdengar sahutan salam dari arah dalam rumah.
Terlihat kakak Mbak Khaira keluar rumah dan menyambut Fatin.
Dengan tersenyum Fatin langsung bertanya, “Mas, Mbak Khaira nya ada di rumah?”
“Khaira nya sedang keluar. Tunggu di dalam saja dik.” Jawabnya ramah.
Fatin pun masuk ke dalam ruangan yang memang di sediakan khusus untuk pengajian. Sepi. Hanya ada rak-rak berisi kitab dan buku-buku Islam.
Sambil menunggu kawan lainnya, Fatin beranjak mengambil buku dari rak. Ia memilih kisah mengenai para tabi’in wanita. Pelan-pelan ia membaca, hingga tanpa sadar sudah berpuluh-puluh halaman telah di bacanya. Satu jam berlalu sejak ia datang tapi belum ada tanda-tanda bahwa kawannya akan hadir. Hanya kabar Naura yang ia tahu, karena ketika baru sampai rumah Mbak Khaira, Fatin mendapat SMS dari Naura yang mengabarkan jika ia tidak hadir di karenakan sedang tidak enak badan.
Hari semakin beranjak sore. Ternyata Fatin telah menunggu hampir satu setengah jam, tetapi Mbak Khaira belum juga terlihat akan pulang.
Sedang asyik membaca, kakak Mbak Khaira masuk membawakan minuman untuk Fatin.
“Sendiri dik? Yang lain ke mana?” Tanya Mas Farhan, kakak Mbak Khaira.
“Emm… yang dua izin berhalangan yang dua lagi tidak ada kabarnya.” Jawab Fatin singkat.
“Oh, gitu… ya sudah di minum dulu tehnya.”
“Makasih mas.”
Mas Farhan tersenyum dan kembali ke dalam rumah.
Fatin larut dalam keasyikan membaca kisah tabi’in wanita. Sungguh patut di jadikan tauladan, bagaimana taat dan shalihnya para wanita zaman dahulu. Mereka hidup setelah zaman sahabat Rasulullah tapi keshalihan mereka tidak berbeda dari para sahabat. Wanita-wanita nan cerdas, selalu haus dalam hal keilmuan. Melayani suami dengan penuh kesetiaan dan ketulusan. Dan mampu mencetak generasi muslim yang tangguh dan bertaqwa. Fatin tersenyum membaca kisah-kisah tersebut. Tak jarang senyumnya mengembang.
“Semoga kelak, aku mampu menjadi seperti mereka.” Ucap Fatin dalam hati.
Tanpa terasa, azan Maghrib berkumandang. Mas Farhan tiba-tiba muncul di hadapan Fatin.
“Kayaknya Khaira masih lama nih pulangnya. Apa kamu mau shalat dulu?”
“Emm… saya sedang tidak shalat mas. Kalau begitu saya pamit saja ya mas.”
Fatin yang sedang asyik membaca, bergegas membereskan buku bacaan dan tasnya. Kemudian langsung pamit pulang.
“Terima kasih ya mas. Salam saja untuk Mbak Khaira. Assalamu’alaikum.”
“Iya dik, nanti saya sampaikan. Hati-hati ya. Wa’alaikumsalam.”
****
Sepanjang perjalanan, Fatin merasa bimbang. Kenapa Rayya dan Naila tidak ada kabarnya. Apa mungkin mereka sudah tahu jika Mbak Khaira tidak ada di rumah sehingga mereka tidak hadir? Kenapa mereka tidak memberitahu saya? Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban itu terus memenuhi otak Fatin.
Ia sempat berfikir, kenapa tadi ia tidak datang saja.
“Astaghfirullah.” Seketika Fatin beristighfar menyadari bahwa keikhlasannya sedang tergadai.
Tak sekali itu saja Fatin hanya hadir sendirian. Dulu, pada awal-awal ia ikut pengajian itu, ia sempat merasa aneh. Karena seringkali ia hadir sedangkan Mbak Khaira tidak ada di tempat, tetapi Mbak Khaira tidak menginformasikan kepada semua muridnya untuk memberitahukan bahwa pengajian pekanan di liburkan. Kemudian, lambat laun Fatin paham. Bahwa maksud Mbak Khaira melakukan seperti itu karena mengajarkan kemandirian kepada muridnya. Meskipun Mbak Khaira sedang berhalangan mengisi pengajian namun pengajian harus tetap di lanjutkan meskipun hanya di hadiri beberapa orang saja.
Setelah mengetahui hal tersebut, Fatin bersyukur karena bisa mengikuti pengajian rutin setelah beberapa waktu lama vakum. Meskipun bisa di bilang tidak tiap minggu pengajian di lakukan, karena ada saja hal-hal yang membuat pengajian menjadi tertunda atau bahkan tidak di gelar. Tidak adanya orang yang datang selain Fatin, adalah salah satu contohnya.
Tapi dari sana pula, Fatin belajar tentang sebuah keikhlasan dalam menuntut ilmu. Beberapa kali datang dan beberapa kali tidak ada orang tidak membuat Fatin mundur dari ajang para pencari ilmu. Bukan tidak pernah Fatin merasa jengkel karena kondisi tersebut, tapi Fatin berusaha keras untuk berfikir positif dan yakin bahwasanya Allah tidak akan menyia-nyiakan niat baik hambaNya untuk menuntut ilmu.
Fatin kini berusaha untuk meluruskan niat. Apapun yang ia jalani, termasuk mengaji adalah karena Allah. Ada atau tidak adanya orang, semoga tercatat menjadi amal shalihnya. Yakin, bahwa tidak ada yang sia-sia jika kita berniat karena Allah.
Fatin akan terus berusaha memperbaiki setiap niatnya. Walaupun Fatin tahu, bahwa itu tidak mudah. Saat kita sudah berusaha lurus, ada saja halangan untuk membengkokkannya. Hanya Allah, tempat Fatin mengadu. Fatin juga tidak ingin hanya karena masalah tersebut lalu hengkang mencari pengajian lainnya. Karena di sana Fatin telah menemukan kenyamanan, Fatin berusaha untuk mencari hikmah dalam setiap peristiwa. Setiap pertemuan pengajian, Fatin usahakan nikmati semaksimal mungkin. Ia serap ilmu yang di berikan Mbak Khaira. Ia juga nikmati kebersamaan persaudaraan dalam lingkaran pengajian. Karena menurut Fatin, berteman dengan orang shalih adalah keharusan untuk membentengi dirinya dari hal-hal buruk. Selain beragam kawan lainnya yang di miliki Fatin tentunya. Sebab teman adalah pencerminan dirinya.
Hari itu, Fatin pun pulang ke rumahnya dengan senyum yang terukir di dalam hatinya.
Dari ‘Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi bahwa ia berkata, “Aku mendengar Umar bin Khattab RA berkata di atas mimbar, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju”  (HR. Bukhari)
Nabi SAW mengingatkan: “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium ban wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/18782/tergantung-niat/#ixzz1pANvX1hs

Konsep Menanti Jodoh (Insya Allah)

Konsep Menanti Jodoh (Insya Allah)

15/2/2012 | 21 Rabbi al-Awwal 1433 H | Hits: 15.047
Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc.
Kirim Print
Ilustrasi (blogspot.com)
dakwatuna.com - Catatan ini bukan cerita bagaimana teori perjodohan Rasulullah dengan Khadijah, Ali dengan Fatimah, atau kisah terkini antara Abdullah Khoirul Azzam dengan Anna Althafunnisa dalam serial Ketika Cinta Bertasbih. Ini hanya teori ringan berupa beberapa konsep yang harus dibuktikan sebagai analisa bersama di zaman sekarang. Berikut konsepnya:
1. Konsep tawakal
 -  إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون ( 2 ) الذين يقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون ( 3 ) أولئك هم المؤمنون حقا لهم درجات عند ربهم ومغفرة ورزق كريم  (4)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman [1] ialah mereka yang bila disebut nama Allah [2] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”
Berangkat dari ayat di atas bahwa tawakal juga harus di iringi dengan ibadah seperti shalat dan berbagi kepada yang membutuhkan agar kelak mendapat rizki yang mulia di sisi Allah. Tawakal atau berserah diri setelah semua upaya di usahakan itulah esensi dari arti kata tawakal sesungguhnya.
- ……..ومن يتق الله يجعل له مخرجًا(2) ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه……(3)
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
Oleh karenanya bagi rekan-rekan yang dalam masa penantian hendaknya memahami konsep pertama ini sebagai langkah awal menuju proses selanjutnya. Bagaimana, mudah kan…!
2. Konsep penyembahan
. إياك نعبد وإياك نستعين-
“Hanya Engkaulah yang kami sembah [3], dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan [4].” (QS. Al-Faatihah: 5)
………..…… لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai…” (QS. Ali ‘Imran: 92)
- وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا فَقَالَ: يَا غُلَامُ! اِحْفَظِ اَللَّهَ يَحْفَظْكَ اِحْفَظِ اَللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اَللَّهَ وَإِذَا اِسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَسَنٌ صَحِيحٌ
Ibnu Abbas RA berkata: Aku pernah di belakang Rasulullah SAW pada suatu hari dan beliau bersabda:
“Wahai anak muda peliharalah (ajaran) Allah niscaya Dia akan memelihara engkau dan peliharalah (ajaran) Allah niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta sesuatu mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.” [5]
Dalam konsep ke-2 ini tentunya memerlukan beberapa perangkat dalam melakukan segala jenis ibadah yang harus dilakukan dengan konsisten dan sabar.  Mari kita perhatikan surat Hud juz 12 di bawah ini:
 - ( فاستقم كما أمرت ومن تاب معك ولا تطغوا إنه بما تعملون بصير ( 112 ) ولا تركنوا إلى الذين ظلموا فتمسكم النار وما لكم من دون الله من أولياء ثم لا تنصرون ( 113 ) ( وأقم الصلاة طرفي النهار وزلفا من الليل إن الحسنات يذهبن السيئات ذلك ذكرى للذاكرين ( 114 ) واصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين ( 115 )
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim [6] yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Pesan dari ayat yang agung di atas di antaranya, mari kita perhatikan:
  • فاستقم  = Perintah untuk konsisten dalam kebaikan
  • ولا تركنوا إلى الذين ظلموا = Menjaga pergaulan
  • وأقم الصلاة = Perintah menjaga Shalat
  • إن الحسنات يذهبن السيئات = Hendaknya perbuatan buruk (dosa-dosa kecil) kita di iringi dengan kebaikan agar terhapus kecuali dosa besar via bertaubat
  • واصبر = Dan  perintah bersabar.
Perangkat dari konsep ke-2:
  • Menyembah hanya kepada Allah.
  • Meminta segala sesuatunya juga kepada Allah
  • Belajar berbagi untuk menjadi pribadi yang taat
  • Dan kesimpulan yang ada dari surat Hud di atas.
Teruntuk para penanti jodoh hendaknya juga memperhatikan pesan-pesan tersirat dari ayat-ayat Qur’an dan hadits nabi pada konsep ke-1 dan ke-2. Sekarang kita beralih ke konsep selanjutnya.
3. Konsep amal shalih dan Iman
- من عمل صالحا من ذكر أو أنثى و هو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة…….
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” [7]
Dari surat An Nahl ayat 97 juz 14 di atas, mari kita perhatikan sejenak kalimat “فلنحيينه” falanuhyiyannahu (maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya) , di sini Allah ta’ala menggunakan huruf ‘’Lam taukid” setelah huruf “Fa” dan “Nun tasydid” sebelum huruf ‘’Ha besar” di akhir.
Dalam kaidah bahasa Arab huruf Lam taukid (berharakat fathah) dan Nun Tasydid (dibaca dengan ghunnah/berdengung 2 harakat) yang di gabungkan dalam satu kalimat itu mempunyai arti:
  • Penguat makna.
  • Penekanan lebih bersifat jaminan, menguji secara pasti dan lainnya (sifatnya tergantung teks Qur’an)
  • Bisa juga pengeras arti tergantung dari ayat sebelum dan sesudahnya.
Contoh berupa jaminan pasti:
Ada di Surat An Nahl ayat 97 juz 14  pada kalimat “فلنحيينه” falanuhyiyannahu, adapun konteksnya Allah ta’ala akan menjamin mereka (ikhwan dan akhwat) yang punya kecenderungan pada kebaikan dengan kehidupan yang layak, tapi dengan satu sarat yaitu ”percaya akan adanya satu Tuhan (Allah) tanpa menyekutukan-Nya’.
Adapun berupa ujian yang juga bersifat pasti:
ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات  ……………………………
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (QS. Al Baqarah: 155)
Mari kita perhatikan kalimat ولنبلونكم  wa lanabluwannakum” (Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu). Artinya Allah hendak menegaskan bahwa akan ada pelbagai ujian yang bersifat pasti karenanya pula dipakailah huruf “Lam taukid dan Nun tasydid” sebagai bentuk keilmuan bagi orang-orang yang beriman agar bersiap-siap akan ujian dari-Nya, di antaranya :
  • Rasa Takut yang kadang menghampiri
  • Rasa lapar yang pernah dirasakan
  • kondisi ekonomi menjadi kurang mengizinkan
  • kehilangan sanak saudara atau orang-orang terkasih
  • dan juga kekurangan akan buah-buahan (Makanan)
Kalaupun kita dapati tidak dengan Nun tasydid misalnya di surat Yusuf ayat 32 juz 12:
….ولئن لم يفعل ماء آمره ليسجنن وليكونا من الصاغرين.-
“…Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.”
Kalimat pertama “ليسجنن” “layusjananna” (niscaya dia akan dipenjarakan) dengan lam taukid di awal dan nun tasydid di akhir, artinya memang betul Istri Al-Aziz atau yang lebih dikenal di kalangan masyarakat luas sebagai Zulaikha, Zalikha atau Rahil, walaupun riwayat tentang nama sebenarnya tidak ada yang bisa di pertanggungjawabkan karena semuanya lemah. Bahwasanya dia hendak memenjarakan Yusuf jika tidak menuruti aturannya.
Tapi kalimat setelahnya justru berbeda, mari kita perhatikan ” وليكونا” “wa layakuunaa” (dan dia akan termasuk/menjadi) menggunakan huruf Nun Khofifah dan dibaca panjang  2 harakat yang bermakna: “Penekanannya lebih ringan ketimbang dengan nun tasydid”, artinya:
Maksud Istri Al-Aziz kepada Yusuf sejatinya bertentangan dengan hati nuraninya atau tidak sepenuh hati. Karena bagaimana mungkin dia melihat orang yang sangat di cintainya hingga di mabuk asmara karena ketampanannya menjadi orang yang terhina. Tentunya kita pun demikian tidak mungkin melihat orang yang kita cintai menderita. (Studi Normatif)
Sebenarnya apa yang dilakukan Istri Al Aziz kepada sang pujaan hati Yusuf adalah Salting (Salah tingkah) Istilah zaman sekarang karena cintanya yang berlebihan atau lebai (kata anak muda di zaman ini).
Kesimpulan konsep ke-3:
Almarhum Syeikh Tantowi (mantan Syeikh Al-Azhar Mesir) pernah mengatakan kalau ayat dari Surat An Nahl di atas merupakan ganjaran di dunia bagi orang-orang baik lagi beriman kepada Allah yaitu “kehidupan yang layak”. [8]
Para ulama sendiri mengartikan kehidupan yang layak ini beragam:
  • Dijadikan pemegang kepentingan.
  • Dimantapkan agamanya
  • Diberikan rasa nyaman dalam hidup
  • Pekerjaan yang cocok.
  • Keluasan rizki yang baik
  • Kemudahan demi kemudahan.
  • Juga jodoh yang di idamkan dan masih banyak lagi.
Jadi….. bagi para penanti jodoh hendaknya mengamalkan ayat di atas sebelum kita melanjut ke konsep berikutnya. Semoga….
4. Konsep Cinta
Cinta adalah anugerah Allah yang bisa mengantarkan manusia kepada kebahagiaan, para pakar Cinta sendiri mempunyai banyak definisi tentangnya dan saling berbeda tapi yang bisa disepakati adalah Cinta mendorong untuk melakukan hal-hal positif, karya-karya besar dan menjadikan hidup lebih hidup.
Cinta bisa menghilangkan rasa sakit, mendorong untuk segera sembuh, cinta juga bisa menggeser segala jenis rintangan, halangan, gesekan, ujian, cobaan, kesedihan, kegalauan, kesulitan dan benda-benda mati lainnya, karena hakikat cinta adalah benda hidup yang senantiasa menghiasi hari-hari pecinta sejati. Maka teruslah hidup dengan benda hidup (Cinta).
Cinta bukanlah pemaksaan kehendak dan bukan juga cinta siapa yang memaksakan kehendak, melainkan cinta adalah sebuah dialog antara dua insan yang harus di perjuangkan dengan rahmat dan ridha dari sang pemilik cinta yaitu Allah.
Cinta itu bermacam-macam : ada cinta kepada Allah dan rasul-Nya, kepada agama, Negara, Manusia, materi, lingkungan, hobi dan banyak lagi, bukti kita cinta kepada Allah yaitu patuh dan taat pada perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
Cinta berawal dari pengenalan atau ta’aruf, setelah itu timbul rasa, lalu tanggung jawab dan yang terakhir adalah kesetiaan, bukan cinta namanya bagi yang tidak mengenal dan juga yang tidak setia kepada pasangan.
Cinta atau Mawaddah adalah mengosongkan hati dari segala kekurangan terhadap pasangannya, saling mengerti dan melengkapi, karena jika Cinta, segala kekurangan yang ada pada kekasihnya itu terlihat normatif, sehingga betapapun  buruk yang di cintainya akan menjadi terlihat baik karena cinta dan itulah arti sejati dari Mawaddah. (Khusus yang sudah menikah)
Oleh karenanya bagi para penjalin cinta kasih (Suami-Istri) hendaknyalah memperjuangkan cinta, jaga cintanya agar tetap bersemi menghiasi isi hati, sedangkan bagi para penanti jodoh hendaknya bersabar akan jaminan dari Allah berupa kehidupan yang layak di dunia seperti yang tersirat pada surat An Nahl ayat 97 juz 14.
Inilah rangkaian singkat dari arti cinta, oleh karenanya wajib bagi kita untuk memahami lebih dalam akan arti cinta sebelum kita melanjut ke Konsep jodoh yang terakhir.
5. Konsep mencari sebab
Ajaran Islam bukan saja mengedepankan sisi “Spiritualitas” tapi juga ada sisi lain yang penting diperhatikan yaitu “Rasionalitas” dari sinilah banyak ilmuwan barat ramai memeluk ajaran Islam karena ajarannya yang rasional.
Kalaulah kita hanya berpegang pada sisi spiritualitas saja tentu bisa menggambarkan Islam di mata dunia sebagai ajaran khurafat atau takhayul. Adapun jika pada sisi rasionalitas saja tentunya ajaran ini tak ubahnya sama seperti ajaran Paganisme  (penyembah berhala).
Beberapa contoh rasionalitas dalam Islam (Mengambil sebab):
a. Pembuatan bahtera nabi Nuh sebagai penangkal dari musibah banjir besar.
…………..واصنع الفلك بأعيننا ووحينا
“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami…” (QS. Hud: 37).
b. Proses mendapatkan makanan seorang Maryam
هزي إليك بجذع النخلة تساقط عليك رطبا جنيا
“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,” (QS. Maryam: 25)
c. Proses penyembuhan atas Wahyu dari Allah kepada nabi Ayyub.
اركض برجلك هذا مغتسل بارد و شراب
“(Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS. As Shaad: 42)
Adapun mengambil sebab menanti jodoh, berikut uraiannya:
1. Selipkanlah doa ini dalam sujud sebagai wujud dari Ibad Rahman (hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang).
(74)……………….ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما ………… –   
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.”  (QS. Al Furqan: 74).
2. Mulai melakukan proses pencarian belahan jiwa, adapun dicarikan melalui bantuan orang lain hukumnya sah-sah saja.
3. Menikahlah dengan orang yang dicintai (laki-laki dan perempuan), atau bisa juga mencintai orang yang menikahi (khusus untuk perempuan).
4. Menikah bukan hanya dengan orang yang dicintai, melainkan berkomunikasi dengan keluarga besar pasangan yang juga baik, karena ini adalah porsi ideal dari kebahagiaan menikah sebagaimana petunjuk Rasul untuk melihat garis keturunan yang baik, adapun jika kita belum mampu mengikuti anjuran tersebut hukumnya tidak mengapa, karena bisa jadi orangtua pasangan kurang sholeh tetapi anaknya sholeh, jika sudah kepalang cinta alias cinta medok. (Opsi ideal lebih ditekankan)
5. Jika sudah merasa mampu dan mendapatkan jodoh yang di idamkan, segeralah menatap langit dengan penuh pengharapan sambil bergerak maju dengan badan tegap sambil melangkah untuk segera melamar sang gadis atau janda (gadis lebih di anjurkan karena keutamaannya) dengan mengucap “Bismillah”
6. Adapun untuk para akhwat hendaknya bersabar dan terus memperbaiki diri sambil berusaha dan berdoa agar pangeran berkuda putih segera datang menjemput Anda.
7. Semoga berhasil kawan…
___
Catatan kaki:
[1]. Maksudnya: orang yang sempurna imannya.
[2]. Dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakanNya.
[3] Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
[4] Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
[5] Riwayat Tirmidzi. Ia berkata: Hadits ini shahih.
[6]. Cenderung kepada orang yang zhalim maksudnya menggauli mereka serta meridhai perbuatannya. Akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri, maka dibolehkan.
[7]. Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.
[8] Kajian rutin Tafsir Al Wasith setiap Jum’at siang di Masjid-Islamic Mission City-Kairo.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18272/konsep-menanti-jodoh-insya-allah/#ixzz1pANRE01p

Anakku Bertanya tentang Cermin

Anakku Bertanya tentang Cermin

3/6/2011 | 02 Rajab 1432 H | Hits: 3.429
Oleh: Christian Atanila
Kirim Print
Ilustrasi (blog.svconline.com)
dakwatuna.com - Zahra, nama anakku. Ya, Zahra Ainun Fii Jannati. Seorang wanita yang sedang tumbuh. Kini ia sudah duduk di kelas 4 SD. Sudah banyak yang ia pertanyakan tentang segala hal yang ada di sekitarnya. Mulai dari pertanyaan yang mendasar dan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku konyol hingga aku sulit untuk menjawab semua itu.

Seperti di hari itu, anakku bertanya di saat aku sedang bertajarrud di depan cermin riasku. Ia bertanya dengan polos sambil menggerakkan kedua lengannya bergantian, “Ummi, kenapa sih kaca itu membalikkan tangan Zahra padahal ‘kan Zahra gerakkin tangan kiri, kok di cermin malah tangan kanan?” Kaget kudengar pertanyaan itu dari anak berumur kurang dari 10 tahun.
“Itu namanya cermin sayang. Bukan kaca biasa. Dia bisa memantulkan bagian tubuh kita yang masuk ke cermin. Jadi kalau kamu gerakkin kepala kamu ke kanan, di cermin terlihat berlawanan arah. Makanya tadi kamu lihat tangan kanan di cermin padahal kamu gerakkin tangan kirimu,” jawabku dengan susah payah dan berharap anakku mengerti apa yang kujelaskan.
“Tapi kenapa bisa begitu? Memang cermin dibuatnya beda ya sama kaca??” tanya anakku kembali ingin tahu.
“Bahannya sama sayang. Tapi ada yang beda antara cermin dengan kaca yang ada di jendela. Kalau kaca di jendela itu bening di bagian depan dan belakang. Tapi kalau cermin, di bagian belakangnya dilapisi penutup agar tidak bisa tembus cahaya. Contohnya seperti ini…,” jelasku sambil kuperlihatkan bagian belakang dari cermin hiasku.
“Nah, sekarang coba kamu lihat wajah kamu di cermin. Cantik tidak wajah anak ummi?” candaku.
“Hmm… coba lihat mi. Cantik dong kan anak ummi,” jawabnya sambil mencium pipi kananku lalu berlari meninggalkanku.
“Subhanallah, ternyata aku telah memiliki anak yang semakin tumbuh dewasa hingga dengan melihatnya saja sudah dapat membuatku berpikir banyak hal,” bisikku dalam hati.
“Cermin ini telah mengingatkanku akan umurku. Cermin ini juga mengingatkanku tentang bagaimana hidup sederhana dan tidak berlebihan. Cermin ini mengajarkanku untuk tidak mudah menyalahkan orang lain dan menganggap diri lebih baik dari yang lain. Ya, cermin ini memberiku pelajaran berharga di pagi ini,” pikirku.
Alhamdulillahilladzi sawwa kholqi fa’adalahu wa karomahu shurota wajhi fa ahsanahaa waja’alani minal muslimin. Segala puji bagi Allah yang menyempurnakan kejadianku dan memperindah serta memuliakan kejadianku dan memperindah serta memuliakan rupaku lalu membaguskannya dan memasukkan aku ke dalam bagian kaum muslimin. Amin..” doaku dalam hati. Tak terasa air mata telah membasahi pipiku.
Kejadian di pagi itu telah mengingatkanku pada-Nya. Sungguh di hari itu aku merasa sangat bersyukur telah dikaruniakan seorang anak yang pintar dan dapat memberikan tadzkirah bagiku agar senantiasa mengingat-Mu. Hari itu anakku hanya bertanya tentang cermin, lantas aku teringat pada kekuasaan-Mu ya Allah.
Ya, dimana cermin itu mengingatkan aku akan kematian yang pasti datang menghampiri. Kulihat wajahku yang semakin menua di cermin. Kupegang bagian pipi yang dulu halus kini mulai agak mengerut di bagian tertentu. Mataku pun sudah tidak dapat melihat jauh dan tulisan yang kecil, padahal dahulu mataku ini normal dan dapat membaca tulisan yang kecil di koran. Namun, kini semua itu tak ada lagi pada diriku. Sedikit demi sedikit nikmat itu telah kembali kepada pemilik-Nya. Nikmat itu hanya sebentar mampir di tubuhku lalu ia pergi tak kembali.
Cermin itu juga mengajarkanku untuk hidup sederhana. Solekan yang berlebihan jika keluar rumah bisa kuhindari saat ku lirik di cermin. Perhiasan yang mungkin ingin kupamerkan di hadapan orang banyak juga kembali kulepas karena aku tahu tidak akan mungkin ada yang melihatnya di balik jilbab yang kukenakan ini. Kecuali perhiasan ini mempercantikku di hadapan suamiku saja. Cermin ini begitu objektif memberikan penilaian padaku. Sehingga aku kini berusaha untuk hidup dalam kesederhanaan yang selaras dengan rezeki yang Allah berikan pada kami.
Tak sampai di situ, ternyata cermin mengingatkanku akan satu hal yang sangat penting hari itu. Ya, aku ingat untuk tidak berpikir bahwa apa-apa yang kukatakan dan lakukan adalah yang paling baik dan benar. Ketika wajah ini terlihat di cermin, aku semakin sadar bahwa tidak ada yang dapat aku sombongkan. Wajah ini Allah ciptakan dengan bahan yang sama dengan orang lain, lantas mengapa aku menganggap diriku superior. Padahal di balik wajah ini aku menyimpan banyak sekali aib keburukan yang tidak diketahui oleh orang lain. Bisa saja dengan mudah Allah buka di hadapan orang banyak suatu saat nanti. Sungguh tak ada kebenaran di dalam kesombongan.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/06/12455/anakku-bertanya-tentang-cermin/#ixzz1pALgLFSb

Surat Seorang Sahabat

Surat Seorang Sahabat

10/3/2012 | 17 Rabbi al-Thanni 1433 H | Hits: 1.877
Oleh: Oktarizal Rais
Kirim Print
Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)
dakwatuna.com - Bismillaahirrohmaanirrohiim…
Sahabat fillah, percayalah…
Kebahagiaan seorang sahabat sejati bukan terletak pada ucapan terima kasih kita. Bukan juga terletak pada hadiah yang kita berikan padanya.
Kebahagiaan seorang sahabat sejati terletak pada keberhasilan kita dalam mencapai potensi terbaik!
Karena kita selalu memperhatikan dengan sungguh-sungguh atas pesan-pesan yang ia sampaikan. Dan menyikapinya dengan benar dalam setiap langkah hidup kita.
Sahabat terbaik adalah yang datang dengan nasihat-nasihat kehidupan yang dengannya engkau mengerti arti hidup dan kehidupan ini.
Ia tak mengharapkan sesuatu darimu selain engkau menjadi orang yang baik dan mampu memberi kebaikan kepada orang lain.
Ia hanya ingin melihat senyum dari wajahmu saat engkau menghadap Rabbmu…
Ia tak ingin ada kegelisahan dan kesedihan karena dunia tersirat di wajahmu.
Tapi, ia mengharapkan kesedihan dan kegelisahanmu dikarenakan ketakutanmu kepada ALLAH!
Sahabatmu bukanlah orang yang takut jika engkau terasing pada kehidupan dunia.
Namun, ia hanya takut, jika pada hari kebangkitan nanti, engkau termasuk orang-orang yang terusir dari rahmatNya!
Ia tak takut jika harus berpisah denganmu pada kehidupan dunia.
Namun, yang ia takutkan adalah ketika ia harus dipisahkan denganmu pada kehidupan setelah kehidupan yang fana ini… yaitu kehidupan akhirat, tanpa bias menolongmu sedikit pun.
Karena ia pun tak tahu dimana akhir dari perjalanan hidupnya, apakah di surga yang diliputi dengan segala kesenangan? Ataukah di neraka yang tak mengenal cinta, kasih sayang, dan persahabatan???
Sahabat fillah…
Selamat berjuang mengarungi samudra kehidupan dunia.
Semoga Allah senantiasa menjaga kita.
Semoga selalu ada cinta di hati kita.
Cinta karena Rabbuna.
Sehingga timbul kejujuran dalam mencintai Allah dan hamba-hambaNya.
Wallahua’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19282/surat-seorang-sahabat/#ixzz1pAK3zzGH

Allah, Kuatkan Aku…

Allah, Kuatkan Aku…

7/3/2012 | 14 Rabbi al-Thanni 1433 H Please wait
Oleh: Dwi Purnawan
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Rintik-rintik hujan dini hari itu, lambat laun mulai menetes semakin lama pun semakin kencang, hingga akhirnya deras hujan di dini hari itu, membasahi dedaunan, memberikan kesejukan kepada dunia, dingin rasanya. Rintik air hujan dini hari itu, di awal tahun ini, semakin membuat suasana senyap, karena sang insan pun semakin menghangatkan tubuh dengan selimut, dan mungkin hanya beberapa yang menengadahkan tangan di antara rintik gerimis hujan, sembari meneteskan airmata, berharap keajaiban dalam keberkahan doa saat hujan, meminta kemustajaban doa saat hujan. Dan dini hari itu, kembali diri ini merenung, lalu bermuhasabah, mengevaluasi sejauh ini, berjalan, berlari, kadang disertai belaian lembut, dan tak jarang pula menginjak kerikil yang tajam, bersama tarbiyah. Tarbiyah yang sudah selama ini mengikatkan hati dengan para perindu surga lainnya, tarbiyah yang selama ini telah membuat sang jiwa yang tulus merasa jatuh hati dengan dakwah dan enggan untuk pindah haluan, tarbiyah yang selama lebih dari empat tahun ini telah membelai lembut sang hati, sehingga hatinya yang semula keras bak batu, kini menjadi lembut, bahkan mengalahkan kain sutra dengan kualitas terbaik sekalipun.
Aku pun menjadi kembali teringat masa-masa awal bersama tarbiyah, entah, diri ini akan menjadi seperti apa ketika tidak bertemu dengan belaian tarbiyah. Entah hati ini mungkin akan semakin membatu tanpa tarbiyah, yang secara kontinyu, sabar, dan tsabat senantiasa membelai lembut sang hati, hingga akhirnya sang hati ini luluh lantah, tak kuasa menahan kesucian tarbiyah, ya, hati ini pun jatuh hati kepada tarbiyah. Teringat masa-masa itu ketika tarbiyah begitu mempesona jiwa, sehingga dengan pesonanya yang luar biasa, membuat jiwa ini takluk bertekuk lutut tanpa syarat, terbuai pesona yang sungguh mempesona. Di sini, di tarbiyah ini, masih saja teringat waktu itu, ketika dengan melingkar, kita seakan akan sedang memadu cinta dan kebersamaan, sedang me-reka cipta, sedang mewujud asa, tentang Islam, tentang indahnya peradaban, tentang mimpi-mimpi yang belum terwujud, dan ternyata, melingkar itu adalah kita, tarbiyah. Ah, indahnya…
Ah, tak terasa, diri ini sudah begitu lama mengenal tarbiyah, bahkan status dan jenjang dalam tarbiyah ini sudah sedemikian tinggi, tetapi masih ada saja rasanya, kegundahan-kegundahan yang kadang menghantui pikiran ini. Seperti pepatah lama mengatakan, “semakin tinggi pohon menjulang, maka serangga, burung-burung, dan  angin tak akan membiarkannya meninggi”, semakin tinggi jenjang ini, bukannya kemudahan yang didapat, tetapi halangan dan rintangan ini justru semakin kencang membadai bertubi-tubi menggoda kekuatan dan ketsiqahan kita untuk selalu bersama tarbiyah. Semakin lama diri ini bersama tarbiyah, bukan semakin kecil tanggungjawab yang diemban, tetapi justru semakin menggunung tanggungjawab itu, tentang amanah yang semakin banyak, tentang produktivitas amal kita, tentang produktivitas rekrutmen kita, tentang keshalihan akhlaq kita, tentang segalanya. Ah, beratnya…
Aku sebenarnya ingin mengungkapkan segalanya di dini hari itu, di awal tahun, namun ternyata setelah kulihat dan kucermati, mengeluhnya diri ini akan berbagai hal dalam tarbiyah, yang saat ini begitu memberatkanku untuk beramal, bukan berasal dari banyaknya amanah-amanah itu, tetapi ternyata berasal dari sini, dari hati ini. Ternyata hati ini sedang lemah, tidak kuat, tidak dekat dengan Allah. Sehingga Allah pun “enggan” untuk menguatkan hati kita. Iman ini sedang compang-camping, sehingga tak kuasa menahan derasnya godaan yang membadai bertubi-tubi silih berganti. Dan pada akhirnya, aku memahami, bahwa tarbiyah ini adalah akumulasi dari iman kita secara individu, bahwa tarbiyah dan iman itu berbanding lurus, tak dapat dipisahkan satu sama lain. Kalau iman itu beres, maka ia akan membuat si empunya nyaman menikmati tarbiyah, nikmat bersama dakwah, tak ada keluhan, tak ada menghilang, tak ada resah dan galau karena banyak amanah dakwah yang diemban. Aku sekarang tahu, di sini, di dini hari ini, hanya ingin berucap dengan sepenuh hati, ya Allah, kuatkan aku….
Allah, ternyata jiwa ini lemah. Begitu lemah. Sangat lemah. Mudah goyah. Mudah terkotori. Mudah terbolak balik. Namun ternyata diri ini tersadar, betapa hati ini begitu merasakan akan kekotoran jiwa ini. Jiwa yang sedang sekarat, dimana sang syahwat keangkuhan, terlalu mendominasi segenap tubuh yang sudah rapuh ini. Ternyata jiwa yang lemah ini, masih bisa saja memperlihatkan keangkuhannya, seakan-akan dia kokoh, seakan-akan dia tegar, padahal rapuh, padahal mudah goyah.
Allah, ternyata kaki yang terlihat kuat menopang segenap anggota tubuh itu, ternyata pincang, ternyata tak lagi kuat. Tak lagi kuat membawa dosa-dosa yang begitu menumpuk. Begitu bertambah setiap waktu. Kaki itu, seakan menjerit, “wahai tubuh, aku tak lagi kuat membawa beratnya dosa-dosa ini”.
Allah, ternyata tubuh yang terlihat elok itu, hanyalah pembungkus. Pembungkus dari seonggok tulang. Seonggok daging yang membusuk. Busuk karena timbunan bangkai-bangkai dosa. Yang semakin lama, ternyata semakin bertambah. Tak berkurang.
Allah, ternyata mulut, dengan rangkain lidah dan bibir yang terlihat menawan, hanyalah ilusi. Yang jika dilihat dengan kacamata kejujuran, di sana akan terlihat sampah-sampah dusta, maksiat, yang senantiasa menumpuk setiap waktu. Tanpa henti. Dan mulut itu hanya pembungkusnya.
Allah, ternyata fisik ini begitu sangat lemah. Semakin tak berdaya. Mengikuti jiwa yang menggelora. Maka Allah, kuatkanlah hambaMu ini. Dan ampunkanlah hambaMu ini
Allah, ingin sekali aku berlari kencang. Mengejarmu, melihat keagunganMu. Menangis di hadapanMu. Berkeluh kesah. Mengadu. Tentang sulitnya perjalanan ini. Tentang begitu banyaknya rintangan. Tentang panjangnya jalan ini.
Tapi Allah, ternyata itu sulit terjadi. Airmata itu kini tak lagi keluar. Terhijab oleh syahwat keangkuhan yang mengotori jiwa ini. Kaki ini sangat berat melangkah, karena kaki ini ternyata masih terbungkus oleh gumpalan dosa-dosa.
Allah, semoga Engkau berkenan, mengampuni hambaMu yang hina-dina ini. Amin ya Rabb.
Allah, kuatkan aku…
Allah, tetapkan aku bersama tarbiyah ini…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/18581/allah-kuatkan-aku/#ixzz1pAJg3bgb

Ini Sebuah Kebutuhan, Bukan Sebuah Keterpaksaan

Ini Sebuah Kebutuhan, Bukan Sebuah Keterpaksaan

29/2/2012 | 05 Rabbi al-Thanni 1433 H Please wait
Oleh: ayyash ibnu sofian
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com – Mungkin sebagian dari kita, bertanya-tanya. Mengapa kita berada di jalan ini? Jalan ini bukanlah jalan yang ditaburi bunga-bunga harum, bukan jalan yang mudah ditempuh. Namun, jalan ini adalah jalan yang penuh onak dan duri. Jalan yang tidak semua orang bisa menikmatinya dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keistiqamahan.
Bukankah kita sepatutnya iri, melihat mereka yang menghabiskan masa mudanya untuk bersenang-senang, tanpa perlu memikirkan suatu hal yang mungkin hanya memberatkan pikiran saja. Tak perlu menghadiri SYUTING* untuk membahas masalah tertentu, tak perlu menghadiri kajian yang terasa menjenuhkan, tak perlu mengingatkan orang lain untuk terus berbuat baik.
Apakah keberadaan kita di jalan ini, hanyalah sebagai bentuk sebuah keterpaksaan, ikut-ikutan, tanpa mengetahui orientasi sesungguhnya kita berada di jalan ini. Atau jangan-jangan ki dari penampilan kita mendukung mengenai eksistensi keberadaan di jalan ini, namun hati kecil kita menolaknya karena belum siap menerima.
Teringat pada sebuah buku kecil, namun manfaatnya sungguh luar biasa.”Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami”
“Sesungguhnya keberadaan kami di jalan ini adalah kebutuhan kami sendiri. Rasa kebutuhan yang begitu mendalam. Bahkan lebih dari sekedar kebutuhan, karena kami melangkah di jalan ini dengan penuh rasa syukur atas hidayahNYA kepada kami.
Dia mampu untuk melakukan sesuatu tanpa memerlukan kita di jalan ini, Dia mampu untuk mengatur segala proses yang terjadi di alam semesta ini sendiri, Dia mampu untuk menegakkan agama ini sendiri, tanpa perlu membutuhkan bantuan kita.  Namun, tahukah sobat? Bahwasanya Dia sedang menguji kita. Menguji keistiqamahan kita. Menguji keteraturan barisan kita. Kebutuhan kita untuk mencari amal sebanyak-banyaknya, sebagai penolong kita dari azab Nya adalah dengan bergabungnya kita di jalan ini.
Bahwasanya Dia akan murka jika tak ada di antara kita yang berjuang untuk menyampaikan kebenaran. Dia akan memberikan azab kepada kita semua tanpa terkecuali. Karena keberadaan sekelompok orang yang menyuarakan kebenaran, akan menjadi penghalang turunnya azab ALLAH.
Jika sampai saat ini kita masih merasa penuh sesak, letih, ingin mundur dari jalan ini karena beberapa hal. Pikirkanlah! Karena sepatutnya lah kita bersyukur menjadi “pioneer” di jalan ini. Mengingat akan begitu banyak rintangan dan hambatan yang akan kita temui, tidak bisa merasakan hasil perjuangan secara langsung. Karena bagaimanapun kita menyeru pada kebaikan. Semuanya kita kembalikan pada sang pemilik hidayah. HidayahNya akan diturunkan pada hamba-hambaNYA yang membuka diri, pada mereka yang mencari, bukan mereka yang menunggu.
Di jalan ini pula kita akan bertemu dengan berbagai macam karakter penempuh perjalanan, untuk itulah kita dituntut untuk menjunjung tinggi rasa toleran di antara sesama. Jangan mudah terpecah belah karena hal-hal yang tak perlu diperdebatkan. Lihatlah kebaikan, dan kelebihan mereka. .Jadikanlah mereka sebagai sumber motivasi untuk terus meningkatkan kinerja penempuh perjalanan. Contohlah Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya yang masing-masing mereka memiliki kelebihan satu sama lain. Mereka saling melengkapi tanpa perlu membanding-bandingkan satu sama lain. Karena setiap manusia memiliki cara dan kelebihannya tersendiri untuk tetap bertahan di jalan ini.
Seseorang bertanya.
“Kenapa perjuangan itu pahit?”
“Karena Surga itu manis…”

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/19114/ini-sebuah-kebutuhan-bukan-sebuah-keterpaksaan/#ixzz1pAGvyPuz

Saat Allah Menjaga Titipan Hamba-Nya

Saat Allah Menjaga Titipan Hamba-Nya

9/3/2012 | 16 Rabbi al-Thanni 1433 H Please wait
Oleh: Adit Purana
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Sebutlah namanya Udin, begitulah seorang montir tamatan SMK bernama lengkap Wahyudin ini biasa disapa atau dipanggil. Udin bekerja sebagai seorang montir di sebuah bengkel kecil yang terletak di daerah tengah kota, cukup jauh dari rumahnya yang berada di pinggir kota.
Orangnya sederhana, bersahaja. Namun bagi teman-temannya, terutama teman di bengkel, Udin lebih dari sekedar sederhana dan bersahaja. Bagi mereka, Udin adalah sosok yang dermawan, ramah, menyenangkan, dan tak pernah sungkan untuk menolong. Sedangkan di mata pemilik bengkel, Udin adalah seorang pekerja yang tekun. Itulah yang membuat Udin disukai oleh teman-temannya, juga bosnya di kantor.
Suatu ketika, Pak Bos (pemilik bengkel) merasa ada yang ganjil dengan sikap Udin selama beberapa hari terakhir. Pak Bos yang terheran akan sikap Udin pun bertanya-tanya kepada karyawan lain di bengkel.
“Udin kenapa? Kok dia jadi lebih pendiam begitu?”
“Waduh, nggak tahu Pak! Saya juga heran.”
Rupanya bukan hanya Pak Bos yang terheran pada sikap Udin akhir-akhir ini, ternyata montir-montir lain pun demikian. Terheran dengan perubahan sikap yang terjadi pada Udin, seorang montir yang selama ini dikenal ramah dan menyenangkan. Akhirnya, rasa penasaran tersebut menuntun Pak Bos untuk bertanya langsung kepada Udin. Dengan gayanya yang ‘diplomatis’, Pak Bos memanggil Udin ke ruang direksi.
“Udin, ada apa denganmu? Kok tumben jadi lebih pendiam gitu?” tanya Pak Bos.
“Ah, tidak apa-apa Pak. Hanya ada sedikit masalah di keluarga.”
“Jangan dipendam sendiri begitu lah. Bilang saja ada masalah apa! Kamu kan bekerja di bengkel saya. Kalau Kamu kerjanya enjoy, kan saya juga jadi enak, montir-montir lain juga lebih senang melihatnya.”
“Anu Pak, begini… istri saya sedang hamil 8 bulan. Jadi mungkin beberapa hari atau minggu lagi dia akan melahirkan. Saya bingung mencari uang tambahan untuk biaya persalinannya Pak.”
“Din, Kamu itu kan udah cukup lama bekerja di bengkel saya. Jadi, jangan sungkan buat bilang! Baik, saya siapkan uang dulu ya. Lumayan untuk jaga-jaga, kalau-kalau nanti ada apa-apa dengan istri Kamu.”
“Tapi Pak…”
“Tapi kenapa?”
“Anu…”
“Sudahlah, anggap aja ini sebagai penghargaan atas pengabdian Kamu selama ini.”
“Tapi kan Bapak udah memberi saya gaji bulanan…”
“Iya, benar. Tapi selama ini kalau saya perhatiin, Kamu nggak sekedar bekerja. Kadang Kamu suka ngasih nasehat-nasehat buat montir-montir lain di sini, jadi tempat konsultasi, ngasih saran. Itu yang mau saya hargai.”
“Ah, saya insya Allah Ikhlas kok Pak! Nggak ngarep dikasih apa-apa.”
“Ya sudah, kalau begitu anggap aja ini pemberian.”
“Tapi Pak…”
“Kenapa? Nggak mau juga? Kalau begitu, anggap aja pinjaman.”
“Tapi Pak…”
“Sudah! Keadaan istri Kamu lebih penting.”
Setelah mengetahui seluk-beluk di balik kabar tentang Udin ini, akhirnya Pak Bos memberikan pinjaman uang Rp. 2.000.000,- untuk biaya persalinan istrinya Udin. Udin yang menerima pinjaman dari Pak Bos pun sumringah mendapatkan kabar baik ini lantaran beban yang selama ini menghantui pikirannya pun terkurangi. Begitulah Udin dengan raut yang penuh haru bahagia keluar dari ruangan Pak Bos. Pak Bos pun senang sembari berharap Udin akan kembali bekerja sebaik biasanya.
Hari telah sore. Matahari mulai tampak tenggelam di langit sebelah barat. Beberapa montir dan karyawan mulai berbenah, karena sebentar lagi bengkel akan tutup. Udin yang baru saja mendapat pinjaman uang dari Pak Bos masih tak mampu membendung kebahagiaan yang meluap di hatinya, sehingga wajahnya tampak cerah, ceria, penuh senyum.
Seperti biasa, sebelum pulang, Udin selalu mampir ke warteg dekat bengkel, membeli lauk pauk untuk dibawa ke rumah. Seperti biasa pula, Udin menyempatkan diri untuk ngobrol sejenak dengan beberapa temannya di warteg itu.
“Gimana kerjanya Mas? Lancar.” Sapa Parjo, teman sesama langganan di warteg.
“Alhamdulillah baik. Mas gimana?” Tanya Udin balik.
“Alhamdulillah, lancar. Cuma lagi lebih ngos-ngosan aja Mas.”
“Wah, ngos-ngosan kenapa Mas?”
“Iya nih Mas, lagi cari tambahan uang untuk biaya bersalin istri saya.”
“Wah, segera punya anak nih? Kapan?”
“Doain aja, moga lancar. Kata dokternya, insya Allah dalam waktu dekat ini. Sekarang istri saya lagi di rumah bersalin.”
“Lalu, sekarang?”
“Belum dapet.”
Udin yang menyadari keadaan Parjo pun mulai merenung, memikirkan keadaan istri Parjo yang ternyata lebih dekat dengan masa-masa melahirkan. Sama-sama sebagai suami dari seorang istri yang sedang mengandung, mereka sama-sama membutuhkan uang untuk biaya persalinan istrinya. Hanya saja, usia kehamilan istri Parjo lebih mendekati kematangan.
Ada keinginan untuk menolong teman, padahal tahu bahwa dirinya sendiri pun sedang membutuhkan. Begitulah Udin yang masih saja mencari-cari alasan untuk bisa membantu orang lain, terutama temannya.
“Mas Jo, bener Kamu lagi butuh uang?”
“Iya Mas.”
“Saya baru dapet pinjaman uang dari bos, ini juga untuk biaya persalinan istri saya. Tapi nanti, mungkin beberapa minggu lagi. Jadi, kalau Mas Jo mau, pakai dulu aja uangnya!”
“Beneran Mas?”
“Iya. Buat sekarang Mas Jo kayaknya lebih butuh.”
“Duh, makasih banget Mas. Entah gimana bisa ngebalas kebaikan Mas. Nanti pas gajian saya segera gantiin Mas.”
“Iya, Mas Jo. Sekarang keadaan istri Mas Jo lebih penting.”
Begitulah jawaban Udin seperti pesan dari Pak Bos. Udin yang baru saja mendapat pinjaman uang dari Pak Bos akhirnya merelakan uang tersebut untuk beberapa saat demi menolong temannya yang sedang membutuhkan. “Ah, sudah lah. Anggap aja beramal. Ya Allah, hamba titipkan uang itu pada-Mu, hamba titipkan uang ini di jalan-Mu…” lirih Udin dalam hati.
Segepok uang yang baru saja Udin dapat tadi sepulang kantor pun dibawa oleh Parjo ke rumah bersalin. Sore itu pun, Udin menghela nafas panjang sambil berharap semoga saja uang itu benar-benar bisa menolong Parjo, dan kembali pada waktunya saat nanti dibutuhkan untuk biaya persalinan istri. Lalu, seperti biasa, Udin pulang dengan menggunakan angkot.
Saat dalam perjalanan, terjadi peristiwa yang tak disangka-sangka, juga tentunya tak diinginkan. Tak ada orang yang mengharap untuk dirampok dan dirampas semua hartanya. Namun apa mau dikata, terjadi perampokan di angkot yang ditumpangi oleh Udin. Harta para penumpang dirampok habis, hanya ponsel Udin yang selamat dari perampasan.
“Alah, hape butut! Kagak laku dijual…” begitulah kata salah seorang perampok. Sore yang naas. Tampaknya itulah ungkapan yang tepat bagi para penumpang angkot tersebut di sore ini. Tak ada yang tersisa selain barang-barang yang dianggap tidak begitu berharga.
Entah apa jadinya bila Udin masih membawa segepok uang pinjaman dari Pak Bos?
***
Beberapa hari kemudian, Parjo mendatangi rumah Udin untuk mengembalikan uang yang tempo hari Parjo pinjam untuk biaya persalinan istrinya. Hanya beberapa hari semenjak Parjo diberi pinjaman oleh Udin. “Ada proyek penelitian.” Itulah alasan Parjo. Apapun alasannya, yang jelas bagi Udin adalah kembalinya uang yang dia pinjamkan pada Parjo itu. Sesuai dengan yang diharapkan, uang pinjaman itu pun bisa dipergunakan tepat waktunya untuk persalinan istrinya Udin.
Seandainya saja uang itu tidak dipinjamkan kepada Parjo, mungkin nasib Udin beserta keluarganya akan berbeda. Seandainya saja tak ada niat untuk menolong sesama hamba-Nya, mungkin Allah tak akan menjaga ‘titipan’ untuk biaya persalinan istrinya.
Maha Penyayang Allah dengan segala kehendak dan rencananya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19275/saat-allah-menjaga-titipan-hamba-nya/#ixzz1pAGPtKmK

Aku Akan Menuju Surga

Aku Akan Menuju Surga

23/12/2006 | 02 Dhul-Hijjah 1427 H | Hits: 9.333
Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi
Kirim Print
dakwatuna.com – Duduknya gelisah! Sesekali wajahnya di arahkan ke langit! Beberapa hari belakangan ini pemuda dari kabilah Aslam itu selalu termenung sendirian. Agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda dengan tubuh atletis, kuat, gagah, dan penuh enerjik itu belum dapat jawaban tentang pertanyaan yang selalu menggelayuti pikirannya. Tentang satu keinginan yang tidak lumrah di usianya yang terbilang masih belia. Keinginannya untuk hadir di barisan para mujahid fi sabilillah. Hanya itu! Ya…hanya itu. Di kepalanya hanya tersembul satu pertanyaan,”Adakah jalan yang lebih afdhal dan lebih mulia dari jihad fisabilillah?” Rasa-rasanya tak ada. Sebab itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat suci untuk mencari restu dan ridha Allah.
“Demi Allah, inilah satu kesempatan yang sangat baik”, kata hati pemuda itu. Ya….sebab di sana, serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju medan jihad fisabilillah. Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat. Semuanya menampakkan wajah senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal datang, berpantang mati. Maut akan datang dimanapun kita berada, yakin bahwa umur itu satu. Kapankah sampai batasnya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Bagaimana sebab dan kejadiannya? Takdir Allahlah yang menentukan. Maut, adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Dia pasti datang menjemput manusia. Entah di saat sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin ketika dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi di suatu tempat, di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, atau di medan peperangan. Bahkan bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas tempat tidurnya. Semua itu hanya Allah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya. Menunggu kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak? Hanya sendiri ini yang dapat dibawa menghadap Penguasa yang Esa kelak. Medan juang fisabillah tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho Allah semata. Mereka yang berjiwa suci di tengah-tengah tubuh yang perkasa. Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih.
Memang, saat itu keberanian telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad fisabilillah merupakan harapan dan tujuan mereka. Mereka yakin di balik hiruk-pikuknya peperangan, Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagai noda. Baik noda-noda aqidah, niat-niat jahat, perbuatan ataupun kekotoran muamalah yang lain. Pengorbanan mereka di medan jihad menunjukkan keluhuran budi. Semua sesuai dengan seruan Allah ’mukhlishiina lahudiini’ hanya untuk Allah semata. Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercusuar yang menerangi dunia dan isi alam semesta.
Itulah renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah kepada diri sendiri. “Harus! Harus dan mesti aku berbuat sesuatu. Janganlah kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hambatan dan penghalang mencapai tujuanku.” Mantap, penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin. Usia pemuda itu relatif masih muda, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauanya keras, ketangkasan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitannya di medan juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuang? Sebabnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan apapun yang dapat dipakainya berperang karena kemiskinan dan kefakirannya. Sebab pikirnya, tidak mungkin terjun ke medan jihad tanpa berbekal apapun. Tanpa senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jangankan berperang, untuk menyelamatkan diri saja, tidak mampu.
Inilah daftar pertanyaan panjang yang selalu menjadikan pemuda itu tak henti berpikir. Otaknya selalu disibukkan dengan satu lintasan, satu pertanyaan, bagaimana saya dapat berlaga di medan jihad? Setelah tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah saw. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar. Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidak mengangankan apapun dari keikutsertaannya di medan perjuangan. Dikatakannya kepada Rasulullah saw, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah. Dia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah.
Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: “Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?” “Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!” Jawab pemuda itu. “Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu”, Tanya Rasulullah saw kemudian. “Saya tidak mempunyai perbekalan apapun untuk persiapan perjuangan itu ya Rasulullah”, Jawab pemuda tersebut terus terang. Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara di sana banyak kaum munafiqin yang hatinya takut dan gentar apabila mendengar panggilan untuk berjihad fisabilillah.
Demi Allah! Jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki. Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dalam ajaran agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan menghancurkan apa saja.
Celakalah mereka yang besar dan berbadan tegap namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya. Kebanggaanlah bagimu hai pemuda! Semoga Allah banyak menciptakan manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan menjunjung tinggi izzul Islam wal muslimin, dengan akhlak yang mulia menuju li’illai kalimatillah. Benar, kaum muslimin sangat mendambakan para jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnyalah pemuda seperti dari kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk melaksanakan hasratnya ke medan jihad. Rasulullah saw akhirnya berkata kepada pemuda p tersebut: “Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan peralatan perang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya.” Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukkan Rasulullah saw tadi. Katanya kepada si Fulan: “Rasulullah saw menyampaikan salam padamu dan juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku.” Orang yang tidak jadi berperang itu dengan penuh hormat merespon perintah Rasulullah saw sambil mengucapkan: “Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah saw.” Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semuanya pada pemuda kabilah Aslam tadi. Sambil mengucapkan terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: “Terima kasih yang sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala yang besar dari Allah yang tiada tara.
Terima kasih………Terima kasih.” Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Raut wajahnya menyiratkan kegembiraan yang luar biasa. Dengan berlari-lari dia meningalkan rumah orang tersebut.
Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah seorang temannya yang terheran-heran dengan ekspresi kegembiraan pemuda tadi. Kemudian temannya bertanya: “Hai, hendak kemana kau?”, “Aku akan menuju jannatil firdaus yang seluas langit dan bumi”, Jawab pemuda itu singkat, mantap penuh keyakinan. []

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2006/12/27/aku-akan-menuju-surga/#ixzz1pAFtJfOj

90 Langkah Menuju Mushalla

90 Langkah Menuju Mushalla

26/10/2011 | 29 Dhul-Qadah 1432 H | Hits: 4.058
Oleh: Abi Sabila
Kirim Print
Ilustrasi - Sebuah mushalla (rizakasela.wordpress.com)
dakwatuna.com - Lelaki istimewa itu bernama Didi. Aku biasa memanggilnya Pak Didi. Usianya kini sudah berkepala enam. Aku mengenal beliau sudah sekitar tiga tahun, semenjak aktif menjadi jamaah di mushalla Baiturrohim. Beliau tinggal bersama keluarganya di RT 04 tak jauh dari mushalla, sedang aku tinggal di RT 02. Secara pribadi, aku memang tidak tahu banyak tentang beliau, namun di mataku beliau adalah sosok yang luar biasa. Salah satu ‘keistimewaan’nya telah memberiku semangat sekaligus menyadarkanku akan besarnya nikmat yang telah Allah berikan.
Pertama, beliau ini aktif shalat berjamaah di mushalla Baiturrohiim. Beliau selalu menempati tempat yang tetap, di shaft pertama ujung sebelah kiri. Kedua, beliau selalu menjadi jamaah yang pertama hadir untuk shalat Subuh. Suara merdunyalah yang pertama kali terdengar melantunkan shalawat dari pengeras suara mushalla yang terletak di sisi jalan yang memisahkan RT 02 dan RT 04 ini. Dan beliaulah yang lebih sering mengumandangkan azan subuh, baru kemudian yang lain datang, termasuk aku. Hanya ituTidak! Pak Didi terasa lebih istimewa, karena beliau kini hanya memiliki empat indera.
Kecelakaan kerja beberapa tahun silam telah membuat indera penglihatan pak Didi tidak berfungsi lagi. Secara fisik, mata beliau tidak mengalami cacat, hanya saja keduanya kini sudah tidak bisa melihat sama sekali. Jika pak Didi selalu menempati tempat favoritnya di shaft pertama sebelah kiri, ini wajar sebab beliau selalu datang dari pintu sebelah kiri, kemudian menyusuri tembok dan akan berhenti ketika tangannya sudah menyentuh tembok depan. Semua jamaah mushalla sudah tahu akan hal itu, dan tak pernah ada yang mencoba menempati tempat ‘eksklusif’ Pak Didi.
Saat datang untuk shalat Maghrib, aku sering melihat Pak Didi diantar oleh cucu laki-laki dan sesekali oleh cucu perempuannya yang baru berusia belasan tahun. Usai shalat Maghrib, pak Didi lebih sering tetap berada di tempatnya, berdzikir dan mendengarkan jamaah lain mengaji. Usai shalat Isya, biasanya sang istri sudah menunggu di depan pintu mushalla.
Lalu, bagaimana cara beliau mendatangi mushalla untuk shalat subuh ketika belum satu pun jamaah lainnya hadir di mushalla ini? Aku tak pernah tahu. Setiap aku tiba di mushalla, beliau sudah datang lebih dulu. Justru, seringnya lantunan shalawat beliaulah yang membangunkanku. Setiap kali aku mencoba untuk datang lebih awal, selalu saja beliau sudah lebih dulu berada di dalam mushalla.
Aku makin penasaran. Sampai akhirnya, suatu saat aku mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada beliau, siapa yang mengantarnya ke mushalla, membangunkan warga sekitar untuk shalat subuh berjamaah. Diantar cucunya yang masih kecil itukah, atau diantar istrinya yang setia?
Aku terkejut mendengar jawaban pak Didi.
Selama ini, untuk shalat subuh saya lebih sering datang ke mushalla sendiri, tanpa diantar cucu atau istri. Bukannya mereka tidak mau, tapi memang mau saya begitu. Sebelum subuh, jalanan masih sepi, jadi saya tidak khawatir berpapasan dengan orang-orang yang lalu lalang
Pak Didi tidak takut nabrak, terpeleset atau……..maaf, nyasar misalnya?” dengan hati-hati aku bertanya, takut beliau tersinggung.
Insya Allah tidak. Saya sudah mempunyai hitungan sendiri “ beliau menjawab dengan tenang, tanpa menunjukkan rasa tersinggung sedikit pun atas pertanyaanku.
“ Maksudnya, hitungan bagaimana Pak?” aku makin penasaran.
Kemudian dengan gamblang beliau menjelaskan ‘rumus’ yang dimilikinya untuk bisa sampai ke mushalla ini tanpa nabrak ataupun khawatir terpeleset ke dalam selokan yang berada di sisi jalan. Dengan bantuan tongkat kecilnya, beliau berangkat dari rumah sendiri ketika orang-orang ( termasuk aku ) masih lelap dalam tidur. Beliau berjalan dengan mengandalkan ingatan mengenai jalan menuju mushalla. ( Kebutaan yang dialami pak Didi memang bukan sejak lahir, tapi karena kecelakaan, jadi beliau masih memiliki gambaran tentang jalan dan juga rumah-rumah yang ada di sepanjang jalan menuju mushalla.).
Pertama, beliau keluar rumah dan berjalan lurus kurang lebih 10 langkah. Sampai di jalan kecil ber-konblok, beliau belok kiri dan melangkah sekitar 15 langkah. Dengan bantuan tongkatnya, beliau akan memastikan tembok rumah tetangganya, dimana dia harus belok kanan dan melangkah lagi sekitar 10 langkah. Saat berada di jalan ini, tangan kiri beliau akan meraba tembok rumah tersebut, hingga sampai di ujung. Kemudian beliau akan belok kiri dan berjalan lurus kurang lebih 28 langkah. Setelah itu beliau akan berbelok kearah kanan, maju 10 langkah dan mencoba memastikan keberadaan tembok mushalla dengan tongkat kecilnya. Setelah berhasil menemukan tembok mushalla, beliau kemudian akan terus maju hingga kurang lebih 17 langkah sampai beliau bisa menyentuh pintu mushalla.
Begitulah, setiap pagi di saat orang-orang masih banyak yang terlelap, pak Didi sudah lebih dulu datang ke mushalla dengan ‘meraba’ jalanan yang gelap. Gelap, benar-benar gelap, bukan karena tak ada lampu tapi karena beliau sudah tak bisa menangkap apapun dengan indera penglihatannya. Aku sering mendapati buktinya. Ketika tiba di mushalla, keadaan masih gelap, tak ada lampu yang menyala, padahal pak Didi sudah berada di dalamnya melantunkan shalawat atau mengumandangkan adzan. Dan jika ia mampu menggunakan pengeras suara untuk membangunkan warga dengan shalawat dan azan, itu juga ia lakukan dengan cara meraba. Subhanallah!
Aku tertegun mendengar cerita Pak Didi. Aku merasa malu, malu dengan diriku sendiri,. Allah telah memberiku anugerah yang sangat besar. Kelima inderaku semua berfungsi dengan sempurna, namun sering kuanggap biasa-biasa saja. Syukur itu seringkali hanya menjadi ucapan bibir semata. Sementara pak Didi, istiqamah mendatangi jamaah shalat subuh dengan susah payah, bahkan selalu hadir lebih awal, dalam kegelapan yang sebenarnya. Pak Didi mampu mewujudkan syukur itu dalam tindakan nyata. Kebutaan, kegelapan yang kini beliau rasakan, mampu beliau terima sebagai sebuah kenikmatan.
Terima kasih pak Didi. Kisahmu membukakan pintu hidayah bagiku. Ceritamu memberikan semangat untuk selalu datang ke mushalla, shalat berjamaah meskipun aku belum bisa mengalahkanmu, karena engkau selalu datang lebih dulu.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15677/90-langkah-menuju-mushalla/#ixzz1pAFOj9b4